Buruh Migran Tuntut Tanggung Jawab Negara (Indopos, 19 Juli 2012)
JAKARTA-Banyaknya kasus kekerasan, pembunuhan hingga hukuman mati yang menimpa sejumlah buruh migrant (tenaga kerja Indonesia ) diluar negeri dinilai sebagai ketidakmampuan pemerintah dalam melindungi rakyatnya. Dan itu terus terjadi karena pemerintah dinilai tidak berpihak kepada kepentingan buruh migrant. Akibatnya bangsa ini selalu dinilai sebelah mata oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Hal itu mengemuka dalam Dialog dan Ekspresi Budaya dengan tema “Melawan Lupa, Menuntut Tanggung Jawab Negara; Refleksi Realitas Buruh Migran Indonesia dan Agenda Perlindungannya” di Teater Kecil TIM Cikini, Jakarta, Selasa (18/7) kemarin.
Hadir sebagai pembicara diantaranya Andi Sinulingga dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), musisi dan aktivis HAM Melanie Subono dengan moderator Usman Hamid.
Usman Hamid menyatakan sudah setahun lebih eksekusi pancung terhadap Ruyati, PRT migrant Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia berlangsung. Namun perih hati terhadap nasib ribuan bahkan jutaan buruh migran Indonesia tetap belum sembuh. “Eksekusi terhadap Ruyati bahkan telah membuka kotak pandora ratusan buruh migrant Indonesia terancam nasib serupa yang dialami oleh Ruyati,” ulas Usman.
Menurut Andi Sinulingga, penderitaan yang dialami buruh migran Indonesia semakin memilukan karena hingga kini pemerintah tidak mampu membela dan memperjuangkan nasib mereka. “Lantas, dimana tanggung jawab Negara? Di saat rakyatnya membutuhkan, pemerintah malah tidak hadir ditengah-tengah mereka. Padahal, jika masih memiliki nasionalisme, perjuangkan kasus-kasus buruh migrant Indonesia”, tegas Andi.
Di penghujung acara diputar video essai karya Denny JA yang berjudul “Minah Tetap Dipancung”. Video disutradarai oleh Putu Wijaya dan dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bachri ini menceritakan tentang penderitaan seorang buruh migran Indonesia bernama Minah di Saudi Arabia. Minah diperkosa majikan laki-lakinya, lalu disiksa oleh majikan perempuannya hingga akhirnya ia dihukum pancung oleh pemerintah setempat.
“Tampak penonton yang menyaksikan pemutaran video essai tersebut terharu. Bahkan sejumlah buruh migrant yang sudah menetap di tanah air tidak mampu menahan tangis. Begitupun dengan sejumlah mahasiswi yang ikut menyaksikan pemutaran video tersebut, sesekali menaham isak tangis. (Ind)
Sumber : Indopos – Hal.2 Kamis, 19 Juli 2012
Kembali
