15. Wildan Nugraha : Mempertemukan Cerita dan Berita
/1/
Denny JA tidak mempertukar-tukarkan berita dengan cerita, tetapi dia mempertemukan keduanya sehingga lahirlah beberapa puisi esai dalam buku Atas Nama Cinta, dan salah satunya berjudul “Minah tetap Dipancung”. Aminah, TKW asal Cirebon yang kerja di Arab Saudi, aku lirik dalam puisi esai itu, ialah tokoh fiktif yang dimunculkan Denny. Sementara catatan kaki yang bertaburan di dalam puisi esai itu ialah berita: data faktual, laporan jurnalistik, opini, dan komentar-komentar seputar permasalahan TKW kita.
Tentu Denny punya alasan menyusun karangan yang kemudian dinamainya sebagai puisi esai itu. Kata dia, dia ingin mengangkat sisi lain dari Indonesia yang jarang dibicarakan secara terbuka, yakni tentang isu diskriminasi, dengan cara yang lain sehingga dapat menarik perhatian publik. Jika kasus itu dituliskan dalam paper akademis, kolom, atau esai biasa, dalam hemat Denny, sulit sekali menggambarkan kepekatan emosi dan suasana interior psikologi korban diskriminasi. Dan lanjutnya, jika kisah itu dituliskan dalam puisi biasa atau prosa liris biasa, sulit juga menyajikan data dari isu yang faktual, yang minimal harus muncul di catatan kaki. Demikianlah maka saya sebagai pembaca mendapati puisi esai Denny JA “Minah tetap Dipancung” di antara empat puisi esai lainnya di dalam buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai (Renebook, 2012).
Dari judulnya, puisi esai “Minah tetap Dipancung” sudah menyiratkan kepiluan. Dan dalam wacana yang diangkat Denny, kepiluan ini bersebab diskriminasi.
/2/
Aminah pergi ke Arab Saudi karena kemiskinan. Di tempat asalnya dia sudah merasa sumpek harus melulu … berdiri kaku/Mengintip bulan redup di langit Cirebon/Kota kelahiran yang tak lagi beri harapan. Keadaan susah, suami menganggur, sementara anaknya perlu biaya sekolah. Kawan-kawan Minah sudah banyak yang berhasil jadi TKW. Dari luar negeri sana, mereka mengirim uang buat keluarga di kampung, merenovasi rumah, meniru orang kaya Jakarta.
Aminah pun ingin demikian. Di depan cermin/Kuperhatikan rupa dan tubuhku–/Aku pantas hidup lebih baik./Tekadku tak terbendung/Harapanku melambung/Membubung dibawa angin gurun:/Menjadi TKW aku! Aminah pun membulatkan niat, meminta restu suami agar diberi izin pergi. Lalu bapaknya menjual sawah untuk biaya mengurus segala persyaratan. Minah berjanji akan menggantinya.
Yang membuat Aminah akhirnya pergi juga dua faktor itulah. Realitas kemiskinan yang mengimpit sebagai faktor pendorong. Ya, sistem ekonomi lokal kita telah ambruk. Potensi daerah asal, kondisi geografis desa, pekerjaan pertanian, sudah tidak bisa memberi harapan. Dan keberadaan lapangan kerja tampak berkilauan nun jauh di sana, menjadi faktor penarik. Sementara, segala risiko yang dihadapi sebagai buruh migran, dengan posisi tawarnya yang lemah, seakan hilang dari pandangan. Dalam puisi esai itu, di bagian catatan kakinya, kita membaca banyak kenyataan buram itu: TKW kita ditipu, disiksa, diperkosa, dicambuk, disetrika, bahkan dibunuh, dan mayatnya dibuang di tempat sampah.
Dan demikianlah kita mendapati Minah yang bernasib malang. Di Arab Saudi dia bertemu majikan kaya tapi bernafsu bejat. Paspornya ditahan. Gajinya tidak dibayarkan. Diberi uang hanya setelah diperkosa. Minah meringis, lalu meradang. Waktu tuannya mengancam dengan pisau, direbutnya pisau itu, ditusukkannya ke perut sang tuan sebagai upaya pembelaan diri. Tuannya meregang nyawa. Perlindungan dan diplomasi hukum gagal. Nyawa harus dibayar nyawa. Pemerintah pasrah. Dan Minah pun tetap dipancung.
Siapakah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas tragedi itu, atas kondisi kemiskinan itu, atas keadaan yang seolah membolehkan orang jadi semena-mena terhadap Minah? Dan mengapa kesempatan untuk meraih peruntungan hidup di negeri sendiri teramat sempit buat Aminah—buat Kurniasih, buat Sumiyati, Tarwiyah, dan ribuan-jutaan nama lainnya lagi…?
Puisi esai Denny ini tidak secara khusus ingin menjawab segala hal pelik tersebut. Tapi ada bagian yang penting kita simak: (Sebagai ibu muda yang lugu dari desa/Minah tak mengerti TKW sudah jadi industri/Pengiriman TKW tak bisa distop/Jika tak ingin pengangguran merajalela).
/3/
Industri, dalam kadarnya yang ekstrem, sudah tidak mengenal manusia sebagai manusia. Tapi sebagai komoditas belaka yang tidak beda misalnya dengan handuk atau sikat gigi. Oleh karenanya, tidak sedikit yang mengkritik praktik pengiriman TKW ke luar negeri tak ubahnya sebagai perdagangan manusia. Sejak perekrutan, pembekalan, pelatihan, pemberangkatan, hingga penempatan mereka di negara tujuan. Dan semua itu sayangnya justru terkukuhkan oleh proses birokrasi yang penuh dengan kegiatan korupsi dan kolusi serta berbagai kebijakan yang dilahirkan pemerintah.
Dan betapa ironisnya bahwa TKW lalu disebut-sebut sebagai pahlawan devisa. Dengan informasi yang meyakinkan kita membaca kenyataan ini di dalam puisi esai “Minah Tetap Dipancung”. Seolah praktik pengiriman TKW merupakan salah satu solusi mujarab dan final atas permasalahan kemiskinan dan pengangguran. Berbagai instansi untuk memfasilitasi keberangkatan TKW didirikan, baik badan pemerintahan maupun perusahaan swasta yang mengantongi izin. Belum lagi calo-calo yang bergerak gesit kelebihan energi.
Semua itu mengarah menjadi mekanisme industrial. Terus berkembang dan tak terhentikan, sebab memang menggiurkan. Dan mungkin Minah tidak bisa terlalu jauh mencerna semua itu. Betapa miris tatkala dia menyampaikan pesan kepada suaminya, lewat surat, sebelum hari pemancungan leher itu: Aku hanya bisa titipkan surat/Salam untuk suamiku/Dan pesan khusus agar kelak/Anakku satu-satunya/Tidak menjadi TKW sebelum ada perlindungan hukum.
Demikianlah Minah yang sederhana, jujur, tulus, murah senyum. Dia masih juga menyimpan harapan kepada hukum untuk generasi setelahnya. Kita pun bertanya-tanya berapa banyak Minah-Minah itu. Dia membolehkan juga anaknya kelak, bila tak ada jalan lain, turut mengantre jadi TKW, masuk ke labirin pekat dan pengap itu.
Minah terlampau lugu untuk berpikir bahwa hukum peradilan yang mengurusi soal-soal kemanusiaan kerap bersitegang dengan hukum pasar, hukum industri, hukum para pemegang kapital.
/4/
Menurut Sapardi Djoko Damono dalam catatannya untuk epilog buku Atas Nama Cinta, puisi esai Denny JA ialah “ikhtiar perlawanan”, apa pun hasilnya. Ini karena, menurut Sapardi, Denny dalam puisi esainya tidak cenderung mengejek atau menyalahkan siapa pun, sehingga puisi esai itu bukan puisi perlawanan atau puisi sosial seperti yang mungkin kita bayangkan.
Dengan kata lain, puisi esai Denny hendak mengajak kita melihat kenyataan apa adanya. Persoalan kemudian pembaca jatuh simpati kepada Minah, ini karena kenyataan yang ditampilkan itulah yang membuatnya demikian. Namun, puisi esai “Minah Tetap Dipancung” pun menggiring kita untuk melihat permasalahan TKW secara objektif, bahwa bencana kadang datang juga dari ulah para TKW itu sendiri; bukan persoalan “hitam putih”, kata Denny dalam catatan kakinya; atau misalnya kita temui larik-larik: (Sebagai ibu muda yang lugu dari desa/Minah tak mengerti bahwa tak semua TKW berperilaku baik/Ada juga yang sengaja menjadi pelacur/Dan merepotkan ibu rumah tangga dan polisi di sana).
Denny JA berendah hati mengaku bukan penyair dan tidak berambis menjadi penyair. Tapi dia paham bahwa sastra, dalam hal ini puisi, punya kelebihan yang tak dipunya media lain—meski barangkali efek sosialnya terbatas. Mengenai hal yang disebut terakhir itu, Sapardi Djoko Damono misalnya pernah menulis sebuah esai pada 1977. Mengenai kritik sosial dalam sastra Indonesia, Sapardi menyimpulkan ia hanyalah “lebah tanpa sengat”. Ia tidak menyakiti kita, apalagi memaksa kita mengubah perilaku kita. Paling banter ia hanya bisa membuat kita risi, atau geli, atau jengkel. Sapardi mencontohkan jauh lebih efektif ceramah kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977, tentang manusia Indonesia kini (ceramah itu kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban) ketimbang dengan, misalnya, novelnya Senja di Jakarta yang dengan tajam menggambarkan kebobrokan masyarakat kita. Jauh lebih efektif maksudnya lebih banyak disimak dan mencuri perhatian orang banyak, termasuk elit penguasa dan para pembuat kebijakan.
Dalam hal ini, Denny mungkin berbeda pendapat dengan Sapardi. Namun, selang waktu dari 1977 hingga sekarang memang telah cukup panjang. Zaman sudah berubah. Semua kini serba cair. Siapa pun bisa, misalnya, membuat akun Facebook dan Twitter. Sehingga, lepas dari pengertian “sakral”-nya misalnya, barangkali sastra (Indonesia) pun secara sosiologis kini lebih inklusif, dan telah lebih mempunyai sengatnya.
Tapi pada akhirnya puisi esai “Minah Tetap Dipancung” memang bukan puisi yang berteriak-teriak dan mau menyengat. Ia lebih merupakan teks reflektif yang menawarkan kepada kita semacam katarsis: baik oleh “cerita” maupun “berita”-nya, kita dipandu untuk ikut merasakan interioritas jiwa seorang TKW yang dipancung di negeri orang. Kita dituntun untuk mempertanyakan mengapa negeri kita tercinta mesti mengirimkan juga Minah-Minahnya ke luar negeri kalau hanya untuk menderita, kalau hanya jadi rupa-rupa kabar yang membikin kita merah muka, dan pada gilirannya hanya merendahkan martabat dan kehormatan bangsa.
Kita pun tergetar membaca larik-larik itu: dalam senyum hangat penghabisannya, sembari memeluk bayangan suami dan anaknya, kepada kita Minah berkata: aku ikhlas mati tapi memberi makna… ikhlas mati tapi mempunyai arti.
Bandung, Mei 2012
Wildan Nugraha lahir di Bandung, 12 September 1982. Alumni Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Menulis cerpen, esai, dan tinjaun buku di media massa lokal dan nasional. Tinggal di Jalan Leuwi Anyar VII No. 37, RT 06 RW 04, Kel. Situsaeur, Kec. Bojongloa Kidul, Bandung 40234. Nomor HP: 0817613420. Alamat email: wildan.nugraha@gmail.com. Akun Facebook: Wildan Nugraha (Email: wildan.nugraha@gmail.com). Akun Twitter: nugrahawildan.
Kembali
