ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

Review Puisi Esai Denny JA

Posted on June 17, 2012

1#

Tanda Tanya
Itu awal cerita tentang sebuah cerita,

Dahi yang berlipat
Itu yang terlihat
Bukan tentang sakit sekarat
Atau bahkan hidup melarat

Ini tentang sebuah karya
Yang baru kubaca
Luar biasa
Gaya baru dalam estetika

Bahasa dan permainannya itu indah
Penyampaian makna lewat kata-kata
Sederhana namun mengena
Ke hati dan logika.

Ini tentang mekarnya bunga
Pada silaturahmi lewat kata-kata
Puisi, esai atau cerita
Opini, berita atau apalah namamya.

Aku belum pernah bertemu langsung dengan penciptanya
Bahkan berpelukan dengan mesra
Hanya sekilas foto profil di layar kaca
Bercerita

Betapa gagah dan sepertiya bijaksana.
Dengan senyum yang merekah
Dan usia yang tidak lagi muda
Terlihat dari warna di rambutnya.

Eits, jangan salah sangka
Ini bukan rayuan belaka
Ini fakta yang kuraba dalam rasa dan mata.
Bukankah menilai dan berpendapat itu hak semua
Sah sah saja.

Salam untuk anda wahai bapak Denny JA
Saya jelas lebih muda dari anda
Dan butuh pengalaman dan pembelajaran yang tidak biasa
Dari orang yang saya anggap lebih kaya ilmunya
Kecil besar, muda tua, miskin dan kaya
Siapapun dia, aku muridnya

Lagi-lagi, keyakinan itu ada
Garam di tubuh anda lebih terasa asinnya.
Saya hanya berbekal sedikit rasa
Dan pengetahuan yang saya punya
Untuk bersahabat dengan cerita
Esai, opini, berita atau puisi anda.
Apapun namanya.

Sebagai sahabat saya ingin berbagi, berpendapat dan lebih dekat, akrab.
Sebagai siswa saya ingin belajar dan membaca serta bersuara
Sebagai adik biarlah aku bermanja dalam kata-kata dan sedikit meniru gaya anda
Namun sedikit berbeda dalam penyusunan paragraph dan kata
Karena tertera hanya bisa tiga lembar kertasnya.
Kenapa imajinasi dibatasi?
Saya yakin anda bijak untuk menyikapinya

 

Hingga sampailah ia pada pertanyaan sekaligus kepasrahan
Tentang dzikirnya di akhir kehidupan.
Sedikti mengingatkan tentang perjalanan dzikir
Yang seharusnya dari lahir
Di puisi ini nafas ditegur nyinyir
Disaat-saat tertentu kita mengingat Yang Satu.

Puncak dari aroma rasa sungguh sangat kental
Berkecamuk pada diri seorang wanita
Yang kembali pada Tuhannya
Sepertinya kita ingin dibawa untuk turut merasakannya
Merasakan kesedihan dan air matanya
Merasakan gemetar jiwa kala maut sudah nyata di depan mata
Merasakan kalau kita tidak bersalah namun divonis bersalah
Sungguh terbuai dan terlena kita dalam diri Minah

Bagaimana ia meminta ampun pada Tuhannya
Bagaimana perasaan dia saat maut seperti air mata yang mengalir di pipinya
Bagaimana ia teringat anak dan suaminya
Sepertinya ada penyesalan dan kutukan di hatinya
Kenapa ia bisa tiba di titik itu
Titik ketika Tuhan akan mengambil ruh yang Ia titipkan
Di jasad minah
Sang TKW asal Indonesia yang mencari rupiah di Saudi Arabia
Kenapa harus kesana?
Kenapa tidak di sini saja
Indonesia
Negeri yang katanya harta alamnya melimpah
Negeri yang katanya subur tanahnya
Negeri yang katanya ramah orangnya
Negeri yang indah untuk dilukiskan dengan kata-kata

Walau Minah menyesal dan murka di dadanya
Dia tidak bisa berbuat apa-apa
Dia hanya wanita lemah
Walau emansipasi bergelora dimana-mana
Ia hanya manusia biasa
Yang mencoba bercerita tentang penat di hati
Walau ia telah mati.

Bukan ingin menegur pemerintah
Apalagi mencaci sang penguasa
Tidak
Ini hanya renungan untuk anda
Tentang TKW bernama Minah
Yang lehernya kini telah terpisah dari badannya

Penggambaran yang luar biasa
Membawa pada kemelut dan problema dari semula.
Klimaks dari segala
Yang mengantarkan cerita leher Minah untuk dibelah.

Di catatan kedua,
Ini tentang kenapa ia pergi ke Saudi Arabia
Sebagai tenaga kerja wanita
Karena keluarga kecilnya tidak punya harta
Padahal setiap manusia punya akal, kemampuan dan panca indera
Karena anaknya belum bisa sekolah
Padahal banyak slogan dan kata-kata yang meneriakan sekolah murah bahkan tidak dikenakan biaya
Katanya,
Karena suami yang tidak diceritakan kenapa tidak bisa menafkahi keluarga kecilnya
Padahal ada sawah orang tua yang digadaikannya

 

Di catatan kedelapan,
Karena Minah tidak bisa melapor ke kedutaan besar
Ia menghadap ke majikan perempuan,
Ternyata sang majikan tidak seperti yang diharapkan
Minah disiksa dan dianiaya
Karena dikira wanita pengganggu rumah tangganya,
Luar biasa.

Di catatan kesembilan,
Minah bercerita tentang timpang dan anehnya prosedural
Kenapa paspor dan data-data lainnya tidak ia pegang sendiri
Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa
Ia mengikuti saja
Karena ia wanita lugu dan lemah dari desa
Ia tidak tahu jawaban pertanyaannya
Karena memang ia tidak punya ilmunya
Perusahaan penyalur tenaga kerja pun tidak bilang apa-apa
Hanya rayuan dan iming-iming yang menggiurkan
Tentang uang, harta, perhiasan bahkan kedudukan
Kalau bisa menjadi tenaga kerja di luar negeri.
Miris.

Untuk kesekian kalinya Minah diperkosa
Tak terhitung jumlahnya
Akhirnya ia melawan dengan pisau yang ia simpan di kamarnya
Entah punya siapa
Pisau itu menancap di tubuh majikan yang penuh nafsu
Tepat di jantungnya
Setelah beberapa saat berada di tangan Minah,
Sang majikan tidak bisa memperkosanya lagi
Sang manjikan tidak akan menjamahnya lagi
Sang majikan tidak akan merasakan tubuhnya lagi
Namun Minah harus menghadapi persoalan yang lebih besar lagi
Ternyata di sana nyawa dibayar nyawa
Minah harus siap dipancung lehernya
Padahal ia membela diri
Padahal ia adalah korban kekerasan dan pelecehan seksual
Padahal ia tidak ingin diperlakukan seperti binatang buruan
Lagi-lagi Minah tidak tahu
Tidak ada pembelaan di mana-mana
Hanya Minah seorang diri bertahan dan coba meminta perlindungan
Hanya penyesalan yang tertanam

Di catatan kesepuluh,
Minah bercerita tentang teriakan di negerinya
Indonesia
Teriakan memperjuangkannya
Keluarga, masyarakat dan pemerintah
Namun ia merasa semua hanya sia-sia
Hanya ratapan dan penyesalan yang ada
Dan sedikit pengetahuan yang ia punya
Ternyata tidak semua TKW bahagia
Minah tetap dipancung leherya
Ia berharap cukup dia korbannya,
Sepertinya tidak

Di catatan kesebelas,
Kembali pada catatan pertama
Tentang minah yang sudah tiada
Semua penyesalan tiada guna
Karena nafasnya sudah berhenti
Minah tidak dapat bekerja lagi
Minah tidak dapat bermimpi lagi

 

Bukan jasad bukan pula tutur sapa
Pertemuan yang tak lazim dan biasa
Sungguh istimewa

2#

Kertas-kertas itu sudah ditangan
Melayanglah angan
Tak bertepi labirin pertanyaan.

Apa ini?
Cerita, esai,berita, opini ataukah puisi?

Ini seperti cerita
Dikemas dalam bahasa sederhana
Mempunyai rima
Makna dan fakta
Ya, ini cerita yang luar biasa

Ini pun seperti esai
Mengangkat isu-isu yang nyata
Sosial, politik dan agama
Dibalut indah dengan sejarah dan cinta
Dari catatan kaki yang tersedia
Ya ini esai tentang hidup manusia

Ini juga seperti puisi
Dari paragraph dan pemilihan bahasa hati
Diselipkan untaian logika di sana sini
Ya, ini puisi kolaborasi

Ketika harus memilih satu di antara lima
Aku seperti berdiri pada rasa takut yang akut, stadium tiga
Aku tak ingin kehilangan semua
Karena di sana dan di sini ada cinta yang bergelora

Bukankah hidup lebih indah jika penuh dengan cinta
Dan aku tidak ingin meninggalkan semua
Aku ingin hidup tenang dan bahagia karena cinta
Lewat puisi dan kata-kata yang menggetarkan jiwa

Namun fakta yang anda berikan pada tulisan anda
Seperti sabda kudus yang tertera
Aku harus memilihnya.
Bukan karena salah satu lebih terasa dan lebih besar cintanya

Ini bukan pemilihan anggota dewan dan kepala Negara
Kadang hanya berdasar muka
Yang membuat tebal dompet di celana
Atau hubungan keluarga dan tetangga

Setelah melewati ritual dan semedi
Berulang-ulang dan berkali-kali
puisi itu kencang berdengung
Tentang Minah yang tetap dipancung

3#

Fitrah manusia sejak jaman gelap dulu
Di rahim ibu
Tentang pernyataan Allah Yang Maha Satu,
Di awal cerita sekaligus klimaks rasa dan rindu
Minah benar-benar menyatakan itu, sungguh ia kembali mengadu
Dengan tasbih, air mata dan kata selalu
Ia kembali meminta pengertian kalau ia tidak membunuh

 

Kenapa tidak ia garap saja, ia tabur dan tanam benih harapan di sawah itu.
Aneh.
Sepertinya harapan tinggi ingin memiliki uang dan harta sudah menutupi kekayaan dan jati diri
Sepertinya rayuan dan omongan orang yang tinggi lebih dinikmati
Semakin aneh saja.

Di catatan ketiga,
Minah hanya bercerita
Tetang tibanya ia di Arab Saudi
Masih terbayang dengan mimpi dan harapan tinggi
Namun tetap saja berjiwa kuli

Di catatan keempat,
Minah berbangga diri
Tentang pekerjaannya yang dipuji
Tentang akhlaknya yang sopan dan terpuji
Namun inilah awal malapetaka terjadi
Ternyata sikap baik dan berbudi tidak selamanya berbuah ranum
Ini budaya yang berbeda tiap Negara
Sepertinya minah tidak diajari tentang perbedaan antar Negara,
Sang majikan pria merasa terpikat
Ingin menikmati tubuh minah yang kuning langsat
Alasan tidak terlalu memikat
Karena tidak jelas terlihat

Di catatan kelima,
Minah mulai takut
Dia merasa butuh suami dan orang-orang terdekat
Ketika harapan menerima upah tak kunjug sudah
Karena hukum dunianya lemah
Tak ada perjanjian yang seharusnya lumrah dan seharusnya
Antara ia dan majikannya
Kemana perusahaan tenaga kerja yang memberangkatkannya
Kemana Negara yang pahlawannya membutuhkan pelukan hangat

Di catatan keenam,
Minah diperkosa sekali
Dua, tiga, empat kali
Bahkan berkali-kali
Minah tak kuasa
Ia lemah
Hanya air mata yang ada
Karena ia tidak tahu harus bagaimana dan kemana
Tak bisa berbuat apa-apa.
Minah dikira wanita yang bisa dibayar kehormatannya
Sungguh ironis dan menyedihkan

Di catatan ketujuh,
Berkali-kali Minah diperkosa dan ia dilempari hadiah
Dengan mata uang sana dan nista
Terbersit ingin mengirimkan uang itu ke suami dan anaknya
Namun ia teringat idealisme yang tertanam di dada
Ia tidak ingin keluarganya merasakan duit haram.
Karena ia anak pesantren dan sedikit mengetahui ilmu agama.
Kalaupun ia mau mengirimkan uang itu ke keluarga
Lewat mana,
Kalaupun ada kesempatan untuk keluar rumah majikan
Lebih baik ia kabur ke kedutaan besar
Dan melaporkan majikannya yang kasar.
Ataukah ia memang menikmati persetubuhan dengan sang majikan,
Sepertinya tidak.

 

Minah tidak dapat memeluk anak dan suaminya lagi
Minah tidak dapat tersenyum kembali
Namun senyumnya membara di hati
Lewat puisi ini.

M.Irfan Kurniawan.
Jln Mukhtar Gg Masjid Arrahmah RT 01/08 No. 19 Sawangan Baru Depok. Kode pos; 16511
irfankurniawan816@ymail.com
No Hp; 02199243117

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>