ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

2. 21 Karya Puncak Sastra Indonesia (1920 – 2013)

Posted on July 16, 2013

Catatan Penulis

 Dalam esainya, “The Death of the Great Writer”[1]), peraih Nobel Sastra tahun 2010, Mario Vargas Llosa, menyatakan bahwa saat ini sastra diperlakukan hanya sebagai produk konsumsi, hiburan remeh-temeh, dan sumber informasi yang cepat basi. Demokrasi dan pasar telah merenggut ruang suci tempat sastra bertahta. Buku-buku terus diterbitkan, tetapi sastra mati. Hal ini, ujar novelis dan politikus dari Peru tersebut, sangat berbeda dengan di masa lalu ketika sastra nyaris menyamai agama dan penulisnya dianggap Tuhan kecil yang dihormati dan dipuja.

Octavio Paz, peraih Nobel Sastra tahun 1990, menyiratkan kemurungan yang sama ketika ia berbicara tentang puisi. Di dunia yang dikuasai oleh logika pasar, ujarnya dalam The Other Voice[2]), aktivitas perpuisian tidak memberi hasil apa pun, produknya sulit dijual, dan karena itu puisi dianggap sebagai barang yang tidak berguna. Maka Paz mengajukan pertanyaan darurat: Berapa banyak orang yang membaca puisi sekarang, dan siapa saja mereka?

Rasanya kita tidak merasa sulit menjawab pertanyaan semacam itu. Puisi, dan secara umum sastra, adalah barang yang tidak diakrabi oleh masyarakat kita karena — seperti kata dua nobelis sastra di atas — dianggap tidak berguna dan tempatnya telah direnggut oleh pasar. Hanya kita, para penikmat sastra, yang merasa butuh membaca sastra. Lalu kita berusaha menularkan perasaan butuh itu kepada masyarakat dan pemerintah sambil meyakinkan mereka betapa pentingnya sastra dalam pembangunan bangsa dan negara. Keberadaan sastra dalam negara sama dengan keberadaan Parlemen, TNI, Mahkamah Agung, Bank Indonesia, Bulog – yang tanpa semua itu, negara akan runtuh.

Tapi, sekali lagi, itu adalah ilusi kita yang tidak selalu berhubungan dengan apa yang dipikirkan oleh masyarakat dan pemerintah. Buktinya, sampai sekarang tidak ada mata pelajaran sastra di sekolah dasar dan menengah, kecuali sebagai bagian dari pelajaran bahasa Indonesia, dan itu pun lebih banyak bersifat kognitif atau hapalan.[3]) Jadi cukup masuk akal kalau bangsa ini melahirkan generasi yang tidak akrab dengan sastra karena memang sastra dijauhkan dari kehidupan mereka. Kalau boleh melebih-lebihkan, wawasan masyarakat kita tentang sastra pada umumnya hanya mengerucut pada satu nama: Chairil Anwar, karena dua puisinya, “Aku” dan “Krawang-Bekasi”, sangat populer dan sering dibawakan di panggung-panggung agustusan. Masalahnya, siapa pun pasti tidak akan bahagia kalau jagat perpuisian dan kesusastraan Indonesia yang begitu luas hanya dihuni oleh Chairil Anwar seorang diri.

Bagaimanapun, sejarah sastra kita terbentang jauh ke belakang. Maka menjadi aneh kalau bangsa ini melahirkan generasi yang tidak melek sastra. Dunia kesusastraan Nusantara telah terbentuk secara mapan sebelum masyarakatnya mengenal tradisi baca-tulis. Pada masa itu masyarakat merupakan penikmat dan sekaligus pencipta karya sastra dalam bentuk pantun, cerita rakyat, peribahasa, dongeng, hikayat, dan fabel. Sastra jenis ini dikembangkan dan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Sampai saat ini masyarakat kita masih akrab dengan bentuk-bentuk kesusastraan semacam itu.

Perkembangan sastra semakin pesat dengan kian meluasnya tradisi baca-tulis. Tradisi sastra lisan yang didominasi oleh karya anonim berkembang menjadi tradisi sastra tulisan pada periode berikutnya dengan lahirnya para pengarang besar. Pada masa inilah kita mulai mengenal periodisasi sastra yang umum disebut sebagai Angkatan Pujangga Lama (sebelum abad ke-20), Angkatan Balai Pustaka (awal abad ke-20), Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, hingga Angkatan 2000-an. Setiap periode tersebut melahirkan para sastrawan dengan karya-karya yang memiliki pengaruh luas dan terus-menerus dibicarakan baik karena keberhasilannya menciptakan inovasi baru maupun karena pergolakan sosial-politik yang dimunculkannya.

Peta Besar Sastra

Dari sekian banyak karya sastra yang pernah ada, kita belum memiliki semacam peta besar berisi petunjuk mengenai karya-karya puncak atau karya yang paling menonjol. Sejauh ini, catatan yang ada hanya menunjuk pada segi kuantitas, yakni penulis dan karya yang dihasilkannya. Padahal, peta semacam ini diperlukan untuk melihat perkembangan sastra dari segi kualitasnya. Jika dalam perjalanan sejarahnya sastra kita melahirkan karya-karya besar, maka sangatlah logis untuk memberi aspresiasi sewajarnya kepada karya tersebut dan penulisnya sehingga lebih dikenal oleh masyarakat.

Buku ini ditulis untuk tujuan tersebut. Tentu ada banyak cara lain agar sastra kita tidak melulu dijumbuhkan dengan Chairil Anwar. Buku ini hanya salah satu cara untuk memperkenalkan karya-karya penting dalam kesusastraan kita kepada masyarakat. Dengan posisi seperti itu, memang akan lebih banyak karya yang dilewati daripada yang dicatat. Tapi itu merupakan resiko yang harus diambil, daripada semua karya dicatat lalu semuanya dilupakan.

 

Kriteria Pemilihan Karya Puncak

Yang saya maksud dengan karya dalam buku ini adalah sebuah produk sastra baik berbentuk sebuah puisi, sebuah buku kumpulan puisi, sebuah novel, sebuah cerpen, atau sebuah kumpulan cerpen, sebuah naskah teater, atau sebuah kumpulan naskah teater. Jika dalam bentuk buku, karya itu bisa dikumpulkan sendiri oleh pengarang bersangkutan, atau oleh editor.

Ada tiga kriteria yang dibuat sebagai pertanggungjawaban penulis mengapa buku ini hanya memilih 21 (duapuluh satu) karya yang saya sebut karya puncak sastra Indonesia.

Kriteria Pertama: Inovasi. Karya tersebut merupakan karya pembaruan baik dari segi tema maupun bentuk. Ia bisa merupakan karya yang pertamakali mengangkat tema tertentu yang belum pernah ada sebelumnya, atau karya yang bentuknya mula-mula dianggap eksperimen namun kemudian mencapai bentuk selaras dan sempurna sebagai sebuah karya sastra. Bisa juga ia mengangkat tema yang bersifat pembaruan dari tema-tema yang pernah muncul dalam karya-karya sebelumnya. Dari 21 karya di sini yang termasuk dalam kriteria pertama ini ialah: Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Belenggu karya Armijn Pane, Olenka karya Budi Darma, dan Saman karya Ayu Utami. Smuanya merupakan karya novel. Sedangkan dalam genre puisi ialah: Tanah Air karya Muhammad Yamin, Percikan Permenungan karya Rustam Effendi, Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah, Aku Ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar, Stanza dan Blues karya WS Rendra, O Amuk Kapak  karya Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, Puisi Mbeling karya Remy Syalado, Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna, Atas Nama Cinta karya Denny JA. Dalam genre drama tercatat satu judul yaitu Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya.

Kriteria Kedua: Pengaruh. Dilihat dari tiga hal sebagai berikut: (1) Pengaruh kepada masyarakat atau pembaca ditandai dengan adanya pengakuan atas karya tersebut dari masa ke masa sehingga karya tersebut menjadi semacam “legenda” (2) Adanya kontroversi atau polemik dalam masyarakat atas karya tersebut, dan (3) Adanya reaksi dari pemerintah berupa pencekalan, pelarangan, atau pembatasan baik kepada karya itu sendiri maupun kepada pengarangnya. Kontroversi/polemik dalam masyarakat dan reaksi dari pemerintah telah dengan sendirinya menyiratkan pengaruh dari karya tersebut dan arti penting kehadirannya. Termasuk dalam kategori ini ialah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka (butir 1 dan 2), Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (butir 3), dan Saman karya Ayu Utami (butir 2). Ketiganya merupakan karya novel. Dalam genre cerpen tercatat Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (butir 1) dan Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin (butir 2 dan 3). Dalam genre puisi terdapat karya Wiji Thukul: Aku Ingin Jadi Peluru (butir 3).

Kriteria Ketiga: Partisipasi. Yang dimaksud di sini ialah adanya para pengarang lain yang ikut melibatkan diri atau berkarya dalam genre tersebut sehingga melahirkan semacam “aliran”. Termasuk dalam kriteria ini ialah: Puisi Mbeling karya Remy Syalado yang melahirkan karya-karya sejenis dari aliran ini, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang melahirkan “aliran sapardian”, Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna yang melahirkan “aliran afrizalian”, dan Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai karya Denny JA yang diikuti oleh penerbitan karya-karya puisi esai dari para pengarang lainnya.

Dengan demikian terdapat dua belas karya sastra yang memenuhi lebih dari satu kriteria yaitu: Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Belenggu karya Armijn Pane, Saman karya Ayu Utami, Tanah Air karya Muhammad Yamin, Percikan Permenungan karya Rustam Effendi, Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah, Aku Ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar, Puisi Mbeling karya Remy Syalado, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna, dan Atas Nama Cinta karya Denny JA.

 

Penjelasan Singkat

Penulis memilih duapuluh satu karya puncak sastra Indonesia berdasarkan tiga kriteria di atas. Adapun waktunya dibatasi dengan meminjam konsep angkatan, yakni sejak angkatan Balai Pustaka (1920) hingga sekarang (2013). Karya-karya yang terpilih cukup memenuhi satu saja dari tiga kriteria yang ditetapkan: inovasi, pengaruh, atau partisipasi. Berikut adalah penjelasan singkat keduapuluh satu karya sastra terpilih yang disusun berdasarkan genre tulisannya:

 

Novel

Siti Nurbaya: Roman/novel karya Marah Rusli diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1922. Merupakan roman pertama di tanah air yang menghadirkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi yang membatasi hak perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Karya ini juga dianggap penting karena menjadi inspirasi bagi berkembangnya pemikiran tentang emansipasi perempuan.

Layar Terkembang: Roman/novel karya Sutan Takdir Alisjahbana diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1936. Masih tentang hak-hak perempuan tapi berbeda dengan Siti Nurbaya karena tidak lagi bicara kawin paksa dan adat melainkan membawa pikiran-pikiran progresif yang mencerminkan pergulatan kaum perempuan dalam memposisikan perannya di ruang publik. Perempuan tidak lagi dikurung oleh stigma sebagai makhluk yang lemah. Ia mampu berdiri sejajar dengan pria dan memberi kontribusi untuk kemajuan masyarakat. Pada saat yang sama, ia adalah seorang perempuan yang membutuhkan cinta dan kasih sayang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Roman/novel karya Hamka yang terbit pada 1939. Berisi kritik yang pedas terhadap adat dan kawin paksa. Dan berujung kematian tokoh-tokoh utamanya. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah kisah cinta namun sekaligus kisah tentang kesusastraan di pentas pertarungan politik. Belum pernah ada perdebatan yang begitu keras menyangkut sebuah novel melebihi karya Hamka ini. Novel ini dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis). Polemik bergulir selama 3 tahun sejak 1962 sampai terjadinya peristiwa yang disebut G30S/PKI 1965 yang mengubur kasus tersebut.

Belenggu: Roman/novel karya Armijn Pane, diterbitkan oleh penerbit Pujangga Baru pada 1940. Sebelumnya novel ditolak oleh penerbit Balai Pustaka karena dianggap tidak bermoral lantaran menjadikan perselingkuhan sebagai bagian penting cerita seolah-olah menjadi pembenaran bagi tindakan tersebut. Belenggu merupakan anti-tesis terhadap karya-karya di masa sebelumnya yang lebih banyak mengangkat tema seputar adat, kawin paksa, dan perseteruan tradisi vs modernitas. Ia merupakan rintisan pertama novel psikologis yang mengangkat pergulatan di dalam jiwa akibat konflik-konflik rumah tangga dan karir. Ia juga memulai zaman baru penulisan novel yang tidak lagi mengangkat isu moral baik dan buruk, atau si alim versus si jahat.

Bumi Manusia: Roman/novel karya Pramoedya Ananta Toer. Diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra pada 1980. Pada bulan Mei 1981, Kejaksaan Agung melarang peredaran Bumi Manusia karena dianggap mempropagandakan ajaran-ajaran Komunisme. Dalam SK-052/JA/5/1981 keluaran Jaksa Agung disebutkan bahwa pelarangan itu sepenuhnya adalah keputusan politik dan tidak ada kaitannya dengan nilai sastra. Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 35 bahasa dan membawa sastra Indonesia ke pentas dunia. Penulisnya, Pram, berkali-kali dinominasikan sebagai calon penerima Nobel Sastra.

Olenka: Novel karya Budi Darma. Diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1983. Olenka banyak mengungkap sisi psikologi manusia yang rentan terasing dari realitas di sekitarnya lantaran terlalu asik dengan obsesi-obsesinya. Teknik kolase (memasukkan gambar atau potongan-potongan berita media dan material lain) digunakan untuk mendukung alur cerita). Budi Darma merupakan perintis pemakaian teknik ini dalam penulisan novel. Novel ini mengangkat tema yang tidak diungkapkan dalam novel-novel yang pernah ditulis oleh para pengarang pada periode sebelumnya: Ketidakbulatan cerita yang mengisyaratkan ketidakbulatan manusia, tokoh paradoksal, dan kekaburan dunia.

Saman: Novel karya Ayu Utami. Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 1998. Merupakan novel pertama yang mengusung tema seputar kebebasan kaum perempuan sebagai makhluk yang memiliki tubuhnya sendiri, bukan tubuh milik pria atau tubuh yang didefinisikan secara tradisional oleh agama dan norma sosial. Setelah itu terbit karya-karya serupa dari para penulis lain. Saman menjadi pembuka jalan bagi karya-karya fiksi yang “menelanjangi” tubuh perempuan. Itu pula yang menyebabkan takdir Saman berbeda dengan karya-karya lainnya yang lazim hanya dipandang sebagai follower. Dan ketika publik merasa “gerah” terhadap karya-karya jenis ini, maka Saman-lah yang ditunjuk sebagai biang keladi dan menjadi episetrum kontroversi.

 

Puisi

Tanah Air: Puisi karya Muhammad Yamin yang dimuat di Jong Sumatera Nomor 4 Tahun III, 1920. Puisi ini merupakan karya pertama yang mencoba keluar dari pakem puisi lama yang lazim ditulis dalam empat larik pada setiap baitnya, sementara Yamin menulisnya dalam sembilan larik. Dan lebih penting lagi, puisi Tanah Air termasuk karya sastra generasi pertama yang mengangkat tema kebangsaan, walaupun dalam pengertian yang masih berkonotasi kedaerahan. Kelak dimuat dalam antologi puisi dengan judul yang sama: Tanah Air. Bersama puisi Tumpah Darahku, puisi Tanah Air menjadi cikal-bakal teks Sumpah Pemuda yang dibacakan pada 28 Oktober 1928.

Pertjikan Permenungan. Buku puisi Rustam Effendi yang terbit di Padang pada 1925. Di dalamnya terdapat sebuah puisi berjudul Bukan Beta Bijak Berperi, yang menandai zaman peralihan dalam penulisan puisi dari bentuk pantun Melayu yang selalu konsisten memuat sampiran dan isi, ke bentuk pantun modern yang meniadakan sampiran sehingga lebih berorientasi pada isi.

Nyanyi Sunyi: Puisi karya Amir Hamzah. Pada 1937 diterbitkan dalam kumpulan puisi dengan judul yang sama. Nyanyi Sunyi merupakan tonggap penting dalam kesusastraan Indonesia dan tetap dibicarakan hingga sekarang. Puisi-puisi di dalamnya yang berjumlah 24 buah merupakan pemberontakan terhadap bahasa lama. Selain itu. tema kesunyian menjadi monumen baru estetika kesusastraan tanah air yang berdiri megah merepresentasikan kesadaran eksistensial manusia. Tema ini tetap dominan dalam berbagai karya puisi hingga dewasa ini, terutama dalam genre puisi lirik.

Aku Ini Binatang Jalang: Puisi- puisi karya Chairil Anwar yang sebelumnya dimuat secara terpisah dalam berbagai antologi. Diterbitkan kembali dalam edisi lengkap oleh Gramedia pada 1986 dengan editor Pamusuk Eneste. Puisi-puisi dalam Aku Ini Binatang Jalang merupakan pemberontakan terhadap corak bahasa Melayu-melankolis. Chairil Anwar merintis jalan dan membentuk aliran baru dalam kesusastraan Indonesia. Para penyair yang lahir sesudahnya pun tidak luput dari pengaruhnya.

Stanza dan Blues: Buku ini mencakup dua kumpulan puisi Rendra, pertama adalah Malam Stanza yang diambil dari buku Empat Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, 1961), dan yang kedua Blues untuk Bonnie (Pustaka Jaya, 1971). Kedigdayaan Chairil Anwar yang menjadikan kata segala-galanya dalam puisi, baru bisa diatasi oleh WS Rendra dengan cara mengembalikan puisi kepada bahasa. Rendralah satu-satunya pada masa itu yang berhasil keluar dari pengaruh Chairil Anwar.

O Amuk Kapak: Antologi yang menyatukan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang sebelumnya pernah terbit pada periode berbeda. O terbit tahun 1973, Amuk terbit tahun 1977, dan Kapak terbit tahun 1979. Ketiganya dikumpulkan dan diterbitkan kembali oleh Penerbit Sinar Harapan pada 1981 dengan judul sesuai kronologi kelahirannya O Amuk Kapak. Buku setebal 133 halaman ini memuat 67 puisi. Puisi-puisi O Amuk Kapak ialah puisi-puisi mantra, satu jenis baru puisi yang sangat berbeda dengan puisi mana pun yang pernah ada di Indonesia. Dengan mantra, Sutardji ingin membebaskan kata dari beban makna, yang untuk itu ia sering dijuluki sang pembebas, el libertador.

Hujan Bulan Juni: Antologi puisi karya Sapardi Djoko Damono. Diterbitkan pertamakali oleh penerbit Grasindo pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Diterbitkan kembali oleh Gramedia pada 2013. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni sepintas masih melanjutkan tradisi estetika kesunyian yang berlangsung sejak Amir Hamzah. Namun Sapardi jelas berbeda. Antologi ini memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan karena sarat dengan renungan intelektual.

Puisi Mbeling: Kumpulan puisi-puisi Remy Sylado selama 30 tahun. Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2004. Puisi mbeling merupakan perlawanan yang diarahkan pada dua sasaran: pertama, estetika puisi yang tertawan dalam pikiran-pikiran konvensional yang melulu diungkap secara kabur dan gelap dalam bahasa berbunga-bunga sehingga puisi kehilangan tanggung jawabnya terhadap realitas, dan; kedua, situasi politik Orde Baru yang feodalistik-otoriter.

Arsitektur Hujan: Antologi puisi karya Afrizal Malna yang diambil dari kumpulan puisinya yang pernah terbit meliputi Narasi dari Semangka dan Sepatu (25 puisi), Yang Berdiam dalam Mikropon (11 puisi), Mitos-mitos Kecemasan (12 puisi), dan Membaca Kembali Dada (5 puisi). Buku ini diterbitkan pada 1995 oleh Penerbit Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, dengan ketebalan 98 halaman + xiii dan berisi 53 puisi. Kesemuanya merupakan puisi dengan mosaik bercitraan dunia urban dan berwarna gelap. Inilah yang membedakan dengan puisi-puisi dari penyair lain, baik yang terdahulu maupun yang semasa. Pada awal 1990-an pernah lahir genre puisi “Afrizalian” yang menjadi melibatkan banyak penyair muda dan menjadi mainstream kuat.

Aku Ingin Jadi Peluru: Antologi puisi karya Wiji Thukul. Diterbitkan oleh Indonesia Tera pada tahun 2000. Antologi ini memuat 5 kumpulan puisi yang sebelumnya pernah terbit, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Puisi-puisi Wiji Thukul dianggap menyalahi unsur estetika sastra, bahasanya vulgar dan menghantam. Namun, justru dengan bahasa seperti itu puisi-puisi Wiji Thukul sangat menakutkan penguasa. Wiji Thukul adalah “binatang jalang” yang lain di masa yang berbeda dengan Chairil Anwar. Ia bahkan telah mengorbankan hidupnya untuk sebuah perjuangan berdarah-darah demi perubahan hidup bangsanya: Ia hilang (diculik oleh rezim penguasa pada masa kegaduhan politik 1998) dan sampai sekarang belum kembali.

Atas Nama Cinta: Antologi puisi esai karya Denny JA. Diterbitkan oleh ReneBook pada 2012. Berisi lima buah puisi panjang yang oleh penulisnya disebut puisi esai, nama baru yang belum pernah dikenal dalam sejarah perpuisian di Tanah Air. Bukan hanya memperkenalkan nama baru, namun juga menawarkan konsep baru penulisan puisi yang berisi gabungan fakta dan fiksi. Kelima puisi esai dalam buku ini mengangkat tema diskriminasi terhadap minoritas agama, ras, orientasi seks, dan gender. Sejak terbit, buku ini menyulut kontroversi karena bentuk perubahan pada puisi esai yang dikenalkannya terlalu radikal, bahkan lebih radikal dari perubahan yang dilakukan oleh Chairil Anwar.

 

Cerita Pendek

Robohnya Surau Kami: Cerita pendek karya A.A. Navis yang terbit pada 1955 di majalah Kisah. Diterbitkan kembali oleh Gramedia pada 1986 bersama dengan 9 (sembilan) cerpen lainnya karya AA Navis dengan judul yang sama. Termasuk karya sastra terbaik dalam genre cerpen di negeri ini. Ia merupakan hasil eksplorasi estetik penulisnya terhadap latar budaya (kultur Minang) yang melahirkan dan membesarkannya. Cerpen ini juga menjadi fenomenal karena keberaniannya mengangkat tema yang secara kritis menyinggung kepicikan penganut agama.

Langit Makin Mendung: Cerpen karangan Kipandjikusmin. Dimuat di Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968. Cerpen ini menimbulkan kontroversi keras sampai-sampai HB Jassin, pemimpin redaksi majalah tersebut, harus mendekam dalam penjara karena membela penulisnya dan tidak mau membuka siapa nama sebenarnya dari Kipandjikusmin. Pro-kontra cerpen ini terkait dengan isinya yang terang-terangan mempersonifikasi Tuhan dan menggambarkan sosok Nabi Muhammad yang selama ini dianggap tabu oleh kaum Muslim.

 

Naskah Drama

Bila Malam Bertambah Malam: Naskah drama karya Putu Wijaya yang dipentaskan pertamakali pada 1970 dan sampai sekarang masih terus-menerus dipentaskan di berbagai tempat. Karya drama pertama yang mengangkat isu konflik kasta dalam masyarakat Bali. Bali sebagai ruang interaksi yang sangat dinamis lantaran kedudukannya sebagai tujuan wisatawan dunia, terus mengalami perubahan sosial yang bergejolak. Nilai-nilai lama dipertanyakan, nilai-nilai baru diperkenalkan. Cara Putu Wijaya “mengawinkan” Ngurah dan Nyoman Niti yang berbeda kasta, dalam drama itu, juga mempersatukan Gusti Biang dan Wayan, ialah untuk melenyapkan jurang kasta sudra dan bangsawan.

Keduapuluh satu karya sastra yang terpilih itu amat pantas untuk diketahui dan dibaca oleh masyarakat. Karya-karya semacam itulah yang disebut oleh Franz Kafka (1883-1924) sebagai karya “yang menghantam dan menyengat”. Dengan cara seperti itu sebuah karya sastra mengukir tahtanya di dalam hati masyarakat. Kata-kata Kafka berikut ini sangat layak kita simak: “Kalau sebuah buku tidak membangunkan kita dengan tonjokan keras di kepala, untuk apa kita membacanya?… Sebuah buku harus seperti kapak untuk membelah lautan beku dalam diri kita.”[4]

 

Ucapan Terima Kasih

Draf buku ini pernah didiskusikan di Kafe Pisa, Kebayoran Baru, Jakarta, pada 17 Juli 2013. Berdasarkan masukan-masukan dari diskusi itu penulis melakukan perbaikan pada naskah buku walaupun tidak secara mendasar. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman penyair, sastrawan, budayawan, dan kalangan lainnya, yang hadir dalam forum diskusi tersebut: Leon Agusta, Agus R. Sarjono, Acep Zam-zam Noor, Jamal D. Rahman, Denny JA, Fatin Hamama, Ahmadun Yosi Herfanda, Sujiwo Tedjo, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Elza Peldi Taher, Jonminofri, Saefuddin Simon, Baron Basuning, Ihsan Ali-Fauzi, Novriantoni Kahar, Okky Madasari, Fahd Gibran, Taufiq Damas, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Secara khusus ucapan terima kasih saya haturkan kepada Bang Leon Agusta selaku sastrawan dan penyair senior atas kesediaannya memberi kata pengantar untuk buku ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Bung Denny JA yang memfasilitasi acara bedah naskah buku ini dan Bung Jamal D. Rahman (Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison) yang memoderatori forum tersebut. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat. Selamat membaca.

 

Tangerang Selatan, 22 Juli 2013

Ahmad Gaus

 



 

[1] Mario Vargas Llosa, dalam The Language of Passion: Selected Commentary (New York: Picador, 2004)

[2] Octavio Paz, The Other Voice (Suara Lain), terj. Max Arifin, (Depok: Komodo Books: 2010).

[3] Sebuah penelitian membuktikan bahwa di sekolah-sekolah, sastra hanya diajarkan sebanyak 23,6% saja. Lihat Nenden Lilis, “Upaya Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sastra pada Jenjang Pendidikan Dasar: Sebuah Tawaran.” Dalam Dadang S. Anshori dan Sumiyadi (Ed.), Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pendidikan (Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI, 2009).

[4] Franz Kafka, from a letter to Oskar Pollak dated January 27, 1904. Lengkapnya berbunyi demikian:  “Altogether, I think we ought to read only books that bite and sting us. If the book we are reading doesn’t shake us awake like a blow to the skull, why bother reading it in the first place? So that it can make us happy, as you put it? Good God, we’d be just as happy if we had no books at all; books that make us happy we could, in a pinch, also write ourselves. What we need are books that hit us like a most painful misfortune, like the death of someone we loved more than we love ourselves, that make us feel as though we had been banished to the woods, far from any human presence, like suicide. A book must be the ax for the frozen sea within us. That is what I believe.”

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>