ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

11. Hazmi SRONDOL : Atas Nama Cinta, Puisi Burger Ala Denny JA.

Posted on June 21, 2012

follow @hazmiSRONDOL

Penulis Novel Komedi

Banyak hal yang kadang-kala membuat kita tertawa dalam hidup ini. Dari lelucon yang memang diniatkan sebagai pelatuk tawa hingga kejadian lucu tak sengaja. Namun senyum dan tawa yang muncul bukan karena diniatkan untuk bahan lelucon tentunya akan menjadi penderitaan tersendiri bagi sumber tawa tersebut.

Salah satu contohnya adalah puisi genre romantis over dosis. Puisi cinta yang mbulet luar biasa. Puisi yang sebenarnya adalah cara menutupi rasa takut menyatakan cinta dan pujian ke pujaan hati. Tidak perlu menunjuk hidung orang lain. Paling mudah adalah mengambil contoh pada diri sendiri. Tak sedikit aku menahan rasa malu saat istriku membaca koleksi puisi lamaku semaktu puber. Usia pencarian jatidiri zaman sekolah dulu.

Tak kurang kalimat matamu bak buah kelengkeng dikupas, hatiku bagai teriris sembilu dibelah tujuh, lirikan matamu secepat polantas di perempatan jalan dan aneka kalimat hiperbola lainnya yang penuh kata perumpamaan . Perumpamaan yang hanya bisa diketahui maksudnya oleh penulisnya sendiri. Alhasil, sesuatu yang tidak jelas akan menghasilkan hasil yang tidak jelas. Pujaan hati kabur, memilih pasangan yang dengan tegas menyatakan ‘aku mencintaimu, maukah engkau menjadi kekasihku?’ Walaupun yang menyatakan tersebut jantungnya sudah hampir copot dan lutut gemetaran seakan-akan mau copot.

Selain itu, banyak hal juga yang membuat kita ketakutan dalam hidup ini. Bahkan ketakutan itu pun bukan disebabkan oleh sosok menyeramkan sepert hantu atau dosen killer. Bukan pula oleh tagihan rekening bulanan. Kadangkala, hal-hal sederhana pun menjadi sesuatu yang menakutkan. Contohnya adalah sebuah novel. Kembali tidak perlu menunjuk hidung novel lain, novel karangangku sendiri tetap menjadi momok menakutkan banyak rekan-rekan ku saat kucoba memasarkan kepada mereka.

“Novel? Waduh, berat banget kayaknya” atau “berapa halaman?” adalah dua kalimat lazim yang sering aku dengar langsung. Untung saja saja aku sudah memproteksi dengan imbukan kata komedi dibelakang kata novel serta kesengajaan yang aku pesan ke editor buku agar halaman yang ditampilkan hanya sampai 198 saja dari 206 halaman sebanarnya. Yang sudah punya silahkan cek langsung. Hehehe. Itupun dari 206 halaman sudah disetting sedemikan rupa agar 360 an halaman aslinya menjadi tersunat oleh pemilihan font huruf yang terkecil dalam standar buku dan batas margin halaman yang sangat mepet di lembarannya.

Aku fikir, cara-cara itu cukup cerdas mensiasati pasar. Namun, dengan berlapang dada aku harus mengakui ada sosok lain yang lebih jenius dalam mensikapi permasalahan minat baca masyarakat Indonesia yang masih boleh dibilang rendah. Sosok itu bernama mas Denny Januar Ali yang sering disingkat menjadi Denny J.A.

 

Atas Nama Cinta by Denny JA

Bapak dua putra sekaligus konsultan politik kelahiran Palembang, 4 Januari 1963 yang merupakan Doktor (Ph.D) lulusan Universitas Ohio tahun 2001 ini juga masuk dalam khasanah penulis buku Indonesia disela-sela kesibukannya memimpin Lingkaran Survey Indonesia (LSI) sebagai Direktur Eksekutif.

Sebuah buku yang berjudul ATAS NAMA CINTA ini dengan cerdas masuk ke sebuah genre yang kosong—atau boleh dibilang segment abu-abu yang belum dijamah oleh penulis puisi lainnya. Mungkin dikarenakan beliau merupakan ahli dalam hal survey dan pendataan, positioning buku itupun tentu bukanlah tanpa dasar sama sekali. Terbayang betapa peningnya dua maestro penyair Indonesia, pak Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri saat harus mengklasifikasi jenis sajak panjang ala Denny JA ini.

Bayangkan saja, lima sajak ini hampir mirip cerpen atau novel tapi dengan jumlah kalimat yang lebih pendek. Bahkan selintas kurasa lebih mirip sebuah plotting bahan novel dengan penggunaan bahasa yang puitis. Sempat pula aku membandingkan dengan beberapa kitab suci semua agama. Konsepnya hampir menyerupai karena hanya di buku inilah aku menemukan sebuah sajak dengan tambahan catatan kaki ibarat sebuah tafsir dan keterangan tambahan.

Isi sajaknya pun sangat unik. Dengan berani, Denny JA mengupas isu diskriminasi di Indonesia dalam untaian kisah cinta yang menggetarkan hati. Tak kurang lima isu di bahasnya. Dari soal rasisme etnis Tionghoa dalam kisah ‘Sapu Tangan Fang Yin’; isu aliran jamaah Ahmadiah dalam ‘Romi dan Yuli dari Cikeusik’; isu TKW dalam ‘Minah Tetap Dipancung’; isu homosexualitas dalam ‘Cinta Terlarang Batman dan Robin’ hingga kisah cinta berbeda agama ‘Bunga Kering Perpisahan’.

Mungkin, setelah perdebatan yang panjang, akhirnya tulisan sajak panjang ini pun mempunyai nama. PUISI ESAI, begitulah hasil perasan genre yang ditasbihkan oleh pak Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri. Sepertnya kata puisi esai memang tepat untuk menggambarkan model tulisan tersbut yang berasa pada puisi yang sukses menjauhkan diri dari sebutan puisi romantis overdosis sekaligus menjawab ketakutan masyarakat atas sebuah novel panjang. Isi cerita tuntas di paparkan dan keindahan kata tidak terpinggikan.

Walau pakar puisi sudah menamakan aliran baru tersebut, aku sebenarnya juga mempunyai nama tersendiri untuk puisi Denny JA ini. Aku menyebutnya Puisi Burger. Menurutku pribadi, kata ‘burger’ lebih tepat untuk puisi tersebut berdasarkan pola puisinya.

Seperti yang kita ketahui, burger mempunyai konsep penyajian tiga lapis yaitu roti-daging-roti. Demikian pula puisi ini. Kelima puisi dalam buku tersebut juga memakai penyajian yang sama. Pertama-tama dimulai oleh fakta kejadian (roti atas) dilanjutkan masalah yang timbul (isi)serta selalu ditutup oleh cara penyelesaian kejadian dan masalah tersebut secara fiksi (roti bawah).

Penyajian seperti ini tentu sangat nikmat untuk disantap dan mengenyangkan jiwa serta membangkitkan empati pembacanya terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia. Tak heran, konsep gabungan puisi dan novel ini cepat memikat pembacanya. Bayangkan saja, sudah lebih dari dua juta pembaca terhitung di mesin conter situs www.puisi-esai.com , tempat dimana buku tersebut dapat dibaca secara gratis.

Mudah ditebak, dengan kepopulerannya—salah satu puisi nya yang berjudul Romi dan Yuli dari Cikeusik langsung di buat versi layar lebarnya dengan sutradara Hanung Bramantyo dan dibintangi Zaskia Adya Mecca dan Ben Kasyafani.

Hadirnya film berdurasi 45 menit ini tentu saja semakin memperjelas visualisasi dari puisi esai ini, sekaligus kesempatan besar bagi (ehm) aku sendiri untuk menjadi salah satu bintang film dari sisa 3 puisi esai lainnya.

Bukan karena aku tidak ahli matematika hingga aku menyebut sisa kesempatan hanya 3 saja tetapi kalau untuk puisi berjudul ‘Cinta Terlarang Batman dan Robin’ aku tidak berminat menjadi tadi bintang utamanya. Bisa bisa setelah selesai shooting, di depan teras istriku langsung mengelar tikar buat ku tidur malam sendirian disana.

Ah tidak!

……………………

follow @hazmiSRONDOL

Penulis Novel Komedi

SRONDOL GAYUS KE ITALY

[Bekasi, 20 Juni 2012]

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>