ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

Review Puisi Esai Cinta Terlarang Batman dan Robin

Posted on June 17, 2012

MENELANJANGI CINTA:
REVIEW CINTA TERLARANG BATMAN DAN ROBIN
PUISI-ESAI ATAS NAMA CINTA KARYA DENNY JA

 

Serupa tetesan salju di gurun Sahara, Atas Nama Cinta hadir dalam khasanah sastra Indonesia yang haus sentuhan cinta universal. Kelahiran puisi-esai buah karya Denny JA ini merupakan jembatan baru dalam inovasi sastra. Lumrahnya, genre puisi dan esai menjadi dua dunia yang terpisah. Tetapi dengan visi cinta, Denny JA berhasil memadukan dengan apik kedua genre menjadi hibrida sastra yang sinergis, mudah dipahami, dan kaya imajinasi. Di samping menguak realitas diskriminasi di Indonesia, konsep cinta dalam puisi-esai Denny JA berjuang untuk merdeka atau ‘telanjang’ dari jeruji ‘religi’ dan belenggu ‘moralitas’.

Dari sisi kompleksitas ideologi karya sastra, Cinta Terlarang Batman dan Robin (CTBDR) saya nilai paling pantas mewakili Atas Nama Cinta. CTBDR mengisahkan cinta sejenis antara Amir sang Robin dan Bambang sang Batman. Panah asmara Cupid (simbolisme Eros) dikenal lebih banyak menumbangkan ‘kasta’ atau ‘lapisan sosial’ budaya patriarki (Romeo dan Juliet, Cinderella, dll). Namun, dalam CTBDR, panah asmara menembus dikotomi orientasi seks yang jauh lebih kompleks karena berkorelasi langsung dengan sistem agama, politik, sosial, dan budaya Indonesia yang dibayang-bayangi tirani.

CTBDR memiliki relevansi dengan substansi karya sastra yang bermutu dalam persepsi Umberto Eco berdasarkan wawancara The Paris Review yang dimuat di Lembar The Art of Fiction No. 197. Umberto Eco mengatakan, “Saya selalu berasumsi bahwa buku yang bermutu adalah lebih cerdas dari penulisnya. Ini terlihat dari hal-hal yang tertulis tapi si Penulis tidak menyadarinya.” Demikian pula CTBDR; karakter-karakter CTBDR lahir, ‘bermain’ dengan realitas sosial, dan lebih bergairah daripada makna harfiahnya.

Homoseksual: Integritas, Eksistensi, dan Religiositas

Kesadaran integritas merupakan jembatan untuk mengidentifikasi dan menempatkan diri kita sebagai bagian harmoni dalam Semesta. Jika kehidupan bisa kita sebut sebagai Taman Bermain; individu yang memiliki kesadaran integritas akan bermain dengan spontan dan penuh energi; karena individu ini meyakini ia berada di tempat yang tepat dan seluruh sikapnya merupakan bagian substansi Semesta. Paradigma inilah yang belum menjadi dasar universal bagi kaum homoseksual untuk lepas dari jeratan label (atau memasang label sendiri?) sebagai golongan marginal. Siapapun yang tidak memiliki kesadaran integritas akan rentan menjadi ‘pembenci diri’ (self-hater) karena dijangkiti virus krisis identitas.

Kendala integritas pertama homoseks; kecenderungan memaknai homoseks dari interpretasi tekstual Kitab Suci secara konvensional (berupa doktrin atau dogma). Misalnya, dalam Islam dikenal melalui tradisi fiqih. Politik, ekonomi, dan sosial-humaniora dalam fiqih memiliki pembahasan terdikotomi dan parsial. Selain itu, otoritas ijtihad—tradisi Islam yang meliputi perbedaan pendapat, penalaran, perbandingan filsafat, dan interpretasi kembali hukum Islam—didominasi sebagian besar lembaga resmi yang sarat penyimpangan feodalisme dengan reputasi layak kita pertanyakan. Ini menghalangi umat Islam untuk memiliki pemikiran dan tatanan sosial yang berkeadilan;

[...] Kisah al-Quran pun disampaikan:
Tersebutlah ada segerombolan laki-laki
Mengepung rumah Nabi Luth
Yang punya tamu seorang laki-laki [...] (Denny JA, 2012).

Dari fragmen ini terlihat al-Quran sangat diskriminatif. Bila diibaratkan al-Quran sebagai samudra religiositas, kisah Nabi Luth hanyalah setetes tirta pengetahuan. Menyedihkan, al-Quran dilihat dari setetes tirta pengetahuan dengan mengabaikan samuderanya yang menyerukan kewajiban berzakat dan puasa untuk mengajarkan kesederhanaan, solat lima waktu dengan rukuk dan sujud sebagai ekspresi spiritual yang merefleksikan secara nyata betapa rendahnya kita di hadapan sang Mahacinta, dan pengetahuan lainnya dalam visi religiositas yang dibentangkan al-Quran tanpa menyerukan dikotomi sosial.

Dalam persepsi terdikotomi dan parsial (doktrin atau dogma) mengenai Kitab Suci, pertanyaan sederhana ‘Siapa Tuhan?’ dan ‘Siapa Manusia?’ sering tidak terjawab dan ambigu. Sehingga banyak bermunculan ‘Manusia yang Mengaku Tuhan’. Para homofobia menjadi ‘Manusia yang Mengaku Tuhan’ yang mendiskriminasi dengan tindakan anarkis para homoseks. Di mana letak Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin? Demikian pula layaknya dalam Injil; di mana Tuhan yang Mahakasih? Kecamuk ini meruah ke polemik sosial lainnya, seperti aksi-aksi anarkis atas nama Tuhan.

Kendala kedua, para homoseks mengidentifikasi eksistensi diri pada eksistensi individu lain; [...] Dibacanya buku pemberian Bambang

Tentang 100 tokoh homoseks dunia;
Orang-orang menjadikan mereka teladan
Sejarah telah mencatat keunggulan mereka [...] (Denny JA, 2012).

Homoseksual adalah suatu perkara, tetapi eksistensi adalah perkara dalam wajah lebih khusus. Salah satu cara meneguhkan eksistensi diri adalah melalui karya. Bahkan, berkarya tidak hanya sebagai wujud eksistensi, tetapi juga sebagai aktualisasi diri; sebuah tindakan cinta yang nyata. Alexander Agung mewariskan keberanian. Hans Christian Andersen dan Oscar Wilde menulis untuk menyalakan pelita sastra dunia. Demikian pula Leonardo da Vinci, Michel Angelo, Plato, ataupun Julius Caesar. Mereka semua berkarya, berdikari, keluar dari kegelapan gua dan berani menghadapi matahari, bukan melegitimasi karya individu lain (eksistensi di luar diri) untuk melahirkan eksistensi pribadi atau yang dimaknai Irshad Manji sebagai ‘politik identitas’.

Dalam rentang waktu yang kurang dari dua bulan sejak Atas Nama Cinta beredar (15 April 2012), terjadi insiden kekerasan yang berkorelasi dengan perjuangan hak asasi homoseksual di Indonesia. Aksi anarkis dilakukan oknum ormas Islam terhadap Irshad Manji dan peserta diskusi buku “Allah, Liberty and Love, Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan” di kantor LKiS, kawasan Sorowajan Bantul, Yogyakarta, Rabu (9/5/2012). Meskipun saya seorang Muslim, saya tidak bisa membenarkan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun yang mengatasnamakan Islam. Karena syariat Islam semestinya disampaikan dengan cara yang Islam pula, yaitu cara yang Rahmatan Lil’alamin. Yang diperjuangkan Irshad Manji adalah sebuah pemikiran, maka tindakan oposisi yang paling tepat adalah dengan beroposisi lewat pemikiran pula, bukan tindakan anarkis yang mengesankan Islam sebagai agama tribal (teroris) dan tidak memiliki kaum cendikiawan (intelektual) siap ‘tarung’ pemikiran. Di lain sisi, perjuangan Irshad Manji tersebut memang rentan konsekwensi yang tidak bersahabat. Karena yang diperjuangkan lesbian Kanada ini berupa revolusi pemikiran, perubahan secara cepat. Golongan konservatif akan mengalami culture shock dan rentan bersikap reaktif seperti kambing kebakaran jenggot.

Revolusi pemikiran sangat penting, tapi realisasi eksistensi juga tak kalah penting. Bila kaum homoseksual  (khususnya di Indonesia) lebih produktif berkarya dan aktif berinovasi sebagaimana tokoh-tokoh homoseksual yang menorehkan namanya dalam sejarah dunia, evolusi tatanan sosial akan terjadi lebih ramah. Karena pada dasarnya, Indonesia bukan negara heteroseksual, melainkan negara yang menghargai keanekaragaman; sebuah negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Tuhan Yang Mahaesa (Allah Swt)-lah hakim paling adil dan berhak menghukumi atas makhluk ciptaan-Nya.

CTBDR menjalani fase klimaks yang sangat natural dan mengejutkan;
[...]Bambang kini menetap di San Francisco
Menjadi warga negara Amerika Serikat,
Menikah resmi dengan sesama jenis asal Los Angeles – di gereja sana [...] (Denny JA, 2012).

Bambang ternyata menikah dengan pria lain di gereja yang mengindikasikan sang superhero pindah agama. Terlihat sisi paradoks. Cinta Bambang kepada Amir merupakan esensi cinta superhero yang pantas dipertanyakan. Lebih dekat lagi, Bambang menjadi warga negara Amerika Serikat yang beriklim ramah homoseksual. Di mana letak kesadaran integritas superhero pada Bambang bila ia lari dari zona aman? Bukan ‘kah Menghindar dari zona bahaya berarti melarikan diri dari sesuatu yang wajib kita perbaiki?

Sebagaimana Batman yang dilabelkan pada Bambang, semestinya superhero selalu berjuang dalam (memperbaiki) zona bahaya, yaitu Indonesia pada konteks CTBDR. Justru (proses) kesadaran integritas superhero terlihat pada Amir; ia berperang menghadapi diskriminasi bangsanya, terluka, hancur untuk memperjuangkan cinta yang ia yakini, dan tidak pernah ‘sungguh-sungguh’ lari ke lain hati.

Karya sastra merefleksikan realitas sosial sebuah bangsa. Meskipun berkisah tentang cinta sejenis, CTBDR berhasil menguak krisis integritas dewasa ini. Bahwa bangsa Indonesia berada di garis tepi eksistensi diri; pemaknaan agama masih parsial (berakar dari doktrin dan dogma), bukan mengedepankan visi religiositas; individu marginal cenderung melegitimasi karya individu lain sebagai identitas, bukan berdikari di atas karya sendiri; para superhero melarikan diri ke zona aman, bukan berjuang di zona bahaya; wong cilik atau orang-orang kecil (dipandang lemah), seringkali mempunyai hati dan energi cinta jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Atas Nama Cinta telah berjuang ‘telanjang’ melalui Sapu Tangan Fang Yin, Romi dan Yuli dari Cikeusik, Minah Tetap Dipancung, dan Bunga Kering Perpisahan. Namun, dalam Cinta Terlarang Batman dan Robin (CTBDR) ‘ketelanjangan’ buah pena Denny JA meretas puncak ranah universal. Karya apik Denny JA ini telah menjadi monumen reformasi pemaknaan cinta dalam khasanah sastra dan berpotensi menjadi embrio pengungkapan tragedi diskriminasi yang dibekukan sejarah. Terus berjuang melalui sastra Bung Denny JA! Selamat datang (Atas Nama) Cinta!

SULFIZA ARISKA

Lahir pada 4 November 1984 di Ujung Gading, Pasaman, Sumatera Barat. Tahun 2010, terpilih sebagai Cerpenis Muda Pemuda Berprestasi Tingkat Nasional Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia pada Puncak Nasional Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-82 di Surakarta. Tulisannya tersebar dalam Sebilah Sayap Bidadari (Pustaka Fahima, 2010), Yang Muda, Yang Kreatif (Auracitra, 2010), Imajinasi tentang Kota (Festival Seni Surabaya, 2010), Capung Teman Kita (DDS, 2011), Toba dan Samosir untuk Dunia (Balai Pelestarian Pusaka Indonesia, 2011), dll.
E-mail: narcist84@yahoo. fr
FB    : Sulfiza Ariska
HP    : 02749291284
Alamat    : D.A. ADI
JALAN NAGAN LOR TAMAN KRATON 1 NO.370
YOGYAKARTA 55133.

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>