ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

19. Agus R.Sarjono : Puisi Esai Sebuah Kemungkinan Sebuah Tantangan

Posted on June 21, 2012

Agus R. Sarjono

Penyair

Puisi esai, dilihat dari namanya, merupakan gabungan dari dua state of mind dalam tulisan, yakni puisi dan esai. Tak perlu dikemukakan lagi bahwa puisi adalah salah satu genre dalam sastra. Sementara esai, jelaslah bukan bagian dari karya sastra. Memang selama ini di beberapa kalangan masih ada anggapan yang salah bahwa esai termasuk karya sastra. Beberapa esai seringkali puitis, dan esai pun kerap menjadi jenis tulisan yang dipilih manakala seseorang ingin membicarakan suatu isu dalam sastra dan/atau membahas suatu karya sastra. Meskipun esai sering mondar-mandir di rumah tangga sastra, esai tetaplah bukan karya sastra. Ini hampir sejajar dengan kritik sastra.

 

Kritik sastra adalah bagian penting dalam sistem kehidupan sastra, namun kritik sastra jelas bukan karya sastra. Kritik sastra di satu sisi dapat berbentuk karangan esai, dan di sisi lain dapat berupa karangan ilmiah, namun bukan karangan sastra.

 

Esai sebagai genre karangan mulai dikenal setelah Michel de Montaigne menerbitkan tulisannya yang berjudul Essais (1580). Sejak itu, nama essai (Prancis) atau essay (Inggris), yang artinya upaya-upaya atawa percobaan-percobaan —dan oleh sebab itu lebih bersifat sementara dari pada bersifat final dinisbahkan sebagai nama bagi genre karangan sebagaimana kurang lebih ditulis Michel de Montaigne. Tak lama kemudian, Francis Bacon mengikuti jejaknya dengan menulis esai-esai mengenai berbagai soal dengan ukuran yang cenderung lebih pendek dari umumnya karangan Montaigne. Esai demikian Bacon (1597) mencoba menjelaskan posisi esai-esainya lebih berupa butir-butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.

Sejak diperkenalkan Montaigne, esai telah mengalami perkembangan sedemikian rupa dan memancing banyak penulis untuk melibatkan diri-nya. Hal ini tidak mengherankan mengingat bagi banyak penulis, esai dianggap sebagai bentuk tulisan yang paling fleksibel dan mudah beradapta-si. Pesatnya perkembangan dan popu-laritas esai membuat hampir semua penulis besar kaliber dunia pernahjika tidak dapat dikatakan kerap menulis esai. Di banyak kalangan, bah-kan kesastrawanan seseorang dinilai pula dari esai-esainya, karena nyaris semua sastrawan hebat adalah esais hebat dan sastrawan yang menulis esai hebat hampir pasti merupakan penyair, novelis, atau cerpenis yang hebat.

Popularitas esai yang diawali pada abad XVI mengalami ledakan signifi-kan pada abad XIX dan terus makin populer dan digemari hingga abad ini. Hampir tak ada media massa cetak berbobot yang tidak memuat esai dalam terbitannya.

Di Indonesia, esai sebenarnya sudah lumayan lama ditulis. Namun, nama  esai  sebagai  sebuah genre  menjadi populer sejak H.B. Jassin menerbitkan bukunya yang terkenal, yakni Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei —yang kemudian diterbitkan berjilid-jilid. Sejak itu, karangan esai segera menjadi sesuatu yang biasa dalam khazanah karang-mengarang, khususnya sastra, di Indonesia.

Sekalipun begitu, dengan memba-ca karangan-karangan yang termuat dalam buku Jassin tersebut, pengerti-an esai tidak cenderung menjadi jelas bagi pembaca. Hal ini bukan saja dise-babkan karena H.B. Jassin tidak menu-liskan dan menjelasterangkan apa yang disebut dengan esai, melainkan karena dalam karangan-karangan itu tidak begitu jelas mana yang disebut kritik dan mana yang disebut esai.

Jika kita berpegang pada pengerti-an klasik dan mendasar dalam kritik sastra yakni “karangan bahasan/ulas-an yang di dalamnya terdapat upaya penghakiman (judgement) terhadap suatu karya sastra”, maka pengertian kritik sastra dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei relatif jelas. Yang belum jelas ada-lah pengertian esai itu sendiri. Karang-an-karangan dalam buku itu tidak menyanggupkan kita untuk dapat memilah atau setidaknya merasai mana karangan yang berupa esai dan mana karangan yang bersifat kritik sastra. Apalagi jika diingat cukup ba-nyaknya kritik sastra yang ditulis dalam bentuk esai.

Tentu saja sebelum H.B. Jassin menerbitkan buku Kesusastraan Indo-nesia Modern dalam Kritik dan Esei karangan esai sudahlah banyak ditulis orang. Karangan masyhur Ki Hajar Dewantara, “Als Ik Netherlanden Was” (“Andai Aku Seorang Belanda”) yang membuat pemerintah kolonial berang dan mengirimnya ke penjara, tidak bisa tidak adalah sebuah esai. Demiki-an pula karangan S.T. Alisyahbana “Semboyan yang Tegas” yang memicu terjadinya Polemik Kebudayaan, jelas karangan esai.

Tapi apa sebenarnya yang disebut dengan esai?

Beberapa rumusan tentang esai telah coba dilakukan, misalnya oleh berbagai kamus dan ensiklopedia se-perti Webster Disctionary,1 Oxford Dictionary,2 Ensiklopedi Indonesia,Encylopediae International,Encyclo-pediae Americana,5 Yosep T. Shipley,6 dan J.A. Cuddon.7 Namun, selayang pandang saja segera terlihat bagaima-na pengertian esai ternyata dirumus-kan dengan cara bermacam-macam dan selain kadang tidak lengkap, tidak jarang juga bertolak belakang. Tentang ukuran esai, misalnya, ada yang me-nyatakan bebas (Oxford Dictionary), sedang (Encyclopediae International; Shipley), dan ada pula yang menyata-kan dapat dibaca sekali duduk alias pendek (Webster Dictionary).

Dilihat dari segi isinya, esai disebut berisi analisis, penafsiran (Webster Dictionary); uraian sastra, budaya, ilmu dan filsafat (Ensiklopedi Indone-sia); sementara yang lain sama sekali tidak menyebutkan isi esai.

Gaya dan metode esai dirumuskan dengan berbeda pula. Webster Dictio-nary menyebut metode dan gaya esai bebas, sementara Ensiklopedi Indone-sia menyebut esai ditulis dengan gaya dan metode yang teratur. Sumber lain tidak menyinggung sama sekali masa-lah gaya dan metode.

Ada yang membagi esai menjadi esai “formal” dan “nonformal”8 (Ship-ley; Ensiklopedi Indonesia; Encyclope-diae International, Cuddon), ada pula yang tidak (Encyclopediae Americana; Webster Disctionary; Oxford Disctio-nary).

Sebagai contoh, kita simak rumus-an Ensiklopedi Indonesia9 berikut:

 

Esai adalah jenis tulisan prosa yang meng-uraikan masalah dalam bidang kesusastra-an, kesenian, kebudayaan, ilmu pengeta-huan, dan filsafat; berdasarkan pengamat-an, pengupasan, penafsiran fakta yang nyata atau tanggapan yang berlaku dengan mengemukakan gagasan dan wawasan pengarangnya sendiri. Dalam essay penga-rang melontarkan suatu sudut pandang tertentu, sikap pribadi, membawakan penemuannya sendiri, mendekati bahan subjek dengan sistematika uraian yang ter-atur yang terang yang dituangkan dalam bahasa Indonesia tahun 1930-an, terutama dalam majalah Pujangga Baroe, kemudian berkembang di jaman sesudah perang.

Jelas rumusan “Dalam essay penga-rang melontarkan suatu sudut pan-dang tertentu, sikap pribadi, memba-wakan penemuannya sendiri, mende-kati bahan subjek dengan sistematika uraian yang teratur yang terang yang dituangkan dalam bahasa Indonesia tahun 1930-an, terutama dalam maja-lah Pujangga Baroe, kemudian ber-kembang di jaman sesudah perang” dengan mudah dapat dibantah. Dalam esai pengarang dapat melontarkan lebih dari satu pandangan tertentu, dapat membawakan penemuannya sendiri maupun penemuan orang lain, mendekati dengan sistematika teratur maupun tidak teratur, terang maupun gelap. Lebih-lebih lagi, tidaklah benar bahwa esai hanya dituangkan dalam bahasa Indonesia tahun 1930-an dan terutama terdapat dalam majalah Pujangga Baroe.

Mari kita abaikan (sekurang-ku-rangnya menunda) sejenak rumusan-rumusan mengenai esai sebagaimana dikemukakan di atas. Penundaan ini bukan disebabkan oleh mudahnya kita menunjukkan bukti bahwa rumusan di atas kurang meyakinkan —seperti  rumusan bahwa dilihat dari segi isinya esai disebut berisi analisis, penafsiran; uraian sastra, budaya, ilmu dan filsa-fat— yang dengan mudah dapat di-tunjukkan bahwa hampir tak ada esai yang berisi analisis sebagaimana dike-mukakan Webster Dictionary dan demikian banyaknya esai yang tidak melulu berisi uraian sastra, budaya, ilmu dan filsafat sebagaimana dike-mukakan dalam Ensiklopedi Indonesia; melainkan karena perlunya diperoleh kejelasan mengenai esai dalam perban-dingannya dengan karangan lain, seperti karangan ilmiah dan sastra.

Perbandingan semacam ini dibuat untuk melihat perbedaan hubungan subjek–objek dalam ketiga jenis karangan tersebut serta kaidah-kaidah yang menjadi acuan penulisan ketiga karangan tersebut. Hal ini perlu dila-kukan karena Shipley10, misalnya, membuat rentang esai dengan mele-takkan formal objektif dengan perha-tian pada intelektualitas pada satu sisi dan informal subjektif dengan perhati-an pada pengalaman subjektif pada sisi sebaliknya. Di dalam rentang itulah ia membagi-bagi kecenderungan esai. Rumusan ini terlihat cukup meyakin-kan dan mudah digunakan untuk “me-milah esai”, namun sebenarnya mem-buat esai justru tak dapat dikenali be-bas dari jenis karangan lainnya karena menjadikan makalah dan monograf hingga sketsa dan humor sama-sama esai, dan hanya dibedakan dari kecen-derungannya. Dengan membanding-kan hubungan subjek-objek dalam karangan ilmiah, karangan sastra dan karangan esai akan terlihat bahwa pembagian esai menjadi formal objek-tif vs informal subjektif sebagai-mana dilakukan oleh Shipley11—dan diikuti para pengutipnya di Indonesia— sama sekali tidak relevan.

Sejumlah unsur yang dibicarakan dalam upaya mengenali esai ini dilaku-kan dengan memanfaatkan kepustaka-an yang sudah sangat dikenal dan populer di Indonesia; hanya jika ter-paksa saja, dapat digunakan kepustakaan yang tidak begitu populer di Indo-nesia. Hal ini sengaja untuk me-mudahkan dan mengingatkan kembali pengertian-pengertian yang telah “baku” dalam cakrawala harapan dan cakrawala pemahaman kita sehingga kajian ulang dan upaya mendiskusi-kannya menjadi lebih terbuka.

 

Karangan Esai, Karangan Sastra, dan Karangan Ilmiah

Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah fikiran yang lain. Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt12 me-ngemukakan bahwa kerangka dasar metode keilmuan terbagi menjadi enam langkah, yaitu:

(1) Sadar akan adanya masalah dan peru-musan masalah; (2) Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan; (3) Pe-nyusunan atau klasifikasi data; (4) Peru-musan hipotesis; (5) Deduksi dan hipotesis; (6) Tes dan pengujian kebenaran (verifi-kasi) dari hipotesis.13

 

Dari kerangka di atas dapat disim-pulkan bahwa karangan ilmiah me-miliki kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan kerangka/metode ilmiah yang mendasarinya. Dalam penulisannya pun karangan ilmiah memiliki kaidah-kaidah sendiri yang ditandai dengan adanya pengajuan masalah, penyu-sunan kerangka teoretis, laporan hasil penelitian, ringkasan dan kesimpulan, abstrak dan daftar pustaka.13

Penulisan karangan ilmiah dengan demikian harus mematuhi kaidah tertentu, yakni kaidah ilmiah yang diharap dapat menjamin objektivitas suatu ilmu. Objektif, demikian Senn,14 artinya data dapat tersedia untuk pe-nelaahan keilmuan tanpa ada hubung-annya dengan karak-teristik individual seorang ilmuwan.

Dari isi objektifnya, demikian Cassirer,15 ilmu mengabaikan dan tidak menonjolkan ciri-ciri individual karena salah satu tujuan pokoknya ialah meniadakan semua unsur perso-nal dan antropomorfis. Sebab, menu-rut kodratnya, ilmu pengetahuan berusaha seobjektif mungkin, pengu-kurannya diusahakan semakin eksak. Karena itu si ilmuwan akan mengam-bil jarak terhadap dunia. Setiap “gang-guan” dari pihak subjek akan dising-kirkan.16

Dari penjelasan sekilas mengenai ciri-ciri karangan ilmiah tersebut, maka dapat digambarkan hubungan subjek–objek yang melandasi modus operandi penulisan karangan ilmiah diskemakan pada gambar 1.

 

Dari gambar 1, tampak dengan jelas hubungan subjek yang mengamati (S) dengan objek yang diamati (O). S mengamati O, kemudian O diolah/disusun berdasar pada kaidah-kaidah ilmiah (X). S mengambil jarak dengan O sehingga kehadiran S sedapat mungkin ditiadakan. Yang tinggal adalah deskripsi O berdasarkan X (OX), yang disebut sebagai karangan ilmiah.

Berbeda dengan tulisan ilmiah, karangan sastra mempunyai kaidah-nya sendiri. Dalam menulis karangan sastra, seorang sastrawan mengacu pada kaidah penulisan sastra yang relatif baku, seperti: tema, alur, peno-kohan, latar, sudut pandang, dan sebagainya, bagi prosa (novel dan cer-pen) serta tema, diksi, irama, enjabe-men, majas, rancang bangun dan se-bagainya, untuk puisi.

Pengelolaan kaidah tersebut ditu-liskan sastrawan dengan mengacu pa-da konvensi sastra yang berlaku pada zamannya, baik konvensi tersebut akan diikuti maupun justru diberon-taki. Maka membaca sastra, demikian Culler,17 tidak lain merupakan tindak-an menghayati suatu proses yang di-kuasai oleh seperangkat aturan yang menghasilkan makna-makna tertentu.

Dalam pada itu, banyak peneliti sastra berpen dapat bahwa perbedaan fiksi dan nonfiksi paralel dengan perbedaan antara teks sastra dengan teks nonsastra, misalnya Luxemburg.18   Fiksionalitas dijadikan tolok ukur untuk menentukan apa yang termasuk sastra dan apa yang tidak.

Hubungan sastrawan dengan reali-tas adalah hubungan ke–mungkin–an, yakni boleh jadi realitas yang ditulis-kan seorang sastrawan memiliki kese-suaian dengan dunia nyata, atau ke-nyataan fiksional dalam sastra memi-liki kemungkinan untuk terjadi (juga) dalam kenyataan.

Karena karya sastra dicirikan oleh fiksionalitas maka karya sastra bergan-tung pada hasil rekaan pengarang. Jika dibuat gambar mengenai hubungan pengamat dengan realitas yang men-dasari modus operandi seorang sastra-wan dalam menulis karya sastra, akan diskemakan dalam gambar 2.

Dari gambar 2 terlihat  jelas bahwa hubungan subjek (sastrawan) yang mengamati (S) dengan realitas atau objek yang diamati (O). S mengamati O, kemudian O diabaikan dan S mem-buat rekaan-rekaan yang dapat berke-naan dengan O dapat juga tidak. Jika-pun rekaannya berkaitan dengan O, keberadaan O tidak lagi penting kare-na yang ada adalah Subjek (S) yang menyusun rekaan dan menuliskannya sesuai kaidah sastra (Y) sehingga menghasilkan SY (karya sastra).

Jika pada karangan ilmiah subjek diminimalisir dan objek menjadi utama, maka pada karangan sastra justru subjek yang mengemuka se-mentara objek (boleh) diabaikan. Hal ini berbeda dengan dalam karangan esai. Pada karangan esai, baik subjek maupun objek sama-sama penting dan sama-sama mengemuka. Gambar 3 menskemakan hubungan tersebut.

Dari gambar 3, terlihat jelas bagai-mana hubungan subjek (esais) yang mengamati (S) dengan kenyataan atau objek yang diamati (O). Pengamat melihat kenyataan sebagaimana ke-nyataan tersebut hadir dan menggeja-la di latar kesadaran pengamat. Peng-amat langsung menuliskan begitu saja kehadiran objek yang menggejala di latar kesadarannya tersebut. Kemeng-gejalaan tersebut bergantung pada sikap, watak, temperamen, minat, per-hatian, cakrawala pengalaman dan cakrawala pemahaman pengamat. O dipersepsi S sebagaimana O hadir di latar kesadaran S, sehingga menggeja-la dialektika OS. OS lah yang kemudi-an dituliskan oleh S dan disebut esai.

Oleh sebab itu, kepribadian S senantiasa membayang dalam tulisan-tulisan esai S mengenai O. Keberadaan O tidak dapat diabaikan oleh S sebagai-mana keberadaan S pun tak dihilang-kan. Jika S dihilangkan atau direlati-visir maka ia cenderung menjadi kara-ngan ilmiah, jika ditulis berdasar kai-dah ilmiah. Sementara jika O yang diabaikan, ia cenderung menjadi ka-rangan sastra jika kaidah sastra yang digunakan untuk menuliskannya.

Hasil dialog O-S tersebut dapat be-rupa kesan-kesan, renungan, dan sebagainya. Sifatnya pun dapat santai atau pun serius serta dapat imajinatif maupun intelektualistis. Sementara mengenai topik yang dibicarakan ia terbuka bagi masalah apa saja, baik bu-daya, seni, filsafat, sosial politik, sains, ekonomi, religi, atau apa saja. Kese-riusan, kesantaian, keintelektualan dan sebagainya akan sangat bergan-tung pada kepribadian esais dan ber-gantung pula pada menggejalanya kehadiran objek di latar kesadaran sang esais. Maka, sekali lagi, pemba-gian esai menjadi esai formal dan esai nonformal menjadi tidak relevan karena keformalan dan ketidakfor-malan sebuah karangan esai tidak ditentukan oleh ciri karangan esai ter-sebut melainkan sebagai hasil perjum-paan antara kepribadian subjektif sang esais dengan menggejalanya fenome-na objek yang dibicarakannya di latar kesadaran esais bersangkutan.

Pembedaan di atas merupakan pembedaan karangan ilmiah, karang-an sastra, dan karangan esai berdasar-kan hubungan subjek (penulis) de-ngan objek (yang ditulis). Perbedaan antara karangan esai dengan karang-an ilmiah dan karangan sastra juga terdapat pada penalaran serta jenis karangan yang kerap digunakan. Namun, untuk kepentingan tulisan ini, cukuplah pembedaan ini menan-dai perbedaan antara karangan ilmiah, karangan sastra, dan karangan esai19.

Dilihat dari segi penalaran yang digunakan maupun jenis karangan paling dominan, karangan esai memi-liki perbedaan dengan karangan ilmi-ah maupun karangan sastra.

Dalam perspektif ini, dapat dipaha-mi adanya esai yang berukuran pen-dek, sedang, maupun sangat panjang. Ukuran lazim sebuah esai maksimal sekitar 2.000-an kata. Ukuran yang dianggap ideal adalah ukuran kolom-kolom di media massa, baik koran maupun majalah. Meskipun demikian, esai dapat dibedakan menjadi esai sebagai sebuah bentuk karangan dengan esai sebagai sebuah sikap penulisan. Esai sebagai sebuah bentuk karangan mengikuti kelazim dalam ukuran yang cenderung pendek hing-ga sedang. Namun esai sebagai sebuah sikap penulisan tidaklah terbatas halam-annya, misalnya buku John Locke Essay Concerning Human Understand-ing, atau buku Ernst Cassirer An Essay on Man. Kedua penulis tersebut menamai buku mereka esai bukan terutama karena mereka menulis dalam bentuk esai, melainkan menulis dalam “disiplin” esai, yakni tidak harus selalu berfikir vertikal melainkan dapat pula berpikir lateral20 serta memiliki hubungan subjek–objek yang tidak saling meniadakan.

Dilihat dari perspektif ini, pada dasarnya, semua percobaan (baca: upaya) baru dalam wacana pemikiran cenderung ditulis dengan mengguna-kan bentuk esai. Karangan Edward Said Orientalism, misalnya, termasuk dalam karangan esai karena kepribadi-an dan subjek(tivitas) penulis tetap membayang hampir di semua halam-an, sementara objek yang dibicarakan tidak pernah diabaikan atau berubah menjadi rekaan.21 Ia dengan leluasa bermain-main dengan model, eksperi-men, catatan-catatan dan gagasan. Sebagaimana lazimnya berfikir lateral yang mencoba ke luar dari kebekuan suatu sistem tertentu, karangan Edward Said juga mencoba keluar dari kebekuan sistem wacana orientalis. Contoh ini dapat diperpanjang dengan misalnya buku-buku Franz Fanon yang mengilhami kajian Postkolonial serta buku-buku Bene-dict  Anderson mengenai nasionalis-me22 yang menantang pandangan baku (dan beku) mengenai nasionalis-me selama ini. Di Indonesia, buku Tan Malaka Madilog23 termasuk dalam jenis buku yang ditulis dalam penyi-kapan esai. Demikian pula dengan buku tipis Moctar Lubis, Manusia Indonesia.

Karena topik esai bebas, maka pu-blik esai pun dapat dikatakan bersifat umum. Hal inilah yang membedakan esai sebagai bentuk karangan dengan esai sebagai sikap penulisan. Publik esai sebagai bentuk karangan bersifat umum, sedangkan publik esai sebagai sikap penulisan cenderung tidak ber-sifat umum. Buku John Locke Essays Concerning Human Understanding, Ernst Cassirer An Essay on Man, Edward Said Orientalism, Benedict Anderson Imagined Cummunities, misalnya, bagaimanapun tidaklah ditujukan pada publik umum. Semen-tara itu, boleh jadi buku Madilog karangan Tan Malaka sengaja dituju-kan untuk publik umum, tapi hampir pasti bahwa buku itu tidak akan dibaca dan dipahami umum; dan hanya akan dibaca serta dipahami oleh kalangan tertentu.

 

Puisi Esai: Spirit atau Pengertian?

Puisi esai adalah gabungan puisi dan esai. Dengan menyebut “puisi esai” terbuka dua kemungkinan:

1)    Puisi yang ditulis dengan meng-gunakan spirit esai; atau,

2)    Esai yang ditulis menggunakan kaidah puisi.

Pertama-tama, dalam kaitan sub-jek-objek —sejauh mengacu pada karya-karya Denny JA24—  maka unsur esai sangat kuat pada puisi esai. Objek yang ditulis semuanya adalah fakta (sosial). Baik “Sapu Tangan Fang Yin” maupun “Romi dan Juli dari Cikeusik” dan “Minah Tetap Digantung”, jelas mengacu pada kejadian faktual. Kefaktualan itu diperjelas dengan kehadiran catatan kaki yang menun-jukkan kapan, di mana, bagaimana, kejadian itu dan siapa saja yang terli-bat, dengan menunjuk pada sumber yang memberitakan fakta itu. “Balada Cinta Batman dan Robin” lebih cair faktualitasnya menyangkut pelaku pe-ristiwa, namun peristiwanya —seti-daknya fenomenanya— sendiri benar-benar berdasarkan fakta sosial dan un-tuk menekankan kefaktualan ini —se-kali lagi— catatan kaki lah penan-danya.

Semua fakta itu jika dikaji secara ilmiah akan menjadi karangan ilmiah. Namun, karangan ilmiah, sebagaima-na dikemukakan di muka, menghen-daki subjek pengarang sirna separi-purna mungkin. Sirnanya subjek pe-ngarang dengan segala keterlibatan dan ketergetaran pengarang atas objek yang ditulisnyalah yang mendorong penulis, dalam kasus ini Denny JA, ber-keberatan. Isu-isu sosial yang ditang-guknya sebagai ilmuwan sosial dan peneliti sedemikian menggundahkan pengarang dan justru “keterlibatan aktif” subjeklah yang didambakan. Ke-terlibatan subjek secara penuh dengan menghilangkan entitas objek sebagai fakta keras, sebagaimana lazim dalam karya sastra, di sisi lain juga tidak dikehendaki. Fakta keras itulah yang ingin ditanggapi oleh pengarang de-ngan subjektivitasnya. Kedua hal ini, fakta objektif dan keterlibatan subjek-tif, yang justru ingin tetap dipertahan-kan oleh pengarang. Mempertahankan keduanya, mau tidak mau mengharus-kan pengarang memilih esai sebagai bentuknya. Namun, takaran subjekti-vitas itu ingin ditambahkan ke tingkat keterlibatan lahir-batin, maka sastra —dalam hal ini puisi— lah yang di-anggap mewadahi takaran keterlibatan pengarang. Untuk menjaga agar fakta tidak dilesapkan menjadi fiksi maka dibutuhkan catatan kaki untuk men-jaga faktualitas peristiwa tetap ber-tahan sebagai fakta dan bukan fiksi.

Kesastraan itu juga dipilih berkait-an dengan hubungan subjek dengan objek. Pada pendekatan ilmiah, objek kajian dilakukan seditel mungkin un-tuk menemukan kesimpulan umum atas fenomena tertentu. Sementara da-lam karangan sastra, kesimpulan umum itu dihindari. Semua kesimpul-an, pandangan, sikap, dan pendekatan yang umum atas suatu fenomena di-hindari oleh sastra karena pada dasar-nya sastra yang baik justru menguji dan menolak segala yang umum. Feno-mena umum dan pandangan generali-sasi atas sesuatu akan diuji lewat parti-kularitas. Kategori umum akan ditu-runkan dan dibumikan menjadi peng-alaman partikular seseorang dalam situasi dan kondisinya yang juga partikular.

Untuk mengambil contoh pada Denny JA, fenomena kerusuhan Mei 1998 yang mengambil korban etnik peranakan Cina, diangkat dalam pengalaman partikular seorang tokoh bernama Fang Yin. Pembumian feno-mena sosial ke dalam kehidupan tokoh dan situasi tokoh yang parti-kular itu menghendaki pendekatan sastra. Sengketa dua keluarga besar turun-temurun (bisa menjadi seng-keta turun-temurun dua kampung, dua etnik, dua kebudayaan, dua aga-ma dsb.) itu diturunkan ke dalam pengalaman partikular dua muda-mudi yang saling mencinta oleh Shakespeare. Dengan itu, tragedi yang dialami Romeo dan Juliet menjadi tragedi yang menghancurkan hati para pembaca dan penonton drama Romeo and Juliet. Risalah mengenai sebab-sebab sosiologis dan psikologis persengketaan dua kubu, lengkap dengan paparan teoretis, data statistik, dan saran pemecahan masalah, tidak akan membuat masyarakat dengan sendirinya menghayati tragedi sebuah persengketaan absurd turun-temurun itu. Justru penghadiran dua remaja saling mencinta —Romeo dan Juliet— sejak dipentaskan Shakespeare di za-man Elizabethan melintas abad sampai sekarang ini, tetap mengoyak jiwa pem-baca yang peka.

Karena berangkat dari kehendak memasuki secara pribadi fenomena-fenomena sosial yang cukup krusial di Indonesia dan mengangkatnya ke dalam bentuk puisi agar dapat terlibat secara emosional dan masuk ke dalam psikologi pelaku —dalam hal ini kor-ban— situasi sosial tertentu, maka tidak mengherankan kalau unsur komunikasi menjadi pertimbangan penting. Pilihan atas puisi akan tidak berguna jika masalah yang diangkat dalam puisi tidak dapat dikomunikasi-kan pada seluas mungkin pembaca. Dengan begitu, diksi puisi cenderung dipilih sekomunikatif mungkin. Ko-munikatif sendiri adalah pengertian yang relatif karena sepenuhnya ber-gantung pada sang penerima pesan. Makin sederhana pembaca sebagai pe-nerima pesan maka makin sederhana dan mudah penggunaan bahasa yang disebut komunikatif. Sementara se-makin canggih pembaca sebagai pene-rima pesan, maka kecanggihan juga menjadi bagian dari yang disebut komunikatif.

Pembaca Indonesia, nyaris dari berbagai tingkat pendidikan, bukanlah pembaca yang memiliki tradisi mem-baca sastra untuk akrab dengan ber-bagai teknik dan konvensi bahasa da-lam sastra. Pada titik tertentu, dapat-lah diandaikan bahwa hal ini menun-jukkan kelemahan tradisi intelektual Indonesia, karena lazimnya tradisi in-telektual mengandaikan pengenalan yang relatif baik atas bacaan sastra. Namun, menyalahkan kaum terdidik Indonesia dalam kelemahan mereka yang tidak tumbuh dengan tradisi membaca dan memahami sastra, juga bukan sebuah tindakan bijaksana. Apalagi jika diingat cukup banyak sarjana sastra yang belajar bersemes-ter-semester ilmu sastra hingga men-dapat gelar doktor di bidang sastra juga ternyata tidak terlalu mampu mema-hami bacaan sastra, meski telah me-nerbitkan beberapa buku teori sastra rangkuman berbagai teori sastra asing.

Puisi, di satu sisi kerap menghen-daki penyair untuk mengolah dan me-manfaatkan kata dan bahasa seoptimal mungkin. Chairil Anwar memilih kata dan mengejarnya hingga ke putih tulang kata-kata. Sutardji Calzoum Bachri menguji bahasa umum dan memporakporandakan konvensi baha-sa umum untuk membebaskan kata dari konvensi umum –yang sarat muatan itu— hingga kata diharap dapat berdiri bebas dari muatan-muatan sosial-ideologis-psikologis dsb. Pendeknya, pada puisi kadang ada kebutuhan pada penyair untuk meng-uji konvensi bahasa. Dalam pada itu, untuk beroleh peluang komunikasi sebesar-besarnya, Denny JA justru harus memilih bahasa yang sudah menjadi konvensi masyarakat dan memanfaatkannya sebagai cara ter-mungkin untuk berkomunikasi de-ngan seluas mungkin masyarakat.

 

***

Jurnal Sajak menyelenggarakan Lomba Menulis Puisi Esai. Denny JA telah bergabung dengan Jurnal Sajak dan menjadi warga Jurnal Sajak sebagai pemimpin umum. Dialah yang menggagas Lomba Menulis Puisi Esai, dan disepakati bersama. Dengan begi-tu, Lomba Menulis Puisi Esai menjadi gerakan yang dengan sadar dipilih oleh Jurnal Sajak.

Sebelumnya, seorang redaktur Jurnal Sajak, Berthold Damshäuser, menulis tajuk mengenai kerinduan-nya akan sajak sebagai sebuah bentuk puisi yang padu dengan metrum ter-jaga dan melagu. Kerinduan ini juga menjadi kerinduan Jurnal Sajak. Di tengah situasi perpuisian Indonesia yang prosais dengan pertimbangan yang tidak terlalu mendalam atas diksi dan metrum, kerinduan ini menjadi bermakna. Kini hadirnya rubrik “Puisi Esai” dan Lomba Puisi Esai menawar-kan sebuah ekstrem berbeda: “puisi murni” dan “puisi terlibat”.

Di atas telah dikemukakan bebera-pa prinsip dasar atas karangan ilmiah, karangan esai, dan karangan sastra, termasuk puisi. Dengan menimbang pengertian karangan esai dan karang-an sastra, dapat sedikit-banyak diba-yangkan gabungan keduanya: puisi esai.  Mungkin akan ada yang lebih ter-tarik pada istilah puisi esai dan berkutat untuk menguji dan memper-masalahkan kesahihan istilah puisi esai tersebut. Kami sendiri lebih tertarik untuk menggarisbawahi spirit yang dibawa oleh puisi esai tersebut diban-ding mempermasalahkan secara ketat istilah puisi esai.

Puisi esai —sebagaimana ditunjuk-kan karya Denny JA dalam Jurnal Sajak edisi ini— dalam beberapa hal dapat disebut dengan puisi naratif, puisi epik, balada, dan sejenisnya, meng-ingat kehadiran alur dan penokohan serta latar yang tegas.

Namun, penamaan puisi naratif akan membuat orang menggaris-bawahi segi naratif alias penceritaan-nya. Penamaan puisi epik akan mem-buat orang menggarisbawahi segi keeposan sajak bersangkutan, dan seterusnya. Baik puisi naratif maupun puisi epik, misalnya, dapat sepenuh-nya fiksi seperti epos Mahabharata. Dalam pada itu, yang ingin ditekankan dan digarisbawahi dalam puisi esai adalah justru keterkaitannya yang ketat dan solid dengan fakta, dan yang oleh karenanya membutuhkan catatan kaki atas fakta yang dirujuk. Oleh sebab itu, saya lebih tertarik pada spirit yang dibawa oleh puisi esai dibanding mempermasalahkan keketatan istilah puisi esai itu sendiri.

Beberapa spirit itu antara lain:

1)    Keterlibatan penyair dengan masa-lah krusial yang hidup dan men-jadi bagian penting dari masalah masyarakat;

2)    Rasa hormat atas fakta dengan tidak buru-buru menyimpulkan-nya secara umum suatu fakta atau fenomena (apalagi menerima begitu saja pemberitaan umum) lantas menfiksikannya;

3)    Rasa hormat atas riset untuk mengenali dengan baik dan relatif objektif masalah yang hendak ditulis sebagai puisi;

4)    Membumikan secara partikular fenomena sosial dengan segala ang-gapan stigmatis yang hidup di masyarakat sebagai anggapan-anggapan umum ke dalam peno-kohan dan latar yang spesifik; dan

5)    Menyadari bahwa pada hakikatnya sebuah puisi adalah aparat komunikasi. Puisi yang tidak dapat berkomunikasi dengan pembaca-nya kehilangan kebermaknaan-nya, baik kegagalan komunikasi itu akibat dari kegagalan penyair (obskur, misalnya) maupun akibat kegagalan pembaca (kekurangan wawasan dan pengalaman mem-baca puisi, misalnya).

Di tengah situasi perpuisian Indo-nesia yang cenderung membayangkan bahwa pembacanya adalah sesama penyair (siapa pun penyair yang di-andaikan itu), maka gerakan ini menjadi signifikan. Tidaklah bijak-sana hanya membayangkan segelintir penyair saat seorang penyair menulis puisi di negeri berpenduduk 200 juta lebih dengan permasalahan sosial yang demikian banyak, bertubi-tubi, dan kadang karut-marut. Oleh sebab itu, adalah perlu untuk selalu meng-ingatkan diri sendiri bahwa seorang penyair Indonesia menjadi bagian dari 200 juta penduduk Indonesia yang sebagian besar menderita dan tidak beruntung baik karena kesalahan me-reka sendiri maupun terutama karena kedegilan elit politiknya yang cakra-wala hidupnya tidak bisa lebih jauh dari syahwatnya sendiri, baik syahwat ekonomi, syahwat politik, maupun syahwat badani.

Sudah berkali-kali di Indonesia terjadi bencana, baik bencana sosial (Kerusuhan Mei 1998, Kerusuhan Sambas, Kerusuhan Maluku, Keru-suhan Poso, Kerusuhan Mesuji, dan lain-lain) maupun bencana alam (Tsu-nami Flores dan Aceh, Gempa Jogya dan Sumatera Barat, Meletusnya Me-rapi, dan sebagainya). Sudah banyak pula sajak ditulis mengenainya. Na-mun, seberapa partikular semua itu ditulis dalam sajak, atau sajak-sajak itu masih berupa tanggapan bersifat umum? Partikularitas membuat masa-lah menjadi tidak mudah untuk disim-pulkan sekaligus menguji kembali generalisasi bahkan stigma-stigma yang hidup di masyarakat selama ini.

Atas gempa Yogya atau tsunami Aceh, misalnya, ada kecenderungan kita untuk terluka dan berduka atas bencana itu. Namun, sastra tidak cukup hanya berbekal airmata dan kalimat-kalimat keprihatinan. Hasil-nya akan jauh berbeda jika penyair menghadirkan satu sosok partikular dalam situasinya yang spesifik. Sosok itu bisa berupa korban bencana de-ngan situasinya yang khas dan spesifik dan tidak selalu mewakili generalisasi umum yang bernama “korban ben-cana”. Bahkan, tidak kalah menantang bagi sajak mengenai gempa untuk menghadirkan sosok seorang petua-lang —tengkulak atau orang partai, misalnya— yang tampil ke muka dengan spanduk dan papan nama di lokasi-lokasi yang gampang terlihat di setiap sudut lokasi bencana, tampil ke muka mengumpulkan semua bantuan dari berbagai pelosok Indonesia kemu-dian menyalurkan sebagian kecil ban-tuan itu dan menelan sisanya bulat-bulat tanpa berkedip. Dengan sajak yang memotret secara partikular, pem-baca disuguhi gambaran yang otentik sehingga memiliki peluang untuk me-renungi suatu fenomena dari hati ke hati, bukan dari kategori ke kategori.

Ada anggapan luas di masyarakat bahwa puisi adalah lamunan dan kha-yal. Lamunan dan khayal ini pun ke-mudian dikenakan atas fiksi. Dengan begitu, suatu puisi tidak lebih tidak kurang adalah hasil khayalan dan la-munan. Jelas anggapan umum sema-cam ini tidaklah benar. Celakanya, ada juga sastrawan yang percaya bahwa puisi adalah khayalan dan lamunan. Semua puisi (yang baik) berakar pada fakta, baik fakta sosial maupun fakta psikologis. Seorang penyair sejati pada dasarnya adalah seorang peneliti, kare-na sebelum menulis puisi ia akan me-riset dengan sungguh-sungguh apa yang akan ditulisnya. Tanpa riset, tanpa pengamatan yang teliti atas objek yang ditulisnya, puisi akan menjadi se-kedar otak-atik bahasa dan kerja per-tukangan tanpa makna, karena bahkan tukang kursi terikat pada fakta bahwa kursi yang dibuatnya diuji keberma-knaannya dalam kehidupan praktis. Maka, spirit untuk mengembalikan ri-set dan pengamatan ke haribaan puisi menjadi penting di tengah masyarakat dan penyair yang cenderung percaya bahwa puisi adalah semata hasil khayal dan lamunan belaka.

Sastra terpencil dari masyarakat oleh dua hal. Pertama, membaca sas-tra tidak ditradisikan sebagai bagian penting proses pendidikan untuk menghasilkan kaum terdidik yang literat25. Kedua, sastrawan tidak terli-bat dalam tema-tema zaman26 dan masalah-masalah krusial yang dihada-pi masyarakatnya.

Chairil Anwar dikenal luas oleh masyarakat Indonesia juga oleh dua hal itu: sajak-sajaknya diajarkan dalam proses pendidikan dan ia menulis dari lubuk revolusi Indonesia yang menja-di tema zaman masyarakat saat itu.

Terakhir, puisi pada hakekatnya adalah suatu bentuk komunikasi. Komunikasi dalam sastra cenderung difahami dengan dua cara: komuni-kasi murni puitik dan komunikasi umum. Dengan mengandaikan ko-munikasi sastra sebagai komunikasi murni puitik, penyair kerap tergoda untuk mengutak-atik caranya berba-hasa dengan anggapan makin tidak lazim makin baik, makin menyalahi tata bahasa makin bercahaya. Ada penyair yang menyatukan kata ulang menjadi satu kata (dan menghilang-kan unsur kata ulang dengan makna sertaanya); ada juga penyair yang menghilangkan imbuhan pada kata kerja sehingga menjadi kata dasar belaka padahal yang dimaksud adalah kata kerja. Misalnya, rembulan pucat/angin pun gigil. Padahal jelas yang be-nar adalah Rembulan pucat/angin pun menggigil. Atau Rembulan pucat di gigil angin. Jelas Rembulan pucat angin pun menggigil dengan Rembulan pucat di gigil angin berbeda maknanya.

Sementara itu, dengan mengan-daikan komunikasi sastra sebagai komunikasi umum penyair cenderung memilih kata yang verbal dan mudah dipahami dalam kata itu sendiri.

Padahal, dalam komunikasi puitik banyak peluang dan kemungkinan da-pat dilakukan dan dimanfaatkan, mulai dari diksi alias pilihan kata, pilihan bentuk, rancang bangun, me-trum, asosiasi, gaya bahasa (metafora, metonimi, repetisi dan sebagainya). Bahkan, penyair dapat memanfaatkan bentuk nonpuitik untuk melakukan komunikasi puitik, sebagaimana ben-tuk pamflet dipilih Rendra untuk membangun komunikasi puitik pada sajak-sajak kritik sosialnya. Beberapa pembaca percaya bahwa itu adalah benar-benar pamflet, tanpa melihat kemungkinan bahwa bentuk pamflet itu dimanfaatkan oleh Rendra secara lihai untuk keluar sejenak dari bangun kelaziman puisi liris dan masuk kem-bali menghentak pembaca dengan plesetan bentuk pamflet tersebut.

Diksi maupun bentuk puitik ditun-tun oleh keterlibatan intens seorang penyair dengan objek puisinya. Inten-sitas itu menuntut kesungguhan pe-nyair untuk menemukan bentuk ko-munikasi yang tepat, yakni bentuk yang dapat mengkomunikasikan de-ngan memadai apa yang menggejala di latar kesadarannya.

Spirit untuk menjadikan puisi se-bagai bagian aktif dalam permasalahan krusial masyarakat dan mengolah tema-tema zaman; spirit untuk meng-hadirkan puisi bukan sebagai perpan-jangan dari pandangan umum atau stigma umum yang hidup di masyara-kat melainkan menguji semuanya dalam kehidupan partikular mereka yang terlibat; spirit untuk mengenali dengan sebaik-baiknya objek atau tema yang hendak ditulis sebagai puisi, baik melalui riset maupun peng-amatan intensif; spirit untuk terlibat dengan fakta keras dalam fenomena sosial yang diderita masyarakat Indo-nesia yang terpinggirkan oleh berbagai kedegilan; dan spirit bahwa puisi pada awal dan akhirnya adalah komunikasi; merupakan dasar utama mengapa puisi esai menjadi bagian dan gerakan dalam Jurnal Sajak.

Kami percaya, para penyair Indo-nesia dapat memberikan sumbangan terbaik mereka yang mungkin meng-hasilkan capaian-capaian tak terduga, hingga puisi Indonesia menjadi bagi-an inheren dalam pedih luka dan de-gup harapan masyarakat Indonesia.

 

 

Endnote

1    Webster Encyclopedic Dictionary of the English Language. Chicago: Consolidated Book Publisher, 1877.

   The Oxford English Dictionary (vol. III). Oxford at the Clarendon Press: Oxford University Press, 1997

   Ensiklopedi Indonesia (Jilid 2). Jakarta: Ichtiar Baru–Van Hoeve, 1980

   Encylopediae International. New York: Glorier Incorporated, 1986

   Encyclopediae Americana. New York: Scholastic, 2001

6    Joseph T. Shipley, The Dictionary of World Literature. New York: Holt, Rinehart, and Winston, 1962.

7    J.A. Cuddon, Dictionary of Literary Terms and Literary Theory. London: Penguin Books, 1992

8    Pembedaan esai ke dalam kategori formal dan nonformal diikuti pula oleh para penulis Indonesia, antara lain: Panuti Sudjiman, Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Sinar Harapan, 1982; H.G. Tarigan, Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Angkasa: Bandung, 1983; Saini KM dan Jakob Sumardjo, Apresiasi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia, 1985.

   Ensiklopedi Indonesia (Jilid 2). Jakarta: Ichtiar Baru–Van Hoeve, 1980

10  Joseph T. Shipley, Ibid. op.cit.

11  Ibid. loc.cit.

12  Yuyun Suriasumantri (ed.), Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia, 1982, h. 9.

13  Keenam langkah ini merupakan standar umum metode ilmiah yang lazim. Untuk sementara kita abaikan dulu pandangan berbeda yang dikemukakan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press, 1962, di satu sisi dan Karl Popper dalam The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge. 1959

13  Untuk gambaran mengenai masalah ini, bacaan populer yang cukup jelas serta enak adalah Yuyun Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1985,  khususnya h. 309-344.

14  Senn, dalam Yuyun Suriasumantri (ed.) op. cit., hal. 115.

15  Ernst Cassirer, Menusia dan Kebudayaannya: Sebuah Esai tentang Manusia (terj. Alouis A. Nugroho). Jakarta: Gramedia, 1987, h. 345.

16    K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX (Jilid II). Jakarta: Gramedia, 1985.

17  Jonathan Culler, Structuralis Poetics: Structuralism, Linguistic and the Study of Literature. London: Routledge and Kegan Paul, 1975, h. 126.

18  Jan van Luxenburg (et. al.), Pengantar Ilmu Sastra (saduran Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia, 1984, h. 22. Pandangan bahwa fik-sionalitas merupakan unsur penting sastra dianut juga oleh A. Teeuw. Lihat misalnya, A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya, 1988.

 

Kepustakaan

Anderson, Benedict. 1991. Imagined Commu-nities. London, New York: Verso

Bacon, Francis. 2000 (1985). Kiernan, Michael. ed. The Essayes or Counsels, Civill and Morall. New York: Oxford University Press

Bertens, K. 1985. Filsafat Barat Abad XX (Jilid II). Jakarta: Gramedia

Cassirer, Ernst. 1987. Menusia dan Kebuda-yaannya: Sebuah Esai tentang Manusia (terj. Alouis A. Nugroho). Jakarta: Gramedia

Cuddon, J.A. 1992. Dictionary of Literary Terms and Literary Theory. London: Penguin Books

Culler, Jonathan. 1975. Structuralis Poetics: Structuralism, Linguistic and the Study of Literature. London: Routledge and Kegan Paul

de Bono, Edward.  1987. Berfikir Lateral (terj. Sutoyo, editor Herman Sinaga). Jakarta; Erlangga.

Denny JA, Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai. Jakarta: Rene Book, 2012.

Encyclopediae Americana. 2001. New York: Scholastic

Encylopediae International. 1986. New York: Glorier Incorporated

Ensiklopedi Indonesia (Jilid 2). 1980. Jakarta: Ichtiar Baru–Van Hoeve

Freire, Paulo. 1984. Pendidikan sebagai Prak-tek Pembebasan. Jakarta: Gramedia

Kleden, Ignas. 2004. “Esai: Godaan Subjek-tivitas”, Kata Penutup Horison Esai Indonesia (jilid 2). Jakarta: Horison.

Kuhn, Thomas. 1962. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press

Luxenburg, Jan van (et. al.). 1984. Pengantar Ilmu Sastra (saduran Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia

Malaka, Tan. 1999. Madilog: Materialisme Dialektika Logika. Jakarta: Pusat Data Indikator

Montaigne, Michel de. 1993. The Complete Essays (Transl. by M.A. Screech). London: Penguin Classics.

Ong, Walter J. 2002. Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (2nd ed.) New York: Routledge

Popper, Karl, 1959. The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge

Said, Edward W. 1994. Orientalisme (terj. Asep Hikmat). Bandung: Penerbit Pustaka

Saini KM dan Jakob Sumardjo. 1985. Apre-siasi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia

Sarjono, Agus R. 2004. “Sebuah Bukan Esai tentang Esai”, Kata Pengantar Horison Esai Indonesia (jilid 1). Jakarta: Horison

Shipley, Joseph T. 1962. The Dictionary of World Literature. New York: Holt, Rinehart, and Winston

Sudjiman, Panuti. 1982. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Sinar Harapan

Suriasumantri, Yuyun (ed.). 1982. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia

Suriasumantri, Yuyun. 1985. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan

Tarigan, H.G.  1983. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Angkasa: Bandung

Teeuw, A.1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

The Oxford English Dictionary (vol. III). 1997. Oxford at the Clarendon Press: Oxford University Press

Webster Encyclopedic Dictionary of the English Language. 1877. Chicago: Consolidated Book Publisher

 

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>