13. Damhuri Muhammad : Bercak Darah di Sapu Tangan Usang
Oleh: Damhuri Muhammad
Di kurun yang penuh-sesak oleh semesta kekeruhan, rasa-rasanya kejernihan hanya dapat diungkap oleh puisi. Di zaman ketika kemunafikan dibela mati-matian (sementara kejujuran dianggap aib), kewarasan dan akal-sehat barangkali hanya dapat dipandang dari balik jendela puisi. Begitu kesan yang muncul setelah khatam membaca puisi-prosaik bertajuk Sapu Tangan Fang Yin dalam antologi “Atas Nama Cinta” (2012) karya Denny JA. Puisi panjang dengan panggilan penciptaan yang bermuasal dari peristiwa pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis tionghoa (Mei 1998) tersebut memang tidak berpretensi meraih pencapaian puitik sebagaimana lelaku kepenyairan pada lazimnya, namun hasrat Denny JA untuk mengukuhkan, atau lebih tepatnya “mengonservasi” nestapa Fang Yin sebagai pengalaman otentik yang tak terbantah, seakan tiada terbendung, sebagaimana spiritnya terpancang sejak larik pembuka hingga bait penutup puisi itu.
Bermula dari sapu tangan usang hadiah kekasih masa silam Fang Yin, Denny JA perlahan-lahan merajut tarikh perempuan bermata sipit itu. Tigabelas tahun lalu, dalam suasana huru-hara dan kekacauan yang tak terkendali, empat lelaki bertubuh kekar merangsek masuk, lantas mendobrak pintu kamar Fang Yin. Dengan segenap hasrat hewani yang tak terpermanai, mereka bergegas menerkam Fang Yin, merebahkan tubuh mulusnya hingga tertelentang tanpa perlawanan yang berarti. Sedemikian sigap mereka mengangakan selangkangan Fang Yin, lalu menikmati ranum tubuh gadis muda tak berdosa itu secara bergantian. Lantang pekik dan jerit kesakitan Fan Yin tak mengubah keadaan. Tiada seorang pun yang mendengar rintihannya. Tetangga? Ah, boleh jadi mereka pun sedang meronta-menghentak menghadapi pemerkosaan serupa. Apa mau dikata, di siang jahanam itu kehormatan Fang Yin direnggut oleh empat lelaki tak bernama. Kho, kekasih pujaan yang dulu berikrar setia, setelah memastikan Fang Yin menjadi salah satu korban pemerkosaan, pelan-pelan mundur-teratur, meninggalkan perempuan malang itu untuk selamanya.
Tigabelas tahun lamanya Fang Yin telah meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya. Bersama keluarga yang memang orang berada, ia hijrah ke Amerika Serikat, menghirupkan udara kebebasan, bahkan telah resmi sebagai pemegang paspor negara Paman Sam. Namun, sapu tangan lusuh dari Indonesia masih terawat dan kokoh disimpan Fang Yin. Tetesan airmata seorang korban pemerkosaan masih mengendap di sana, rupa-rupa kenangan pahit perihal kerusuhan massal Mei 1998 seakan-akan masih terekam di setiap lipatannya. “Apa arti Indonesia bagiku?” tanya Fan Yin saat ia menggenggam sapu tangan, yang sejatinya akan segera ia bakar. Dibakar agar semua ingatan tentang peristiwa buruk di tanah kelahiran hangus dan mengabu, agar dendam-khusumat pada empat lelaki tak bernama yang telah mencabik-cabik kehormatannya juga musnah, agar segala hasrat-rindu pada kampung halaman tempat ia dibesarkan terkubur bersama abu pembakaran sapu tangan masa silam.
Sudah tak terbilang banyaknya laporan jurnalistik perihal pemerkosaan massal yang tersiar di media (baik cetak maupun elektronik), begitu pula dengan data-data hasil investigasi, baik yang resmi ataupun yang tidak. Tak terhitung pula berapa banyaknya buku yang membincang perihal duduk-perkara dan kebenaran peristiwa itu. Namun, melaporkan rinci peristiwa pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis cina dalam huru-hara Mei 1998 dengan sajak-prosaik yang disebut penulisnya sebagai “puisi-esai”, agaknya patut dikatakan sebagai ikhtiar yang belum pernah dicoba sebelumnya. Puisi-esai Denny JA tentulah tidak mungkin menjadi corong dari semua pengalaman traumatik korban pemerkosaan, tapi malapetaka Fang Yin telah tegak-berdiri sebagai representasi yang terukur dari nestapa yang menimpa sekian banyak perempuan korban pemerkosaan massal. Modus, siasat, muslihat, dan gejolak kebencian yang meluap-luap terhadap warga keturunan tionghoa terbuhul sedemikian rupa oleh sajak Sapu Tangan Fang Yin.
Oleh karena itu, Sapu Tangan Fang Yin memenuhi syarat-rukun untuk dapat disebut sebagai puisi yang melaporkan fakta dengan cara tak biasa. Dalam sejarah puisi, strategi puitik serupa pernah dilakukan oleh seorang penyair bernama Muhammad Saleh dalam karya monumental Syair Lampung Karam (terbit di Singapura pada akhir abad 19). Sajak panjang tersebut melaporkan sejumlah fakta selepas peristiwa letusan gunung Krakatau 1883. Orang banyak nyatalah tentu/bilangan lebih daripada seribu/mati sekalian orangnya itu/ditimpa lumpur, api dan abu. Demikian salah satu potret suasana pasca-letusan Krakatau dalam syair Muhammad Saleh. Sejumlah peneliti menyebutnya “syair kewartawanan”. Semacam laporan pandang mata tentang sebuah peristiwa agar dapat diketahui khalayak di belahan wilayah lain, sebagaimana kerja jurnalistik masa kini. Puisi-esai Sapu Tangan Fang Yin lebih kurang juga sedang menjalankan fungsi serupa. Dengan mekanisme kritik sumber dan kelengkapan catatan kaki sebagaimana dicantumkan penyair, tentulah fakta itu akan semakin kokoh sebagai peristiwa yang sukar diragukan kebenarannya.
Bilamana sapu tangan masa silam telah menjadi artefak yang senantiasa membangkitkan ingatan Fang Yin pada peristiwa kelam tigabelas tahun lalu¾yang boleh jadi dapat dimaafkan, tapi begitu sulit dilupakan¾maka puisi-esai karya Denny JA ini adalah sebuah artefak yang membendakan kenangan terhadap kebencian rasial yang telah berujung pada pemerkosaan massal. Betapapun Fang Yin sudah berdamai dengan masa silam, dan abu pembakaran sapu tangan usang yang menyimpan bercak darah itu telah terbang bersama hembusan angin, namun puisi- prosaik itu telah memancangkan sebuah memorable line dalam ingatan khalayak pembaca. Di titik inilah perbedaan antara reportase dan puisi dapat ditandai. Setiap berita, sebesar apapun, akan selalu ditimpa oleh kehadiran berita baru, dan perlahan-perlahan bakal terlupakan juga. Sementara larik dan lirik puisi, betapapun jaman sudah berganti, selama masih disuarakan, apalagi dirawat dengan kosmologi bunyi, akan kekal selamanya. Masa silam terbakar/derita panjang terbakar/cinta pada Kho terbakar/cemburu pada Rina pun lenyap terbakar, tidak sekadar ungkapan verbal, tapi juga bait-bait yang mendedahkan bunyi. Kelak bila bunyi itu dikumandangkan, ingatan pada nestapa Fang Yin akan kembali menyala. Inilah “hukum kekekalan bunyi” yang hanya terlahir dari rahim puisi. Maka, bercak darah di sapu tangan Fang Yin, tidak sungguh-sungguh hangus terbakar. Ia senantiasa tersisa dalam ingatan kita, para pembacanya…
Damhuri Muhammad
esais, cerpenis
buku terkininya; Darah-daging Sastra Indonesia (2010)
Kembali
