ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

16. Anwar Putra Bayu : Bunga Kering Perpisahan Menyelami Ketegangan

Posted on June 21, 2012

Dewi dan Albert menjalin cinta , dan sesungguhnya mereka berdua sejak kecil sudah saling mengenal. Seiring dengan perjalan usia mereka, maka benih-benih cinta mereka tumbuh dan berkembang. Namun, perjalanan cinta mereka terhalang di tengah jalan sebelum sampai mereka ikrarkan dalam ikatan tali perkawinan.
Ayah Dewi menginginkan anaknya harus menikah dengan Joko sebagai suami anaknya, sebab sang Ayah  tidak menginkan kalau Dewi kawin dengan Albert yang berbeda agama. Tapi sebetulnya bagi Dewi maupun Albert perbedaan agama di antara mereka bukanlah soal yang penting, dan soal yang harus dipertentangkan. Bagi mereka berdua adalah bagaimana cinta itu terus berproses dalam diri mereka. Cinta tak boleh kalah lantaran agama. Agama janganlah digadang-gadangkan, sehingga posisi cinta sagat kecil dan lemah.  Begitulah  pandangan Albert  yang juga diyakini oleh Dewi.
Sepuluh tahun usia perkawinan yang dijalankan Dewi bersama Joko, sepanjang itu pula dia tak merasakan adanya getaran cinta terhadap Joko selain sikap mengabdi kepada sang suami. Sementara hati Dewi tetap berjalan ke masa lalunya. Di dalam dirinya tumbuh mesin waktu yang setiap kali mengajaknya ke masa kuliah, dan ke masa kanak-kanak. Selama sepuluh tahun Dewi merasakan sunyi meski Joko di sampingnya, dan sepanjang sepuluh tahun tentunya Dewi merasa hampa meski suaminya ada di sekitarnya hingga akhir hayatnya.
Hatinya semakin hampa setelah suami Dewi meninggal, dia berharap akan bertemu dengan Albert yang pernah memberinya bunga Mawar. Akan tetapi, harapannya sia-sia lantaran Dewi mendapatnya Albert sudah meninggal.
Demikianlah kisah dua anak manusia yang ditulis oleh Denny JA pada puisi berjudul Bunga Kering Perpisahan yang terhimpun dalam buku puisi esai Atas Nama Cinta. Dalam buku ini terdapat 5 puisi esai masing-masing berjudul Sapu Tangan Fan Yin, Romi dan Yuli dari Cikeusik, Minah Tetap dipancung, Cinta Terlarang dan Robin, dan Bunga Kering Perpisahan. Akan tetapi, dalam tulisan review ini akan terfokus pada puisi berjudul Bunga Kering Perpisahan.
Membaca puisi esai Bunga Kering Perpisahan tersebut pembaca akan diajak untuk menyelami dan merasakan pel bagai konflik yang dideskripsikan oleh Denny JA selaku penulisnya. Betapa tidak, Denny JA telah mengungkapkan ketegangan-ketegangan yang dijalani oleh tokoh sentral (tokoh lirik) dalam puisi tersebut yakni Dewi.
Ketegangan-ketegangan itu dilukiskan oleh Denny JA sebagai ketegangan tokoh lirik dengan dirinya sendiri, ketegangan tokoh lirik dengan cinta, ketegangan tokoh lirik dengan agama, ketegangan tokoh lirik dengan nilai-nilai, dan semua itu merupakan rangkaian peristiwa yang terkandung dalam puisi esai Bunga Kering Perpisahan.
Di dalam ketegangan tokoh lirik terhadap diri sendiri misalnya terkandung dalam tujuh bait bagian awal (1) pada puisi esai Bunga Kering Perpisahan. Pada bait terakhir tokoh lirik merasakan adanya pelepasan beban atau derita batin yang dirasakan sebagaimana terungkap dalam bait ke tujuh puisi esai di bawah ini.

Kini kau di alam baka –
Setelah sepuluh tahun yang tanpa warna,
Baru sepenuhnya mataku terbuka:
Cinta memang tidak bisa dipaksa.

Ada semacam katarsis yang dialami oleh tokoh lirik yakni berupa pengakuan sejati di hadapan nisan suaminya, Joko. Tokoh lirik betul-betul menyadari bahwa apa yang dipaksakan oleh Ayah tokoh lirik tidak membuat dirinya lebih baik “setelah sepuluh tahun yang tanpa warna” di mana kehidupan tokoh lirik bagai kanvas kosong.
Di bagian lain tokoh lirik pun dilukiskan oleh pengarang mengalami ketegangan nilai. Nilai kesetian, nilai kepatuhan, dan nilai pengabdian harus diperlihatkan oleh tokoh lirik (Dewi) sebagaimana tergambar dari bait 6 dan 7 bagian lima (5) berikut ini.
Tekad Ayah bulat
Niatnya pekat
Albert harus dilupakan
Karena Joko suami Dewi di masa depan.

Tak sepatah kata terucap dari Dewi,
Bibirnya terkunci.
Gadis itu tertunduk, jiwanya berontak.
Tapi pesan ayahnya? Tak bisa ditolak!

Sebetulnya puisi esai Bunga Kering Perpisahan ini memang banyak mengandung nilai budaya yang pada gilirannya menjelmakan berbagai konflik sebagai fakta kehidupan. Jelas sekali bahwa pengarang ingin mengungkapkan persoalan ketidakadilan atau persoalan diskriminasi yang melanda tokoh lirik, mungkin  juga dialami oleh pembaca atau oleh kita semua.
Begitulah fakta yang ingin disampaikan oleh Denny JA di sekitar kehidupan kita. Siapa sangka, kalau persoalan-persoalan diskriminasi tetap dan selalu memburu manusia. Akan tetapi, persoalan itu dapat diatasi kalau saja kita mau berdamai dengan pemikiran yang jernih serta sikap egois yang sublim.
Puisi yang ditulis Denny JA ini sangat naratif dengan tetap menimbang pada wujud puitiknya serta  tak mengabaikan unsur persajakan atau unsur persamaan bunyi. Citraan yang dibangun sangat mendukung suasana puisi. Judul puisi yang diberikan merupakan pilihan yang tepat dalam mendukung esensi puisi secara utuh. Diksi yang digunakan pun terasa akrab dengan keseharian. Demikian juga bahasa sebagai media komunikasi bersahaja dan bening.

Tampaknya inilah upaya Denny JA selaku pengarang guna menuntun pembacanya agar mudah mencerna dan memahami kandungan pesannya. Pada dasarnya, bahwa puisi yang baik dalam menjembatani komunikasi dengan pembacanya adalah puisi yang tidak menggunakan bahasa prismatik, dan pengarang sudah sangat berhasil membangun komunikasi itu, apa lagi menggunakan catatan kaki yang memang jarang digunakan oleh penyair lain, sehingga diharapkan pemahaman terhadap puisi lebih lengkap dan sempurna. Tetapi itulah mungkin wujud puisi esai yang diinginkan.

Palembang, Akhir Mei 20121

Anwar Putra Bayu
Adalah peserta Kongres KSI ke II
Di CIsarua, Bogor

NAMA            : ANWAR PUTRA BAYU
ALAMAT      : JALAN PANGERAN AYIN,
KOMPLEKS BANK SUMSEL-BABEL
KENTEN LAUT, PALEMBANG
SUMATERA SELATAN
EMAIL            : anwarputrabayu@gmail.com,
apb_ind@yahoo.com

NOMOR HP     : 082175806884, 08153869606, 087795202364
ALAMAT FB AN TWITER        : Anwar Putra Bayu

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>