<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Puisi-Esai.com</title>
	<atom:link href="http://puisi-esai.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://puisi-esai.com</link>
	<description>Sebuah Puisi Esai Denny JA</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Mar 2013 02:41:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>1. “Indonesia Tanpa Diskriminasi” Peroleh Democracy Award</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/03/22/indonesia-tanpa-diskriminasi-peroleh-democracy-award/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/03/22/indonesia-tanpa-diskriminasi-peroleh-democracy-award/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Mar 2013 02:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[New]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2156</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Media Indonesia hal. 2 &#8211; Jum&#8217;at, 22 Maret 2013 Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD) yang dipelopori Denny JA mulai menuai simpati dan apresiasi. Sebuah institusi yang bergerak dibidang pemberitaan nasional, Rakyat Merdeka Online (RMOL), Rabu malam (20/3) lalu mengganjar gerakan tersebut dengan sebuah penghargaan berupa Democracy Award. Hadir sejumlah tokoh penting yang juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Download PDF Berita Media Indonesia" href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/03/MI-22032013.pdf" target="_blank">Sumber : Media Indonesia hal. 2 &#8211; Jum&#8217;at, 22 Maret 2013</a></p>
<p><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/03/DennyJA-RM-Award-2013.jpg"><img class="wp-image-2157 alignnone" title="DennyJA-RM-Award-2013" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/03/DennyJA-RM-Award-2013-300x225.jpg" alt="" width="371" height="227" /></a></p>
<p>Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD) yang dipelopori Denny JA mulai menuai simpati dan apresiasi. Sebuah institusi yang bergerak dibidang pemberitaan nasional, Rakyat Merdeka Online (RMOL), Rabu malam (20/3) lalu mengganjar gerakan tersebut dengan sebuah penghargaan berupa <em>Democracy Award.</em></p>
<p>Hadir sejumlah tokoh penting yang juga menerima penghargaan tersebut adalah tokoh senior PDIP yang juga Ketua MPR, Taufik Kiemas dan  istri mendiang Abdurrahman wahid, Sinta Nuriyah Wahid untuk kategori penghargaan <em> Lifetime Achievment Award</em>. Tokoh penting lainnya adalah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, pakar hukum tata negara Prof. Yusril Ihza Mahendra, ekonom DR. Rizal Ramli, tokoh media Surya Paloh, dan Ketua KPU Husni Kamil, masing-masing menerima penghargaan <em>Democracy Award. </em><em></em></p>
<p><em> </em>Menurut Pemimpin Umum RMOL, Teguh Santosa,  pemberian penghargaan oleh media berbasis internet dibawah payung Rakyat Merdeka Group ini rutin dilakukan setiap tahun kepada sejumlah tokoh yang dinilai berperan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kali ini, kegiatan terhormat itu dikemas dalam Malam Budaya Rakyat Merdeka 2013 bertajuk “Beri Daku SUMBA”. Tema tersebut diambil dari salah satu judul puisi penyair besar Taufik Ismail.</p>
<p>Salah satu penerima penghargaan untuk kategori <em>Democracy Award</em>, Denny JA PhD yang kebetulan tak hadir karena sakit, mengaku senang atas pemberiaan penghargaan tersebut. Walaupun, menurut Denny, sebenarnya ada yang lebih pantas menerima penghargaan ini. Sebab, apa yang dilakukannya dengan gerakan ITD ini hanyalah bagian kecil dari gerakan yang juga dilakukan elemen masyarakat lain.</p>
<p>“Mungkin saya hanya ini menguatkan sekaligus menyegarkan dan menyadarkan kembali betapa penting dan mendesaknya sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa diskriminasi. Sebab, inilah salah satu saripati dari demokrasi. Melalui gerakan ini saya ingin merawat semangat itu agar tetap tumbuh dan hidup di negeri ini. Dan untuk itu, kita tak boleh berhenti bermimpi tentang Indonesia tanpa diskriminasi,” ungkapnya saat dihubungi melalui telepon.</p>
<p>Selain karena gerakan ITD yang dipeloporinya sejak tahun 2012 lalu, Denny JA juga dinilai RMOL pantas menerima penghargaan itu karena kontribusinya yang cukup besar dalam menghidupkan tradisi survei opini publik dan konsultan politik di tanah air. Tepatnya sejak dia kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Amerika Serikat dengan mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2004 lalu.</p>
<p>“Adalah fakta, sejak mas Denny mendirikan LSI dan selalu terlibat dalam ajang berbagai pertarungan politik baik di Pilkada, Pileg maupun Pilpres, sejumlah lembaga survei lain ikut tumbuh subur mengikuti jejak LSI. Sehingga, sekarang ini survei telah menjadi instrumen penting dalam pertarungan politik, khususnya untuk kepentingan menyusun strategi pemenangan,” ujar Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang mewakili Denny JA menerima penghargaan tersebut.</p>
<p>Menurut Toto, pemberian penghargaan itu memang pantas diterima Denny JA baik dalam kapasitas sebagai pelopor konsultan politik, survei opini publik maupun sebagai penggerak Indonesia Tanpa Diskriminasi. “  Demokrasi itu bukan sesuatu yang begitu saja datang dari langit. Demokrasi menuntut perjuangan dan pengorbanan. Dan apa yang dilakukan seorang  Denny JA mempelopori gerakan ITD ini adalah sebuah perjuangan, pengorbanan sekaligus keberanian. Dia  berani memilih isu yang tak populer melalui gerakan ini karena ia sadar dan yakin terhadap pentingnya gerakan ini,” tegas Toto.</p>
<p>Tema Indonesia Tanpa Diskriminasi ini dimulai dari sebuah renungan mendalam Denny JA yang melahirkan sebuah karya puisi esai berjudul <em>Atas Nama Cinta</em>. Dari puisi esai itulah berkembang sebuah gerakan demokrasi yang  diekspresikan ke dalam aneka wahana seni seperti : film, teater, lagu, lukisan, foto dan flashmob. <strong>(TIF).</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/03/22/indonesia-tanpa-diskriminasi-peroleh-democracy-award/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2. Isu Diskriminasi, Dari Puisi Esai ke Pidato SBY</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/02/22/isu-diskriminasi-dari-puisi-esai-ke-pidato-sby/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/02/22/isu-diskriminasi-dari-puisi-esai-ke-pidato-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 02:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[New]]></category>
		<category><![CDATA["Puisi Esai"]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Puisi Esai ke Pidato SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Diskriminasi Dari Puisi Esai ke Pidato SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Leon Agusta]]></category>
		<category><![CDATA[Media Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tedjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2139</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Media Indonesia hal.5 &#8211; Jum&#8217;at, 22 Februari 2013 &#160; Musikalisasi Puisi: Budayawan &#38; Seniman Sujiwo Tedjo saat tampil dalam musikalisasi puisi esai Protes sosial tidak harus diekspresikan melalui demo di jalan, atau menduduki gedung parlemen.  Protes juga bisa dieskpresikan melalui aneka karya budaya. Ini memang fenomena yang jarang terjadi. Tapi, itulah yang dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Download PDF Media Indonesia - 22 Feb 2013" href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/02/MediaIndonesia-220213.pdf" target="_blank">Sumber : Media Indonesia hal.5 &#8211; Jum&#8217;at, 22 Februari 2013</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">
<dl id="attachment_2140" class="wp-caption alignleft" style="width: 189px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/02/4.jpg"><img class=" wp-image-2140 " title="Sujiwo Tejo" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/02/4-199x300.jpg" alt="" width="179" height="180" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Musikalisasi Puisi: Budayawan &amp; Seniman Sujiwo Tedjo saat tampil dalam musikalisasi puisi esai</dd>
</dl>
</div>
<p>Protes sosial tidak harus diekspresikan melalui demo di jalan, atau menduduki gedung parlemen.  Protes juga bisa dieskpresikan melalui aneka karya budaya. Ini memang fenomena yang jarang terjadi. Tapi, itulah yang dilakukan para komunitas budayawan di Hotel Haris, Jakarta, Kamis (22/2) kemarin.</p>
<p>Adalah Jurnal Sajak menjadi tuan rumah acara budaya yang diikhtiarkan setiap tahun ini.  Kegiatan berjudul resmi: “Puisi Esai Untuk Indonesia: Pidato Kebudayaan 2013 dan Peluncuran delapan buku puisi esai” ini menampilkan budayawan kondang, Leon Agusta yang membacakan pidato “Kebudayaan Politik Demokrasi Tanpa Budaya Demokrasi.”</p>
<p>Ini memang cuplikan yang langka. Sebuah acara komunitas budayawan menampilkan pidato politik pemimpin partai seperti  SBY. Seperti diketahui, minggu lalu SBY berpidato, antara lain,  berbunyi: “Dalam menjalankan tugas dan pengabdian saya, utamanya dalam melayani, mensejahterakan masyarakat, saya akan senantiasa adil dan bekerja untuk semua dan tidak akan pernah menjalankan kebijakan yang diskriminatif, oleh perbedaan agama, etnik, suku, gender, daerah, posisi politik dan perbedaan identitas yang lain”.</p>
<p>Bagi komunitas ini, pidato SBY itu adalah buah dan hasil kongkret perjuangan mereka mengampanyekan “Indonesia Tanpa Diskriminasi.” Pidato SBY mereka anggap kemenangan gagasan “Indonesia Tanpa Diskriminasi” yang ikut mereka lahirkan.</p>
<p>“Semoga saja Presiden SBY konsiten. Pidato SBY mengenai pakta integritas partai Demokrat yang juga menyuarakan “Indonesia Tanpa Diskriminasi” tidak berhenti hanya untuk pencitraan. Apalagi jika langkah maju ini diikuti oleh partai lain dan menjadi platform politik kebijakan publik dan budaya demokrasi Indonesia. Saat itulah gerakan puisi esai untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi ini memperoleh mimpinya,” ujar Ketua Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar kepada wartawan di tengah-tengah acara tersebut.</p>
<p>Novri berpendapat, jarang terjadi, sebuah puisi mengawali kampanye isu sosial. Sumber dari kampanye Indonesia Tanpa Diskriminasi adalah sebuah puisi esai. Tema Indonesia Tanpa Diskriminasi yang dibawa oleh puisi esai Denny JA juga sudah diekspresikan ke dalam aneka wahana seni lain: film, teater, lagu, lukisan, foto dan flashmob. Gerakan ini melibatkan begitu banyak “dewa” sastra, teater dan film. Antara lain: Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Zamawi Imron, Leon Agusta, Putu Wijaya dan Hanung Bramantyo. Buku puisi esai Denny JA: Atas Nama Cinta dicatat dalam rekor MURI sebagai buku yang diekspresikan dalam wahana seni paling banyak</p>
<p>Selain pidato kebudayaan, ada juga  musikalisasi puisi ala Sudjiwo Tedjo. Adapun delapan buku puisi esai yang diluncurkan itu digarap oleh pengarang yang berbeda, namun isinya diikat oleh spirit yang sama; memotret  aneka isu sosial tentang semangat antidiskriminasi.</p>
<p>Tapi, menurut Novri, menu utama acara ini memperkenalkan puisi esai sebagai genre baru untuk mengeskpresikan isu sosial. Kelahiran puisi esai diilhami oleh tulisan John Barr yang mengatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi mengalami stagnasi selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi.</p>
<p>Menurut John Barr, para penyair asyik dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dengan  persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat luas.</p>
<p>Denny JA melahirkan<strong> </strong>puisi esai untuk pertama kali merespon kritik John Barr atas puisi<strong>.</strong>  Ini puisi panjang berbabak yang ditulis berdasarkan fakta peristiwa tertentu. Sebagai karya sastra, puisi esai merupakan karangan fiksi. Fiksi dan fakta di dalam puisi esai dipisahkan oleh catatan kaki. Unsur cerita (fiksi) terdapat di dalam tubuh puisi esai, dan unsur fakta yang dirujuk oleh cerita itu terdapat di dalam catatan kaki. Penulisan puisi esai menyerupai penulisan cerita pendek (cerpen). Bahasa yang digunakannya adalah bahasa komunikasi sehari-hari sehingga pesan yang disampaikan terbaca apa adanya.</p>
<p><em>Kini puisi esai itu sudah beranak pianak menjadi delapan buku yang dilaunching dalam acara ini. Kedelapan buku tersebut adalah:  Kutunggu Kamu Di Cisadane ( Ahmad Gaus).  Manusia Gerobak( Elza Peldi Taher).  Mata Luka Sengkon-Karta (Antologi),  Dari Rangin ke Telpon(Antologi),  Dari Singkawang ke Sampit (antologi),  Mawar Airmata,(antologi). </em><em> Penari Cinta Anak Koruptor(antologi)</em><em>, dan Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia.  Buku ini merupakan bunga rampai yang memuat tulisan-tulisan seputar puisi esai.</em>   <strong>(TIF).</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/02/22/isu-diskriminasi-dari-puisi-esai-ke-pidato-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3. ‘Indonesia Tanpa Diskriminasi’ dalam Pakta Integritas Demokrat</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/02/14/1-indonesia-tanpa-diskriminasi-dalam-pakta-integritas-demokrat/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/02/14/1-indonesia-tanpa-diskriminasi-dalam-pakta-integritas-demokrat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2013 02:37:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[New]]></category>
		<category><![CDATA["Indonesia Tanpa Diskriminasi"]]></category>
		<category><![CDATA["Puisi Esai"]]></category>
		<category><![CDATA[Anas]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrat]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pakta Integritas]]></category>
		<category><![CDATA[Rekor Muri Denny JA]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Denny JA]]></category>
		<category><![CDATA[‘Indonesia Tanpa Diskriminasi’ dalam Pakta Integritas Demokrat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2115</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Media Indonesia hal.4 -  Kamis, 14 Februari 2013 Point 2 dari 10 butir Pakta Integritas Partai Demokrat menyebutkan: “Dalam menjalankan tugas dan pengabdian saya, utamanya dalam melayani, mensejahterakan masyarakat, saya akan senantiasa adil dan bekerja untuk semua dan tidak akan pernah menjalankan kebijakan yang diskriminatif, oleh perbedaan agama, etnik, suku, gender, daerah, posisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Download Media Indonesia - 14 Feb 2013" href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/02/MediaIndonesia-140213.pdf" target="_blank"><strong>Sumber : Media Indonesia hal.4 -  Kamis, 14 Februari 2013</strong></a></p>
<p>Point 2 dari 10 butir Pakta Integritas Partai Demokrat menyebutkan: “Dalam menjalankan tugas dan pengabdian saya, utamanya dalam melayani, mensejahterakan masyarakat, saya akan senantiasa adil dan bekerja untuk semua dan tidak akan pernah menjalankan kebijakan yang diskriminatif, oleh perbedaan agama, etnik, suku, gender, daerah, posisi politik dan perbedaan identitas yang lain”.</p>
<p>Pakta integritas Demokrat tidak hanya disambut baik oleh public, tapi juga oleh Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Yayasan ini mengucapkan Marhaban.</p>
<p>Demikian disampaikan Novriantoni Kahar, Direktur Yayasan Dennya JA untuk Indonesia tanpa Diskriminasi kepada pers di Jakarta, Rabu (13/2). &#8220;Terlepas dari kontroversi tentang konteks keluarnya yang terkait dengan kekisruhan internal Partai Demokrat,  kita melihat Pakta Integritas yang telah mengadopsi isu anti diskriminasi, terutama poin 2 dan 3, sudah sangat sesuai dengan visi dan misi Yayasan Denny JA untuk Indonesia tanpa Diskriminasi,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Sebelumnya (10/02), pendiri sekaligus donatur Yayasan, Denny Januar Ali, melalui akun twitternya @DennyJA_World telah lebih dulu mengucapkan selamat kepada butir-butir Pakta Integritas yang memuat unsur nondiskriminasi. &#8220;Pakta Integritas Demokrat sejalan dengan ‘Indonesia Tanpa Diskriminasi’, tidak mendiskriminasi warga, apapun identitas sosialnya. Bravo!&#8221; tulis pakar survei dan konsultan politik pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu.</p>
<p><strong>Hasil Survei</strong></p>
<p>Sehari kemudian, Denny JA lebih jauh menyatakan bahwa diadopsinya prinsip &#8220;Indonesia Tanpa Diskriminasi&#8221; yang selama ini menjadi syiar Yayasan Denny JA di dalam Pakta Integritas adalah sebuah kemajuan politik. Sebab, akhir tahun lalu (23 Desember 2012), Yayasan Denny JA dan LSI Community baru mengeluarkan survei tentang rendahnya kepercayaan publik Indonesia terhadap komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menjaga keragaman Indonesia, baik keragaman ideologi maupun keragaman primordial seperti agama dan suku-bangsa.</p>
<p>Hanya mantan Presiden Sukarno dan Abdurrahman Wahid yang dinilai publik Indonesia sebagai presiden Indonesia yang punya rekam jejak baik dalam soal komitmen dan legasinya dalam menjaga keragaman ideologi dan primordial di Indonesia. “Terlepas apakah Pakta Integritas merespon rilis survei Yayasan Denny JA secara langsung atau tidak langsung, kami percaya bahwa setiap dokumen penting ke-Indonesia-an haruslah memuat prinsip-prinsip nondiskriminasi dan penegasan untuk menjaga keragaman Indonesia,” tandas Novriantoni Kahar.</p>
<p>Novriantoni menambahkan,  keluarnya Pakta Integritas ini, di atas kertas setidaknya telah menunjukkan bahwa Presiden SBY menyimak dan merespons kritik-kritik terhadap diri maupun kepemimpinannya secara positif. “Kami berharap, Pakta Integritas tidak hanya dipandang sebagai bagian dari intrik politik Majelis Tinggi untuk mengatasi kemelut internal Partai Demokrat, tapi juga merupakan visi ke depan semua partai besar yang ingin berkuasa di bumi Indonesia,” tegasnya.</p>
<p>Terlepas dari fungsi dan kegunaan Pakta Integritas itu saat ini di lingkungan internal Partai Demokrat, Direktur Yayasan Denny JA itu merasa bahagia bahwa kerja-kerja kebudayaan yang kini sedang diusung Yayasan Denny JA demi mengukuhkan spirit Indonesia Tanpa Diskriminasi kini bergaung dan bergema di lingkungan partai politik.</p>
<p>Peneliti dari LSI Community, Adjie Alfarabi juga menyambut baik diadopsinya isu penting soal antidiskriminasi tersebut dalam Pakta Integritas Partai Demokrat. “Dari survei-survei yang kami lakukan, kita tahu bahwa isu keragaman dan anti-diskriminasi ini sesungguhnya cukup kuat berakar di masyarakat Indonesia yang majemuk. Jadi tinggal menunggu waktu saja agar spirit ini dipertimbangkan dan diadopsi partai politik ke dalam bagian dari strategi kampanye mereka.” jelas Adjie.</p>
<p><strong>Rekor MURI</strong></p>
<p>Sejak Oktober 2012 lalu, Yayasan Denny JA telah menyelenggarakan serangkaian acara bertajuk Pekan Indonesia Tanpa Diskriminasi untuk menggugah kesadaran publik Indonesia tentang pentingnya isu ini. Dimulai dengan menerbitkan Buku berjudul “Atas Nama Cinta”. Buku puisi esai Denny JA ini dicatat Rekor Indonesia (MURI) sebagai buku yang diekspersikan ke dalam paling banyak medium seni (film, teater, lagu, foto, lukisan, tarian/flashmob dan social movement). (TIF)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/02/14/1-indonesia-tanpa-diskriminasi-dalam-pakta-integritas-demokrat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEATER “MONOPLAY” Jangan Panggil Aku China</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/01/31/teater-monoplay-jangan-panggil-aku-china/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/01/31/teater-monoplay-jangan-panggil-aku-china/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2013 04:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Kompas hal.12 , Kamis, 31 Januari 2013 &#160; Pentas teater gaya monoplay oleh kelompok Dapoer Seni Jogja di Taman Budaya, Jumat malam pekan lalu, seperti mendramatisasikan kisah nyata yang membawa derita warga China dalam peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta. Sebuah kilas balik peristiwa yang masih hangat dalam ingatan tentang tragedi yang merenggut kehormatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber : Kompas hal.12 , Kamis, 31 Januari 2013</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pentas teater gaya monoplay oleh kelompok Dapoer Seni Jogja di Taman Budaya, Jumat malam pekan lalu, seperti mendramatisasikan kisah nyata yang membawa derita warga China dalam peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta. Sebuah kilas balik peristiwa yang masih hangat dalam ingatan tentang tragedi yang merenggut kehormatan etnis China sebagai umat manusia, sebagai warga Negara Indonesia yang punya hak pengayoman sama.</p>
<p>Itu sebabnya pentas berjudul Sapu Tangan Fang Yin yang ditulis Indra Tranggono dan Denny JA tersebut lebih merupakan bentuk malam perenungan, sebuah intropeksi diri manusia terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Karena itu, meski tetap merupakan sebuah karya fiksi, realitas tragedi  itu tetap tergambar dari pentas ini.</p>
<p>“Jangan panggil aku China,” begitu teriak Fang Yin dalam kegundahan hatinya dalam pelarian diri ke Los Angeles. Teriakan ini lebih merupakan suara hati seorang Fang Yin yang diperankan oleh artis Olivia Zalianti yang tetap mencintai Indonesia. Ia mampu melupakan masa silam, meninggalkan Los Angeles, dan ingin membuka pintu untuk kembali ke Indonesia, ke Jakarta. Teriakan-teriakan ”… Buru China, kejar China, bunuh China….”  Bisa diatasi dengan kasih sayang sesama umat manusia.</p>
<p>Dalam pentas yang disutradarai Indra Tranggono, Isti Nugroho, dan Toto Rahardjo ini, dikisahkan Fang Yin adalah korban kerusuhan massa yang beringas. “Rasa sayangku kepada semua saudaraku,  kepada umat manusia, kepada Jakarta, kepada Indonesia, telah mengatasi puncak rasa sakitku,” begitu kata Fang Yin.</p>
<p>Mengangkat tema tragedi Jakarta 1998, menurut Indra merupakan bentuk partisipasi Kelompok teater Dapoer Seni Djogja. “Kami memberi nama teater solider, teater yang peduli dan terlibat dengan persoalan-persoalan publik, sekaligus memihak pembebasan manusia atas dehumanisasi,” katanya.</p>
<p><strong>Terikat alur</strong></p>
<p>Monoplay merupakan bentuk drama yang tidak mengandalkan kepiawaian aktor secara kolektif. Monoplay yang baru berkembang di Indonesia ini menampilkan kepiawaian setiap aktor yang muncul secara sendiri-sendiri, tetapi terikat oleh alur cerita. Tidak ada aktor utama, semua aktor menjadi pemeran utama. “Disini memang setiap aktor  diketengahkan dalam membangun karakter,”  kata Toto Rahardjo.</p>
<p>Lakon Sapu Tangan Fang Yin ini memang boleh dibilang sebagai naskah berat. Namun, aktor-aktor pendukung lakon itu boleh dibilang bisa mengampu peran secara maksimal.</p>
<p>Selain tokoh Fang Yin juga ada tokoh Zulkfikar, yang diperankan Joko Kamto, yang merupakan kekasih Fang Yin. Namun ketika kerusuhan terjadi, Zulfikar lelaki pribumi tidak bisa berbuat banyak. Ia bersembunyi dari peristiwa ganas itu. Namun bagi Fang Yin tetap merasakan kenangan indah bersama Zulfikar.</p>
<p>Tokoh Profesor Lee yang diperankan oleh Eko Winardi adalah konsultan psikolog Fang Yin yang prihatin terhadap penderitaan Fang Yin.</p>
<p>Tokoh Papi diperankan Bambang Sosiawan tidak setuju kalau Fang Yin menjadi warga Amerika. Dia juga menceritakan kakeknya yang bernama Sie Kok Liong yang memiliki gedung Kramat 106. Gedung itu punya sejarah yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. (<strong>Thomas Pudjo Widijanto</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/01/31/teater-monoplay-jangan-panggil-aku-china/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4. Sapu Tangan Fang Yin dalam Tragedi 1998</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/01/28/sapu-tangan-fang-yin-dalam-tragedi-1998/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/01/28/sapu-tangan-fang-yin-dalam-tragedi-1998/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 03:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[New]]></category>
		<category><![CDATA["Denny JA"]]></category>
		<category><![CDATA["Puisi Esai"]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Esai Di Media Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sapu Tangan Fang Yin]]></category>
		<category><![CDATA[Sapu Tangan Fang Yin dalam Tragedi 1998]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2083</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Media Indonesia Hal.11 &#8211; Minggu, 27 januari 2013 &#160; FANG Yin, seorang perempuan keturunan Tionghoa, dengan pakaian tipis dan gincu berlepotan tampak di sudut sebuah ruang. Dalam kesendirian wajahnya yang bergelayut ketakutan, ia memanggil keluarga dan kekasihnya, Zulﬁ kar. Zulﬁ kar adalah lelaki keturunan campuran Jawa-Padang. “Papi, Mami, Om Gow, Ling-ling, di mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sapu Tangan Fang Yin dalam Tragedi 1998 " href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/01/MediaIndonesia-270113.pdf">Sumber : Media Indonesia Hal.11 &#8211; Minggu, 27 januari 2013</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/01/Image-MI270113.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2084" title="Image-MI270113" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/01/Image-MI270113-300x142.jpg" alt="" width="430" height="200" /></a>FANG Yin, seorang perempuan keturunan Tionghoa, dengan pakaian tipis dan gincu berlepotan tampak di sudut sebuah ruang. Dalam kesendirian wajahnya yang bergelayut ketakutan, ia memanggil keluarga dan kekasihnya, Zulﬁ kar. Zulﬁ kar adalah lelaki keturunan campuran Jawa-Padang.</p>
<p>“Papi, Mami, Om Gow, Ling-ling, di mana kalian? Di mana kalian? Zulfikar, di mana kamu? Di mana kamu?” teriak Fang Yin. Semburat kepedihan dan trauma mendalam tampak di raut mukanya yang pucat.</p>
<p>Di tempat yang lain, Zulﬁ kar dengan penuh kecemasan dan ketakutan bersembunyi di balik reruntuhan tembok. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat kekasihnya itu diperkosa beramai-ramai. Zulﬁ kar memilih menyelamatkan dirinya sendiri.</p>
<p>Itulah penggalan kisah dalam salah satu adegan drama monoplay musikal Sapu Tangan Fang Yin yang dipentaskan di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, minggu lalu.</p>
<p>Berbalut kisah cinta antara Fang Yin dan Zulﬁ kar, drama ini seolah ingin menggugah kembali ingatan manusia Indonesia tentang tragedi Mei 1998.</p>
<p>Sebuah peristiwa pedih yang dialami warga keturunan Tionghoa saat pergantian rezim Orde Baru.</p>
<p>Memang, dalam huru-hara yang terjadi saat itu tidak hanya etnik Tiong hoa yang jadi korban kerusuhan.</p>
<p>Melalui narasi seorang dalang diungkapkan, berdasarkan data tim gabungan pencari fakta, 78 orang perempuan keturunan Tionghoa jadi korban pemerkosaan, dan 85 orang mengalami kekerasan seksual. Akibatnya, ada sekitar 70 ribu warga keturunan Tionghoa meninggalkan Indonesia pascakerusuhan Mei 1998.</p>
<p>Keluarga Fang Yin salah satunya.</p>
<p>Chaos yang terjadi kala itu mendorong keluarga Fang Yin meninggalkan Jakarta menuju Los Angeles, Amerika Serikat, untuk menghindari huruhara yang terjadi.</p>
<p>Di tengah dinginnya suhu Amerika dan luka jiwa yang dipendamnya, Fang Yin tumbuh menjadi pribadi yang soliter. Sikap mengutuk Jakarta dan membenci Indonesia pun tidak bisa dielakkan lagi muncul dalam jiwa Fang Yin yang terluka.</p>
<p>Di sisi lain, kisah cintanya dengan sang kekasih, Zulﬁ kar, pun kandas.</p>
<p>Kekasih tercinta yang diceritakan sebagai sosok yang rapuh, pragmatis, dan pengecut tersebut telah meninggalkannya serta menikah dengan</p>
<p>temannya, Rina.</p>
<p>Untuk membebaskan dirinya dari trauma masa lalu, Fang Yin pun membakar sapu tangan putih pemberian Zulﬁ kar. Sapu tangan itulah tanda mata yang mengikat cinta Fang Yin dan Zulﬁ kar dan dipakai untuk menghapus air matanya.</p>
<p>Di tengah trauma Fang Yin, keluarganya tak henti membantunya untuk berjuang terus menegakkan eksistensinya. Bersama seorang psikolog, Profesor Lee, mereka mendorong putri tercintanya itu untuk mengakhiri masa lalunya yang kelam, memasuki kehidupan baru yang penuh harapan dan kembali mencintai Indonesia.</p>
<p>Ingatkan kepedihan Menurut Olivia Zalianty, tema monoplay yang dilakoninya sangat pedih karena membangkitkan lagi ingatan tentang tragedi 1998 yang dialami oleh warga keturunan Tionghoa. Di sisi lain, ia juga harus memerankan tokoh utama itu yang terjebak dan mengalami diskriminasi dan perkosaan tragis. “Saya memerankan tokoh yang mengalami gangguan jiwa, trauma yang sangat dalam,“ ungkapnya.</p>
<p>Sebagai seorang yang juga masih memiliki darah keturunan Tionghoa, Olivia memang mengaku bisa dibilang dekat dengan sosok yang digambarkan. Untuk menciptakan katarsis tokoh yang diperankannya, ia pun memilih banyak membaca soal tragedi Mei dan melatih imajinasinya untuk menciptakan katarsis.</p>
<p>Monoplay Sapu Tangan Fang Yin merupakan salah satu dari teks drama yang diangkat dari lima puisi esai karya Denny JA, Atas Nama Cinta.</p>
<p>“Teks ini merupakan eksperimen yang menarik, ketika unsur ﬁ ksi dan fakta melebur dalam kisah,” papar Indra Tranggono yang bertindak selaku penulis naskah bersama Denny JA.</p>
<p>Toto Rahardjo, salah seorang sutradara, mengungkapkan pementasan drama ini sebagai salah satu upaya mewujudkan cita-cita membangun Indonesia yang plural. (AT/M-1)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/01/28/sapu-tangan-fang-yin-dalam-tragedi-1998/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1. Review Leon Agusta: Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai (Tanggapan untuk Maman S Mahayana)</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/01/13/1-mempersoalkan-legitimasi-puisi-esai/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/01/13/1-mempersoalkan-legitimasi-puisi-esai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2013 05:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Puisi Esai Denny JA]]></category>
		<category><![CDATA["Denny JA"]]></category>
		<category><![CDATA["Puisi Esai"]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ignas Kleden]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Leon Agusta]]></category>
		<category><![CDATA[Leon Agusta: Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Maman S Mahayana]]></category>
		<category><![CDATA[Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Rendra]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Joko Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sutarji Calzoum Bachri]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggapan untuk Maman S Mahayana]]></category>
		<category><![CDATA[Toeti Heraty]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2066</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Koran Kompas hal.20 – Minggu, 13 Januari 2012 Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai (Tanggapan untuk Maman S Mahayana) Oleh LEON AGUSTA &#160; Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu dibawah langit. Selalu pula ada cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/2013/01/13/03160451/mempersoalkan.legitimasi.puisi-esai" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/cetak.kompas.com/read/2013/01/13/03160451/mempersoalkan.legitimasi.puisi-esai?referer=');"><strong>Sumber : Koran Kompas hal.20 – Minggu, 13 Januari 2012</strong></a></p>
<h3 style="text-align: center;"></h3>
<h2 style="text-align: center;"><strong>Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai</strong></h2>
<h3 style="text-align: center;"><strong>(Tanggapan untuk Maman S Mahayana)</strong></h3>
<h3 style="text-align: center;">Oleh LEON AGUSTA</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong>Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu dibawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu  yang sudah berlalu-terhadap sesuatu-misalnya karya dari masa silam.  Dari segala sesuatu yang ada sebagian eleman sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.</p>
<p>Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman gererasi sebelumnya dengan cara pandang  yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigm dan wacana  lama. Hasilnya adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya baru pula.</p>
<p>Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebut sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakan dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu  dan tempat tertentu. Hal ini tercermin dalam bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib  dan penderitaan manusia kedalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat menghantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?</p>
<p>Dalam konteks di atas, puisi-esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.</p>
<p><strong>Bukan Baru</strong></p>
<p>Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya sastra bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan Rendra. “Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespon kenyataan social politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya  langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.</p>
<p>Denny menggali sumber kekuatan estetik lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual.  Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.</p>
<p>Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan tehnik penyair Toeti  Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).</p>
<p>Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya “prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, “….setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisi-puisi Toeti Heraty.”</p>
<p>Jadi prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toety Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.”</p>
<p>Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul “Kisah Perempuan Korban Patriaki” dan mendedikasikan karyanya kepada “setiap perempuan yang meredam kemarahan”.  Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan  teks.</p>
<p>Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga member petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul “Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi Dalam Untaian Kisah Cinta Yang Menggetarkan Hati”, dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.</p>
<p>Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamplet, puisi esai, prosa lirik, atau apapun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa.  Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.</p>
<p>Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikan lagi.</p>
<p>Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekpresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.</p>
<p><strong>Cita Rasa</strong></p>
<p>Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, diantaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai “Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan penganut agama Islam (<a href="http://icrp-online.org/082008/post-17.html" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/icrp-online.org/082008/post-17.html?referer=');">http://icrp-online.org/082008/post-17.html</a> )..  Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat menghantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi-esai. Catatan kaki ini berperan  bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.</p>
<p>Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikan dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.</p>
<p>Dengan demikian Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama  sastra . Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekedar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.</p>
<p>Dengan puisi-esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Disinilah peranan puisi-esai yang dilahirkan Denny JA.</p>
<p>Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi-esai Atas Nama Cinta.</p>
<p>Kritik MSM dalam artikel “Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi-esai Denny JA: “Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutarji Calzoum Bachri dalam antologi   itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai?”</p>
<p>Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada terkesan merendahkan: “Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi.”</p>
<p>Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi-esai harus dilegitimasi? Apakah puisi-esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, dan kepatuhan?.</p>
<p>Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan “stempel legitimasi” terhadap konsep puisi-esai atau konsep puisi penyair manapun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berfikir dan sepak terjang Denny JA  dalam dunia perpuisian yang dibangunnya,   cara berfikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.</p>
<p>Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75) dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makasar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/01/13/1-mempersoalkan-legitimasi-puisi-esai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2. Kritik Maman S Mahayana &#8211; Posisi Puisi, Posisi Esai</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2013/01/03/posisi-puisi-posisi-esai-maman-s-mahayana/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2013/01/03/posisi-puisi-posisi-esai-maman-s-mahayana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2013 23:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Puisi Esai Denny JA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2021</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS Minggu, 30-12-2012. Halaman: 20 Kritik Posisi Puisi, Posisi Esai Oleh Maman S Mahayana Ketika jurnalistik berhadapan dengan tembok kekuasaan, sastra dapat digunakan sebagai saluran”. Begitu pesan Seno Gumira Ajidarma dalam buku antologi esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Pesan itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban estetik atas sejumlah cerpennya yang berkisah tentang berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a title="Download PDF (Kompas hal.20)" href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2013/01/maman-s-mahayana.pdf">KOMPAS Minggu, 30-12-2012. Halaman: 20</a></p>
<h3 style="text-align: center;"><strong>Kritik</strong><br />
Posisi Puisi, Posisi Esai<br />
Oleh Maman S Mahayana</h3>
<p>Ketika jurnalistik berhadapan dengan tembok kekuasaan, sastra dapat digunakan sebagai saluran”. Begitu pesan Seno Gumira Ajidarma dalam buku antologi esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Pesan itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban estetik atas sejumlah cerpennya yang berkisah tentang berbagai peristiwa aktual dan faktual. Secara cerdas, Seno menunjukkan posisi sastra yang bisa begitu lentur dalam menyampaikan kritik sosialnya. Maka, peristiwa sosial politik tentang petrus (Penembak Misterius, 1993) dan tragedi di Dili (Saksi Mata, 1994) yang tabu diberitakan sebagai laporan jurnalistik, dikemassajikan dalam bentuk cerpen yang asyik.</p>
<p>Begitulah, ketika kekuasaan melakukan pembungkaman atas kebenaran, sastra dengan caranya sendiri justru leluasa menyampaikannya, meski di sana bahasa denotatif disulap jadi konotatif. Tentu saja Ajidarma tak sendirian. Rendra, Taufiq Ismail, Pramoedya, dan sejumlah sastrawan lain adalah para pewarta yang memilih sastra sebagai medium ekspresi perlawanannya pada kebrengsekan. Fakta-fiksi dalam sastra seperti cuma dibatasi garis tipis. Itulah wilayah permainan sastrawan. Kini Denny JA, ilmuwan sosial dan penulis esai prolifik, menawarkan konsep puisi-esai, sebagaimana diniatkan dalam antologi Atas Nama Cinta (2012): sebuah judul yang sama dengan naskah drama Agus R Sarjono (2004). Di manakah konsepsi puisi-esai itu hendak ditempatkan?</p>
<p>Dalam pengantarnya, Denny menyebutkan kriteria puisi esai: (1) mengeksplor sisi batin, psikologi, dan sisi human interest pelaku; (2) dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami; (3) tak hanya memotret pengalaman batin individu, tetapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral; dan (4) diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tetapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial. Bagi sastra (yang baik) kriteria itu sudah seharusnya begitu; take for granted, meski data dan fakta menjadi fiksional, otonom, dan hanya berlaku dalam karya itu.</p>
<p>Ada lima peristiwa yang diangkat Denny, yaitu tragedi Mei (”Sapu Tangan Fang Yin”), musibah Ahmadiyah (”Romi dan Yuli”), petaka TKW (”Minah Tetap Dipancung”), perkawinan sejenis (”Cinta Terlarang”), dan kasih tak sampai karena perbedaan agama (”Bunga Kering Perpisahan”). Di sana ada 39 catatan kaki. Mencermati puisi-puisi itu, segera dapat dipahami kriteria yang diajukan Denny. Ada usaha sangat serius mengangkat fakta jadi puisi, meski dua puisi terakhir dalam sastra Indonesia bukanlah tema baru, seperti pernah diangkat Riantiarno (Cermin Merah, 2004) dan Ramadhan KH (Keluarga Permana, 1978).</p>
<p>Apanya yang esai jika puisi-puisi itu tidak berbeda dengan prosa liris Pengakuan Pariyem (1979) Linus Suryadi yang fenomenal? Jika kehadiran catatan kaki menjadi sentral, mengapa cuma 39 catatan kaki dari lima tema besar itu? Bahkan, enam catatan kaki pada ”Bunga Kering Perpisahan” terkesan laksana minyak dengan air; tak menyatu. Boleh jadi lantaran peristiwa Dewi-Albert tidak seheboh tiga peristiwa yang ditempatkan di awal. Jika Atas Nama Cinta termasuk puisi naratif, kita mudah saja menemukannya pada puisi-puisi Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Rendra, Taufiq Ismail, atau Ridwan Saidi (Lagu Pesisiran, 2008) yang di sana-sini sengaja pula menyertakan catatan kaki.</p>
<p>Dalam khazanah sastra Sunda, pantun Lutung Kasarung atau Ciung Wanara dan sejumlah besar syair Melayu pada dasarnya adalah puisi naratif. Bahkan, pada 1890 Tan Teng Kie pernah membuat semacam laporan jurnalistik lewat tiga syair panjangnya. Salah satunya, peristiwa pembangunan jalan kereta api dari Cikarang-Kedung Gede, Karawang, berjudul Syair Djalanan Kreta Api (Bataviasche Oosterspoorweg dengan Personellnja bij gelegenheid van opening der lijn Tjikarang-Kedoeng Gede Bezongen oleh Tan Teng Kie). Di sana disertakan juga jadwal keberangkatan kereta api ”Djoeroesan Batawi Kedoeng Gede”. Jika Denny merasa langkahnya merupakan sesuatu yang baru dalam sastra Indonesia, oleh karena itu sangat mungkin menjadi genre atau paradigma baru, maka tawaran itu kesorean: sudah lama terjadi dalam tradisi perpuisian Indonesia. Mari kita coba tengok ke belakang.</p>
<p>Sastra dan seni niscaya selalu berada dalam ketegangan konvensi dan inovasi. Tarik-menarik tradisi dan eksperimentasi sebagai gerakan pembaruan yang menyangkut bentuk dan isi tiada henti timbul-tenggelam menandai perjalanannya. Ingat saja Muhammad Yamin yang menawarkan soneta untuk menolak syair dan pantun. Dengan semangat yang sama, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan para penyair Pujangga Baru mengusung konsep Puisi Baru. Meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara. Pertanggungjawaban estetik yang dirumuskan STA dan esai-esai penyair Pujangga Baru gagal dilesapkan dalam puisi-puisi mereka lantaran spirit pantun dan syair tidak mudah begitu saja dibenamkan.</p>
<p>Konsep puisi baru penyair Pujangga Baru justru baru berhasil pada Chairil Anwar, meski ia tak merumuskan konsep estetiknya. Chairil lebih menekankan pada spirit, semangat, seperti disampaikan dalam esainya, ”Hopplaa!” Dikatakan, ”Pujangga Baru sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapan kebudayaan. Sekarang: Hopplaa! Lompatan yang sejauhnya. Sesudah masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi pada dengan penghargaan, Mimpi Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata ialah These sendiri!!&#8230;</p>
<p>Kredo Sutardji Calzoum Bachri pada dasarnya merupakan pertanggungjawaban estetik atas spiritnya mengembalikan kata pada mantra. Dikatakan Ignas Kleden, sebagai ”rencana kerja seorang penyair; sebagai suatu program, desain, dan bahkan tekad”. Langkah para sastrawan yang disebutkan tadi adalah fakta sejarah. Mereka selalu tergoda berada dalam ketegangan konvensi-inovasi. Tentu saja ketergodaan itu tak hadir seketika. Ada proses panjang kegelisahan untuk membangun saluran, estetika, dan paradigma baru. Dalam hal ini, tak berarti para sastrawan itu melalaikan fakta, menutup mata pada semangat zaman, atau abai pada gejolak kehidupan sosial politik. Segalanya justru berangkat dari fakta sosial dan sastra sekadar medium yang dipilihnya.</p>
<p>Tak ada karya sastra yang lahir dari ketiadaan. Mustahil pula sastra tanpa fakta. Sastra tak diturunkan malaikat dari langit, begitu Sapardi Djoko Damono berfatwa. Hakikat sastra yang fiksional tidak serta-merta merupakan kedustaan atau sekadar kebohongan. Ada kebenaran faktual. Lewat kreativitas fakta menjelma fiksi. Maka novel Wagahai wa Neko de Aru—Natsume Soseki(1905, I’m a Cat, 1972), Animal Farm—George Orwell (1945), Tikus Rahmat—Hassan Ibrahim (1963), dan Angin Musim—Mahbub Djunaedi (1986) adalah kisah para binatang yang merepresentasikan kehidupan sosial yang brengsek pada zamannya.</p>
<p>Puisi pamflet atau puisi gelap yang jumpalitan sekalipun berangkat dari fakta. Tetapi, ada fakta yang disembunyikan dalam lorong gelap, ada yang terang benderang, ada pula yang sekadar memberi sinyal untuk memasuki ruang puisi. Puisi-puisi dalam Atas Nama Cinta, hakikatnya puisi terang benderang. Maka, ada atau tidak ada catatan kaki, tak mengubah puisi itu jadi esai, bahkan tidak juga membuat pembaca mengalami kesulitan memahami isinya. Catatan kaki sekadar tambahan informasi dan tidak menjelma menjadi esai tersendiri.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai? Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi. Bahkan, tiga alinea terakhir catatan Sutardji menegaskan toleransinya pada siapa pun yang punya niat baik menyemarakkan khazanah perpuisian Indonesia. Dalam konteks itu, sastra Indonesia perlu memberi apresiasi atas sumbangan yang ditawarkan Denny JA.</p>
<p><strong>Oleh Maman S Mahayana Pengajar FIB-UI; Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2013/01/03/posisi-puisi-posisi-esai-maman-s-mahayana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1. Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Esai</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/12/14/pengumuman-pemenang-lomba-puisi-esai/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/12/14/pengumuman-pemenang-lomba-puisi-esai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2012 07:05:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengumuman Pemenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=2009</guid>
		<description><![CDATA[25 Puisi Esai Terpilih (Hasil Lomba Menulis Puisi Esai) &#160; Yang segera terasa dari Lomba Menulis Puisi Esai adalah beragamnya tema yang ditulis. Untuk pertama kalinya dalam perpuisian Indonesia ditemukan tema yang demikian beragam. Tema-tema itu meliputi hukum dan peradilan, konflik etnis, problem kebangsaan masyarakat perbatasan terluar Indonesia, transgender, kekerasan sosial, Korupsi, pertanahan, maritim, lingkungan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>25 Puisi Esai Terpilih</strong></h2>
<p><strong>(Hasil Lomba Menulis Puisi Esai)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang segera terasa dari Lomba Menulis Puisi Esai adalah beragamnya tema yang ditulis. Untuk pertama kalinya dalam perpuisian Indonesia ditemukan tema yang demikian beragam. Tema-tema itu meliputi hukum dan peradilan, konflik etnis, problem kebangsaan masyarakat perbatasan terluar Indonesia, transgender, kekerasan sosial, Korupsi, pertanahan, maritim, lingkungan, problem dunia pendidikan, korupsi dan manipulasi, dunia bisnis, ketegangan antaretnis, dunia pesantren, dunia anak dan masalahnya, problem budaya suku terasing, kekosongan vs keriuhan kota besar, dunia penari tradisi dan penari erotis, komunikasi modern, sengketa tanah, kisah cinta antaretnis-antarbangsa-antaragama, dan banyak lagi.</p>
<p>Aku lirisnya pun beragam: anggota punk, penari erotis, pramugara, anak koruptor yang galau, koruptor yang bahagia, pengagum presiden, orang Kubu, anggota masyarakat terasing, tokoh sejarah nasional, tokoh sejarah lokal, tokoh pemberitaan media massa, pencuri coklat, pembunuh keji, santri korban pelecehan, pelaku mistik, orang kota yang kesepian dan ingin bunuh diri, anggota etnis minoritas sekaligus pelaku transgender, warga Tionghoa Indonesia yang dijodohkan (dijual?) ke Hongkong, buruh tani, TKW, pemain band, Raden Saleh, perusuh, dan banyak lagi.</p>
<p>Beragamnya tema maupun aku liris yang muncul dalam puisi esai menunjukkan bahwa puisi esai –entah mengapa—telah membuka katup tematik berbagai urusan Indonesia yang selama ini tidak pernah mengemuka dan jarang –jika bukan “tabu”—disuarakan dalam puisi liris konvensional. Kebhinekaan Indonesia yang selama ini tidak begitu terlihat dalam perpuisian Indonesia tiba-tiba muncul dengan penuh warna. Jika meminjam terminologi Edward de Bono, dengan mengubah topi puisi liris konvensional ke puisi esai, nyata banyak hal yang semula senyap kini ramai bersuara, yang semula gelap kini mulai diberi cahaya. Banyak dari padanya memang belum sepenuhnya berhasil sebagai puisi (tepatnya puisi esai) yang utuh dan memikat, namun fakta bahwa banyak segi dalam kehidupan dan kenyataan Indonesia mulai disentuh dalam puisi jelas merupakan sesuatu yang menggembirakan. Di masa depan kita bisa berharap bahwa puisi Indonesia tidak sepenuhnya terpaku pada tema dan urusan kesepian serta kegalauan individual, melainkan mulai menggarap juga kekayaan, keluasan, dan keberagaman situasi dan pengalaman meng-Indonesia.</p>
<p>Tidak kurang dari 400 (tepatnya 429) puisi esai yang masuk ke <em>Jurnal Sajak</em> saat lomba Menulis Puisi Esai ditutup. Mengingat setiap puisi esai terdiri dari puisi panjang –terkadang tidak kurang dari 10 puisi panjang&#8211; maka puisi esai yang masuk ke panitia sebanding dengan 4000 s.d. 6000 puisi liris. Untuk menangani hal tersebut dibuat dua jenjang penilaian, yakni Juri Awaldan Juri Final. Juri Awal yang terdiri dari Ahmad Gaus, Jonminofri, Elza Peldi Taher, dan Fatin Hamama memeriksa setiap puisi esai yang masuk dan menilai kepuisiesaian tiap-tiap karya peserta. Puisi esai –ditandaioleh adanya plot, konflik, catatan kaki, keutuhan sebagai sebuah sajak panjang, dan sebagainya– dijadikan kriteria awal dalam memilih puisi esai yang masuk untuk diloloskan ke babak berikutnya. Maka sajak panjang berupa kumpulan beberapa sajak dengan judul berbeda-beda dan tidak memiliki keutuhan sebagai satu puisi esai tidak lolos ke seleksi selanjutnya. Demikian pula puisi yang tema dan panjangnya relatif memenuhi kriteria puisi esai namun tidak disertai dengan catatan kaki, tidak lolos ke babak selanjutnya, karena beberapa fakta di sana tidak dapat dirujuk pada sumber yang adekuat.</p>
<p>Juri Final yang terdiri dari Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, dan Jamal D. Rahman sepenuhnya berhadapan dengan puisi esai. Mereka bertugas memilih pemenang 1, 2, dan 3, serta 10 pemenang Hiburan berdasarkan mutu puisi esai yang masuk lomba.</p>
<p>Tidak mudah memilih juara 1, 2, dan 3. Lebih-lebih tidak mudah memilih 10 pemenang hiburan. Setelah membaca dan mendiskusikannya berkali-kali akhirnya dipilih para pemenang sebagai berikut:</p>
<p>“Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizche sebagai Juara pertama</p>
<p>“Interegnum” karya Beni Setia sebagai Juara Kedua, dan</p>
<p>“Syair 1001 indonesia” karya Saifur Rohman, sebagai Juara Ketiga.</p>
<p>Sebagaimana terlihat dari judulnya “Mata Luka Sengkon Karta” mengangkat permasalahan hukum dan peradilan sebagaimana yang pernah dialami dalam kasus Sengkon Karta yang pernah menjadi pemberitaan utama berbagai media massa di masa Orde Baru dan kini mungkin sudah mulai dilupakan. Puisi Esai ini dipilih karena keutuhan, kelincahan bahasa, alur yang kuat, dan riset yang mendalam atas subjek yang ditulisnya. Penggarapannya cukup ditel, diksi-diksinya pun segar. Penulis mampu membuat kasus lama ini hidup kembali untuk diperhadapkan dengan situasi hukum dan peradilan di masa kini. Ada beberapa ungkapan daerah, namun relevan dengan jalannya cerita sehingga tidak mengganggu keutuhan. Sedikit kelemahan pada puisi esai “Mata Luka Sengkon Karta” ini adalah rentang waktu pengisahan yang sangat panjang dengan sekian lanturan anak kisah. Sekalipun begitu, secara umum puisi esai ini ditulis dengan memikat.</p>
<p>“Interegnum” ditulis oleh Beni Setia, seorang penyair kawakan. Dengan bersih dan padu, kisah lama yang diambil dari sejarah dan cerita rakyat ini dibangun tahap demi tahap secara hati-hati hingga terbangun gambaran peristiwa di Palangan Mejayan masa silam. Dalam bentuk yang rapi tersebut, plot, konflik dan penokohannya dibiarkan tidak tajam dan digantikan dengan suasana-suasana dalam gambaran yang terkendali, Catatan-catatan kaki dibuat untuk menunjang bangunan informasi latar kejadian dalam cerita ini.</p>
<p>“Syair 1001 Indonesia” mengangkat kasus hukum dan korupsi yang menjadi berita hangat berbagai media massa belakangan ini. Dalam “Syair 1001 Indonesia” terjadi fiksionalisasi atas fakta, dan terkadang juga faktanisasi atas fiksi. Fakta dan fiksi terus-menerus dipermainkan. Dengan meminjam tokoh nyata sebagai pencerita orang pertama, maka puisi esai ini dibangun nyaris sepenuhnya dalam bangunan ironi. Ada upaya keras untuk membangun rima (khususnya rima akhir), beberapa berhasil beberapa terkesan agak dipaksakan. Namun, karena bangunan utama puisi esai ini adalah ironi, maka persamaan bunyi akhir yang dipaksakan itu terkadang menggaris bawahi unsur ironi pada puisi esai ini.</p>
<p>Pemenang hiburan agak sulit dipilih karena jumlahnya 10 buah sehingga rentang kualitas antara satu dengan lainnya terkadang cukup besar. Hanna Fransisca, misalnya, mengangkat tema masyarakat etnis Tionghoa Singkawang yang berhadapan dengan kemiskinan di satu sisi dan godaan untuk menjodohkan anak gadis dengan lelaki Hongkong demi beroleh kemakmuran. Puisi esai ini ditulis dengan nada serius, sementara Wendoko menulis dengan gaya santai dan main-main tentang telepon. Ada kisah cinta berlatar kekerasan sosial di Sampit karya Catur Adi Wicaksono, dan ada pula kisah Ki Bagus Rangin yang berlatar sejarah karya Kedung Darma Romansha. Di sisi lain, ada pula puisi esai yang berupa “alegori mistik” karya Rahmad Agus Supartono. Hampir semua pemenang hiburan mengangkat tema yang menarik dan ditulis dengan cukup memikat. Godaan utama pada nyaris semua pemenang hiburan adalah kurang fokus pada satu alur utama sehingga penokohan, konfik, maupun riset (sejauh terlihat pada catatan kaki) kurang terfokus. Kekuatannya, hampir semuanya menunjukkan daya puitik yang menggugah.</p>
<p>Selain 10 pemenang hiburan. Juri memilih 12 puisi esai yang dianggap menarik. Keduabelas puisi esai ini dipilih karena daya tarik permasalahan yang diangkatnya sebagai puisi esai, meski karya mereka belum mencapai keutuhan sebagai sebuah karya yang solid. Tentu saja 12 puisi esai yang dianggap menarik ini memenuhi capaian minimal puisi esai yang relatif baik. Banyak puisi esai yang mengangkat tema serta persoalan yang sangat menarik. Sayang, tema-tema menarik tersebut belum ditunjang oleh kemampuan menulis yang memadai. Kami berharap, para peserta tidak puas dengan apa yang mereka capai sekarang hingga terus berusaha di masa depan untuk mengangkat tema-tema menarik itu dalam bentuk puisi esai yang memikat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Juri Final</strong></p>
<p>Agus R. Sarjono</p>
<p>Acep Zamzam Noor</p>
<p>Jamal D. Rahman</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Juri Awal</strong></p>
<p>Ahmad Gaus</p>
<p>Elza Peldi Taher</p>
<p>Fatin Hamama</p>
<p>Jonminofri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Juara</strong><strong></strong></p>
<p>1.         Peri Sandi Huizche – Mata Luka Sengkon Karta</p>
<p>2.         Beni Setia – Interegnum</p>
<p>3.         Saifur Rohman  - Syair 1001 Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>10 Pemenang Hiburan</strong><strong></strong></p>
<p>1.         Arief Setiawan – Ngati</p>
<p>2.         Arif Fitra Kurniawan – Bukan Lagi Rahasia Kita Raisa</p>
<p>3.         Catur Adi Wicaksono – Jejak Cinta Madun Di Kota Sampit</p>
<p>4.         Hanna Fransisca – Singkawang Petang</p>
<p>5.         Jenar Aribowo – Suara Suara Ingatan</p>
<p>6.           Katherine Ahmad – Dalam Belenggu Dua Dunia</p>
<p>7.           Kedung Darma Romansha – Rangin</p>
<p>8.           Rahmad Agus Supartono -  Dia, Sangkarib dan Sekarung Kapas</p>
<p>9.           Wendoko – Telepon</p>
<p>10.       Yustinus Sapto hardjanto – Ziarah Tanpa Ujung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>12</strong><strong> </strong><strong> Puisi Esai Menarik</strong><strong></strong></p>
<p>1.  Alexander Robert</p>
<p>2.  Baiq Ratna Mulyaningsih</p>
<p>3.  Carolina Betty</p>
<p>4.  Chairunnisan</p>
<p>5.  Damhuri Muhammad</p>
<p>6.  Huzer Apriansyah</p>
<p>7.  Nur Faini</p>
<p>8.  Onik Sam Nurmalaya</p>
<p>9.  Sahasra Sahasika</p>
<p>10. Sifa Amori</p>
<p>11. Stefanus P. Elu</p>
<p>12. Yudith Rosida</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/12/14/pengumuman-pemenang-lomba-puisi-esai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1. Pengumuman Pemenang Lomba</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/12/13/1-pengumuman-pemenang-lomba/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/12/13/1-pengumuman-pemenang-lomba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2012 12:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengumuman Lomba]]></category>
		<category><![CDATA["Denny JA"]]></category>
		<category><![CDATA["Lukisan Denny JA"]]></category>
		<category><![CDATA["Puisi Esai"]]></category>
		<category><![CDATA[Dennyja]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1847</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Esai &#160; 2. Pengumuman Pemenang Lomba Foto Indonesia     Tanpa Diskriminasi (periode 2012) &#160; 3. Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Lagu Puisi       Esai Denny JA (periode 2012) &#160; 4. Pengumuman Pemenang Lomba Lukis Puisi Esai       Denny JA (periode 2012) &#160; 5.Pengumuman Pemenang Lomba Komentar       Indonesia Tanpa Diskriminasi  2012 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>1. <a title="Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Esai" href="http://puisi-esai.com/2012/12/14/pengumuman-pemenang-lomba-puisi-esai/">Pengumuman Pemenang Lomba Puisi Esai </a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>2.</strong> <a title="Pengumuman Pemenang Lomba Foto Indonesia Tanpa Diskriminasi" href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/1-pengumuman-lomba-foto-indonesia-tanpa-diskriminasi-periode-2012/">Pengumuman Pemenang Lomba Foto Indonesia </a></h4>
<h4><a title="Pengumuman Pemenang Lomba Foto Indonesia Tanpa Diskriminasi" href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/1-pengumuman-lomba-foto-indonesia-tanpa-diskriminasi-periode-2012/">    Tanpa Diskriminasi (periode 2012)</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>3<a href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/pengumuman-lomba-cipta-lagu-puisi-esai-denny-ja-periode-2012/">.</a></strong><a href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/pengumuman-lomba-cipta-lagu-puisi-esai-denny-ja-periode-2012/"> Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Lagu Puisi </a></h4>
<h4><a href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/pengumuman-lomba-cipta-lagu-puisi-esai-denny-ja-periode-2012/">      Esai Denny JA (periode 2012)</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>4. </strong><a href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/pengumuman-lomba-lukis-puisi-esai-dennya-ja-periode-2012/">Pengumuman Pemenang Lomba Lukis Puisi Esai </a></h4>
<h4><a href="http://puisi-esai.com/2012/11/10/pengumuman-lomba-lukis-puisi-esai-dennya-ja-periode-2012/">      Denny JA (periode 2012)</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>5.</strong><a href="http://puisi-esai.com/2012/10/09/pemenang-lomba-komentar-indonesia-tanpa-diskriminasi/">Pengumuman Pemenang Lomba Komentar </a></h4>
<h4><a href="http://puisi-esai.com/2012/10/09/pemenang-lomba-komentar-indonesia-tanpa-diskriminasi/">      Indonesia Tanpa Diskriminasi  2012</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>6.</strong><a href="http://puisi-esai.com/2012/09/12/5-pemenang-lomba-avatar-indonesia-tanpa-diskriminasi-2012/">Pengumuman Pemenang Lomba Avatar</a></h4>
<h4><a href="http://puisi-esai.com/2012/09/12/5-pemenang-lomba-avatar-indonesia-tanpa-diskriminasi-2012/">     Indonesia Tanpa Diskriminasi 2012</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>7.</strong><a href="http://puisi-esai.com/2012/06/16/pemenang-lomba/"> Pemenang lomba review puisi esai Denny JA</a></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/12/13/1-pengumuman-pemenang-lomba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5. Pameran Lukisan, Foto, Lagu dan Lukisan Esai Digital Indonesia Tanpa Diskriminasi</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/12/12/pameran-lukisan-foto-lagu-dan-lukisan-esai-digital-indonesia-tanpa-diskriminasi/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/12/12/pameran-lukisan-foto-lagu-dan-lukisan-esai-digital-indonesia-tanpa-diskriminasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 03:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita / Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[New]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Media Indonesia 12 Desember 2012, hal.5 Dengan Sentuhan Budaya Memperingati Hak Asasi Manusia &#160; Terusir dari tanah kami yang sah Hanya karena paham agama Muslim di Ambom, Kristen di Poso, Hindu di Lampung Ahmadiyah di Mataram, Syiah di Sampang Dan Kaharingan di Kalimantan Tengah &#160; Hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada 10 desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><a title="Download Media Indonesia Tanggal 12 Desember 2012 hal.5" href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/12/Media-Indonesia-121212.pdf" target="_blank">Sumber : Media Indonesia 12 Desember 2012, hal.5</a></p>
<h2 style="text-align: left;" align="center"></h2>
<h2 style="text-align: left;" align="center"><strong>Dengan Sentuhan Budaya Memperingati Hak Asasi Manusia</strong></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Terusir dari tanah kami yang sah</em></p>
<p><em>Hanya karena paham agama</em></p>
<p><em>Muslim di Ambom, Kristen di Poso, Hindu di Lampung</em></p>
<p><em>Ahmadiyah di Mataram, Syiah di Sampang</em></p>
<p><em>Dan Kaharingan di Kalimantan Tengah</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada 10 desember 2012 diperingati secara unik. Protes atas pelanggaran hak asasi itu tidak dilakukan melalui demo besar di jalan. Protes itu disampaikan di ruang pameran melalui aneka karya budaya: lukisan, foto, lagu dan lukisan esai digital. Ini peringatan hari HAM melalui sentuhan budaya. Pameran dibuka pada Selasa (11/12) dan berlangsung  sepekan, 11-18 Desember 2012 di Sigiart Galery, Pisa Kafe Mahakam, Jakarta.</p>
<p>Ragam karyanya bervariasi tapi disatukan oleh tema yang sama: Indonesia Tanpa Diskriminasi. Setelah diterjemahkan ke dalam film dan naskah teater, kini puisi esai Denny JA soal diskriminasi diterjemahkan ke dalam foto, lukisan dan lagu. Sebanyak 23 lukisan, 23 lagu, 6 lukisan esai digital, 3 foto esai dan 3 foto tunggal dipamerkan. Umumnya karya yang dipamerkan adalah pemenang lomba karya budaya yang diselenggarakan Yayasan Denny JA untuk mempopulerkan gagasan Indonesia Tanpa Diskriminasi.</p>
<p>Puisi yang dikutip di awal tulisan tidak berdiri sendiri.  Kalimat itu menjadi bagian sebuah lukisan esai digital dengan judul Air Mata Darah.  Isi dari kalimat itu adalah protes karena hilangnya hak asasi untuk menempati tanahnya yang sah. Mereka terusir karena konflik agama atau paham agama. Namun protes itu disampaikan melalui karya budaya yang diikhtiarkan menyentuh hati publik yang membaca.</p>
<p>Menurut Direktur Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, karya budaya yang dipamerkan sudah bersuara dengan ekspresi seni. Betapa Indonesia yang sudah merdeka lebih dari 67 tahun, sudah melewati 84 tahun Sumpah Pemuda, sudah mengarungi lebih dari 14 tahun reformasi justru dilanda isu yang akut dari sisi hak asasi manusia. Pemerintah dan polisi sering dianggap kurang maksimal melindungi  atau bahkan melakukan pembiaran atas kekerasan  primordial dan komunal yang dilakukan satu anak bangsa terhadap anak bangsa yang lain.</p>
<p>Novriantoni mencontohkan kritik yang ditulis di lukisan esai digital berjudul  “Dua Wajah Pemimpin.” Sebuah wajah yang terbelah. Separuh wajah wanita lembut penuh kasih. Namun separuh lagi wajah Hitler dengan tanduk dan gigi taring imajinasi iblis dalam dongeng anak-anak. Di bawah lukisan itu tertulis: “<em>Para pemimpin itu manis sekali tutur kata. Kami pilih dalam pemilu. Tapi dimana mereka kini? Mengapa kami dilupakan? Syiah di  Sampang. Ahmadiyah di Mataram. Muslim di Ambon…”</em></p>
<p>“Ini suara pemilih dalam pemilu yang kini merasa ditinggalkan para pemimpin dan pemerintah, menghadapi kekerasan komunal sendirian. Ini suara mereka yang masih menjadi pengungsi karena kekerasan agama, antara lain di Sampang dan Mataram,” ujarnya.</p>
<p align="center">-o0o-</p>
<p>Dijelaskan Novri, lima puisi esai Denny JA yang menjadi referensi lomba bercerita tentang lima jenis diskriminasi di Indonesia adalah: diskriminasi etnis (Saputangan Fang Yin), diskriminasi paham agama (Romi dan Yuli dari Cikeusik), diskirminasi gender (Minah Tetap Dipancung), diskriminasi agama (Bunga Keringan Perpisahan), dan diskriminasi orientasi seksual (Kisah Terlarang Batman dan Robin).</p>
<p>“Yang menarik melihat bagaimana isu diskriminasi itu diterjemahkan ke dalam lukisan, foto, lagu dan foto esai. Misalnya pemenang kedua lomba lukisan berjudul  “Penolakan diri/ Batman dan Robin”  oleh pelukis Abdurrahman Wahid. Ia menerjemahkan puisi Denny JA soal diskriminasi yang dialami kaum “berfisik pria berhati perempuan.”</p>
<p>Menurutnya, lukisan itu menggambarkan seorang lelaki duduk di kursi. Ia gagah perlente, memakai  jas.  Tapi wajahnya kusam. Sepatu yang digunakannya adalah sepatu perempuan dengan hak yang agak tinggi bewarna merah. Penikmat lukisan segera menangkap pribadi yang terbelah dalam sosok lukisan. Fisiknya lelaki. Tapi sentuhan hati dan perasaannya perempuan. Sosok ini disebut LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang merupakan segmen komunitas paling banyak mengalami diskriminasi.</p>
<p>Dalam lagu, jelas Novri, kisah kaum ini dinyanyikan dengan jenis balada rock and roll. Fiersa dan Dodi menjadi juara dua lomba lagu karena keberhasilannya menerjemahkan puisi ke dalam lagu yang jenaka tapi tetap pilu: Balada Batman dan Robin.   Di video klip, liriknya terasa pilu. Kisah Amir yang gagal mencintai istrinya. Ia selalu teringat Bambang kekasih sesama jenis. Namun ia dilarang oleh agama. Sungguhpun liriknya pilu, Fiersa dan Dodi menyanyikannya dengan riang dan jenaka. Secara keseluruhan, lagu itu membuat kita ingin bergoyang <em>rock and roll</em> tapi tetap dengan hati yang sedih.</p>
<p>Dalam foto tunggal, lanjut Novri,  juara pertama berjudul PARMALIM Karya HASIHOLAN SIAHAAN. Foto itu menerjemahkan puisi esai Denny JA soal diskriminasi agama ke dalam gambar yang sederhana tapi tajam. Seorang lelaki yang tidak menganut enam agama yang diakui negara. Ia penganut kepercayaan PARMALIM di daerah Batak. Dengan baju kepercayaannya, ia menunjukkan KTPnya. Di Kolom agama, di KTPnya itu kosong karena negara hanya bersedia menyantumkan agama saja di sana. Padahal di konstitusi UUD 45 sudah  diatur bahwa warga negara Indonesia bebas memeluk agama dan kepercayaan.</p>
<p>“Yang terkesan baru dari format seni yang dipamerkan adalah enam karya yang disebut Denny JA dengan Lukisan Esai Digital. Itu gabungan antara lukisan dan puisi/esai tapi dilukis melalui tuts komputer, bukan kuas. Karya itu tak hanya lukisan karena ada puisi dan esai di bawahnya. Karya itu juga bukan puisi atau esai karena ada lukisan di atasnya. Format Lukisan esai digital ini menurut Denny JA sebuah eksperimen seni yang melintasi batas lukisan dan puisi/esai,” ungkapnya.</p>
<p>Bagi publik luas yang awam idiom lukisan, kata Novri, penambahan puisi dan esai di lukisan itu membuat mereka lebih mudah menangkap pesan yang hendak disampaikan. Sementara bagi aktivis atau intelektual yang bukan pelukis, eksperimen ini dapat membantu mereka berkaya lukis melalui digital painting untuk mengekspresikan gagasan.</p>
<p>Enam lukisan esai digital Denny JA bercerita tentang warga Indonesia yang menjadi pengungsi hanya karena paham agama. Semua agama dan paham agama di Indonesia, di wilayah ketika agama dan paham agama itu minoritas, rawan menjadi korban kekerasan, dan menjadi pengungsi. Ironinya, kekerasan diskriminasi itu terjadi dengan intensitas yang meningkat setelah 14 tahun reformasi yang membawa kebebasan.</p>
<p>-o0o-</p>
<p>Novri menambahkan, hari HAM 10 Desember kini menjadi hari keempat yang dijadikan momentum oleh aktivis, intelektual dan budayawan untuk merefleksikan perjalanan bangsa. Tiga hari yang lain adalah Hari proklamasi 17 Agustus, Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan Hari Kebangkitan Nasional 2 Mei. Peringatan hari itu juga semakin beragam. Tak hanya diskusi atau demo, kini pameran karya budaya yang bersifat menyentuh hati ataupun protes menjadi pilihan.</p>
<p>Lingkaran Survei Indonesia bulan Oktober 2012 lalu mempublikasi surveinya bahwa tingkat intoleransi publik semakin meningkat. Secara kasat mata, kita juga menyaksikan banyak warga negara Indonesia menjadi pengungsi di tanah airnya sendiri hanya karena paham agama. Tindakan pemerintah melindungi warga negara dianggap sangat kurang.</p>
<p>“Ajakan budaya Indonesia Tanpa Diskriminasi menjadi sangat relevan.  Apalagi jika itu disampaikan dengan cara yang menyentuh hati seperti sosialisasi karya budaya lewat pameran memperingati hari hak asasi manusia,” tandasnya. <strong>(TIF)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/12/12/pameran-lukisan-foto-lagu-dan-lukisan-esai-digital-indonesia-tanpa-diskriminasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2. Pengumuman Lomba</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/2-pengumuman-lomba-2/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/2-pengumuman-lomba-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 12:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengumuman Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[1. Lomba menulis puisi esai 2. Lomba lukisan berdasarkan puisi esai Denny JA 3. Lomba Cipta Lagu Puisi Esai Denny JA 4. Lomba Foto Esai dan Foto Tunggal &#160; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://puisi-esai.com/2012/06/16/3-lomba-menulis-puisi-esai-2/"><strong>1. Lomba menulis puisi esai </strong></a></p>
<p><a href="http://puisi-esai.com/2012/06/16/4-lomba-lukisan-berdasarkan-puisi-esai-denny-ja-2/"><strong>2. Lomba lukisan berdasarkan puisi esai Denny JA</strong></a></p>
<p><a href="http://puisi-esai.com/2012/06/16/5-lomba-menciptkan-lagu-berdasarkan-puisi-esai-denny-ja/"><strong>3. Lomba Cipta Lagu Puisi Esai Denny JA</strong></a></p>
<p><a href="http://puisi-esai.com/2012/06/16/lomba-foto-esai-dan-foto-tunggal/"><strong>4. Lomba Foto Esai dan Foto Tunggal</strong></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/2-pengumuman-lomba-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang Foto Single Ke-3</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-3-2/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-3-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 04:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1794</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-3.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1795" title="foto single-3" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-3-300x201.jpg" alt="" width="358" height="240" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-3-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang Foto Single Ke-2</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-2/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 03:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1779" title="foto single-2" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-2-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang Foto Single Ke-1</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-1/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 03:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1771</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1775" title="foto single-1" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/foto-single-1-300x200.jpg" alt="" width="336" height="224" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-foto-single-ke-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galeri Pemenang Ketiga Lomba Foto Puisi Esai Denny JA Tahun 2012</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-ketiga-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-ketiga-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 03:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1758</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-01-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-03-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-05-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-06-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-07-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-08-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>
<a href='' title='Metamorfosis'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/DhoniSetiawan-Metamorfosis-04-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1758 " alt="Metamorfosis" title="Metamorfosis" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-ketiga-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galeri Pemenang Kedua Lomba Foto Puisi Esai Denny JA Tahun 2012</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kedua-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kedua-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 03:22:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1737</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/oscar-siagian_bermain-bersama-anak_single02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/oscar-siagian_make-up_single01-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_01-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_04-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_05-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_06-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_07-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_08-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_09-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_10-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_11-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_13-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_14-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>
<a href='' title='Waria, Faith and Islam'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Oscar-Siagian_Waria-Faith-and-Islam_15-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1737 " alt="Waria, Faith and Islam" title="Waria, Faith and Islam" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kedua-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galeri Pemenang Kesatu Lomba Foto Puisi Esai Denny JA Tahun 2012</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kesatu-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kesatu-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 03:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police School Camp'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police School Camp" title="Punks in Police School Camp" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-6-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-10-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-11-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-13-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-14-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-15-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-16-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-7-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>
<a href='' title='Punks in Police Camp School'><img width="150" height="150" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Aceh-Punks_Chaideer-Mahyuddin-8-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail colorbox-1718 " alt="Punks in Police Camp School" title="Punks in Police Camp School" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/galeri-pemenang-kesatu-lomba-foto-puisi-esai-denny-ja-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang 3: lukisan berjudul Minah tetap Digantung karya CAKPRI</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-3-lukisan-berjudul-minah-tetap-digantung-karya-cakpri/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-3-lukisan-berjudul-minah-tetap-digantung-karya-cakpri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 02:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1706</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Lukisan-Minah1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1924" title="Pemenang 3: lukisan berjudul Minah tetap Digantung karya CAKPRI" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Lukisan-Minah1-224x300.jpg" alt="" width="245" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-3-lukisan-berjudul-minah-tetap-digantung-karya-cakpri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang 2: lukisan berjudul Batman dan Robin/Penolakan Diri karya ABDURROHMAN WAHID</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/%e2%80%a2pemenang-2-lukisan-berjudul-batman-dan-robinpenolakan-diri-karya-abdurrohman-wahid/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/%e2%80%a2pemenang-2-lukisan-berjudul-batman-dan-robinpenolakan-diri-karya-abdurrohman-wahid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 02:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Batman-Robin.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1927" title="2. Abdurrohman Wahid Pemenang Lomba Lukis" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Batman-Robin-232x300.jpg" alt="" width="258" height="333" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/%e2%80%a2pemenang-2-lukisan-berjudul-batman-dan-robinpenolakan-diri-karya-abdurrohman-wahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang 1: lukisan berjudul Aku tak menginginkan hitam putih karya HUDI ALFA</title>
		<link>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-1-lukisan-berjudul-aku-tak-menginginkan-hitam-putih-karya-hudi-alfa/</link>
		<comments>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-1-lukisan-berjudul-aku-tak-menginginkan-hitam-putih-karya-hudi-alfa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puisiesaiadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi-esai.com/?p=1686</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Hitam-Putih.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1929" title="1. Hudi Alfa Pemenang Lomba Lukis 1" src="http://puisi-esai.com/wp-content/uploads/2012/11/Hitam-Putih-279x300.jpg" alt="" width="312" height="335" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi-esai.com/2012/11/11/pemenang-1-lukisan-berjudul-aku-tak-menginginkan-hitam-putih-karya-hudi-alfa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
