ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

Puisi esai, Apa dan Mengapa?

Posted on June 16, 2012

Puisi Esai, Apa dan Mengapa?
Sebuah Proses Kreatif
Denny JA

Tahun 2006,  Poetry, A Magazine of Verse, menerbitkan tulisan John Barr,  pemimpin Foundation of Poetry. Judul tulisannya: American Poetry in New Century. Tulisan tersebut merupakan kritik tajam atas perkembangan puisi di Amerika Serikat saat itu. Namun kritiknya juga relevan dialamatkan kepada dunia puisi Indonesia saat ini.

Menurut John Barr, puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi juga mengalami stagnasi, tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Para penyair asyik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka  semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Dalam bahasanya sendiri ia mengatakan: “poetry is nearly absent from public life, and poets too often write with only other poets in mind, failing to write for a greater public.”

John Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik dan bersinerji dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas. Saat itu  puisi juga memotret aura dan persoalan zamannya.

Saya sendiri pernah melakukan riset terbatas mengenai puisi yang berkembang di Indonesia di tahun 2011. Saya mendirikan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), yang melakukan riset ratusan kali. Riset yang saya buat di LSI bahkan mampu memprediksi apa yang belum terjadi, seperti pemenang pemilu legislatif dan presiden 2009 tempo hari.  Kali ini saya mencoba melakukan riset dengan sampel dan tujuan yang lebih terbatas di dunia puisi.

Sebagai sampel, saya pilih secara random lima puisi yang dimuat koran paling ternama Indonesia, untuk rentang waktu bulan Januari 2011 – Desember 2011.  Saya tidak mengklaim itu representasi puisi seluruh Indonesia. Namun sampel itu representasi dari puisi yang diseleksi oleh koran yang paling besar oplahnya saja.

Lalu puisi tahun 2011 ini saya berikan kepada tiga kelompok pembaca: pendidikan tinggi (sarjana ke atas: S1,S2,S3), pendidikan menengah (hanya tamat SMU dan SMP), dan pendidikan rendah (hanya tamat SD). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Kepada mereka juga diberikan perbandingan puisi karya Chairil Anwar (Aku, 1943) dan WS Rendra ( Khotbah, 1971)

Cukup mengagetkan, bahkan mereka yang tamat pendidikan tinggi sekalipun tidak mengerti dan tidak memahami apa isi puisi tahun 2011 yang dijadikan sampel itu. Mereka yang pendidikannya menengah dan bawah lebih sulit lagi memahaminya. Mereka menilai bahasa dalam puisi ini terlalu menjelimet. Jika bahasanya saja tidak dimengerti, mereka juga sulit untuk tahu apa yang ingin disampaikan puisi itu.

Responden yang diteliti masih bisa memahami dan menebak pesan puisi Chairil Anwar atau Rendra. Kesimpulan responden mengenai puisi Chairil dan Rendra memang beragam. Namun mereka lancar menyampaikan apa yang mereka duga menjadi pesan puisi tersebut.

Namun responden sangat berjarak dengan aneka puisi tahun 2011 yang dijadikan sampel. Sekitar 90 persen dari responden bahkan tidak bisa berkomentar sama sekali soal pesan puisi. Ketika responden diminta menganalisa mengapa mereka sulit memahami puisi itu, komentarnya beragam.

Yang lebih toleran berkomentar bahwa puisi itu sama seperti lukisan. Ada lukisan realis yang mudah dipahami. Ada juga lukisan abstrak yang membuat kita harus mengerenyitkan dahi keras sekali untuk mengerti isinya. Itu hanya masalah pilihan berekspresi.

Yang sinis menyatakan, itu karena  (bahasa diedit) “penyair masa kini hanya sibuk dengan imajinasi dan kesepiannya sendiri. Penyair itu menuliskannya dengan bahasa yang susah dipahami, dan itu kemudian diberi label “pencapai estetik bahasa.” Seolah semakin sulit dipahami, semakin tinggi mutu dan kualitas puisi. Mereka memiliki komunitas yang saling memuji bahasa rumit itu. Lengkaplah mereka semakin terasing dari masyarakatnya yang lebih luas.”

Namun baik yang toleran ataupun yang sinis mengidealkan puisi seharusnya bisa dinikmati masyarakat luas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

Kutipan di atas adalah dua sumber yang layak didengar. Sumber pertama adalah pakar puisi.  John Barr memimpin yayasan yang menerbitkan majalah puisi ternama, yang kini majalah itu sudah berusia seratus tahun.  Sumber kedua adalah publik luas yang diriset melalui sampel. Dua sumber itu sampai pada kesimpulan sama, dan harapan yang sama.  Mereka merindukan puisi yang lebih peduli kepada publik luas, di luar diri dunia para penyair itu sendiri. Mereka rindu juga dengan bahasa puisi yang lebih mudah dipahami publik luas.

Ini memang era kebebasan berekspresi. Keberagaman tak terhindari dan hadir di semua wilayah. Mulai dari agama, ideologi, sampai pada kesenian, selalu hadir spektrum warna warni.  Adalah hak setiap insan, juga setiap penyair, untuk memilih bentuk ekspresinya sendiri. Setiap penyair, apapun bentuk bahasa yang dipilih, sah hadir di era postmodern saat ini. Tapi kutipan dua sumber di atas yang merindukan kedekatan puisi dengan masyarakat luas menarik juga untuk direspon.

-o0o-

 Maret 2012, saya menerbitkan buku puisi “ Atas Nama Cinta.” Di samping versi cetak, buku itu juga dibuatkan versi mobile web, sehingga dapat diakses dari handphone dan twitter sekalipun. Oleh sebagian, buku itu dianggap sebagai tonggak  yang membawa sastra ke era sosial media.

Hanya dalam waktu sebulan, HITS di web buku puisi itu melampaui satu juta. Ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah buku puisi, buku sastra bahkan buku umum sekalipun.  Tak hanya membaca, sebagian mereka juga memberi komentar,  seperti yang bisa dilihat di www.puisi-esai.com.

Saya juga terkaget. Ternyata publik luas membaca dan merespon puisi dalam waktu cepat dan massif. Saya menduga mereka akan memberikan respon yang sama kepada puisi lain. Asalkan mereka dihidangkan puisi dengan bahasa yang mudah. Asalkan mereka disajikan tema yang juga menjadi kegelisahan mereka sendiri. Asalkan mereka diberikan pula kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan yang kini hot,  social media: twitter, smartphone, internet.

Saya sendiri sebenarnya tidak berpretensi menjadi penyair, seperti yang saya tulis di bagian pengantar buku puisi itu. Saat itu saya sedang mencari bentuk lain agar kegelisahan sosial dan komitmen saya itu sampai ke publik dalam bentuk yang pas. Dalam perjalanan saya selaku penulis, saya pernah sampai ke “aneka puncak gunung.” Namun  “aneka puncak gunung” itu masih tak memadai untuk mengekspresikan anak batin saya yang satu ini.

Saya sudah mengekspresikan aneka isu sosial dalam bentuk makalah riset. Temuan riset melalui LSI itu saya publikasi. Hasilnya sudah luar biasa. Di tahun 2011 sampai 2012, misalnya 10 hasil riset saya itu menjadi headline halaman 1 koran nasional juga 10 kali berturut-turut. Ia pernah menjadi headline halaman 1 di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Jakarta Post, Seputar Indonesia, Rakyat Merdeka, dan sebagainya. Tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah indonesia sejak berdiri, hasil riset mendapatkan perhatian media sedemikian besar, dan diletakan di headline halaman satu berturut-turut.

Saya sudah pernah mengekspresikan aneka isu sosial dalam kolom. Hasilnya juga sudah maksimal. Aneka kolom saya total jumlahnya tak kurang dari seribu (1986-2004) pernah dimuat di semua media nasional. Saya sudah pula mengekspresikan isu sosial itu ke dalam program talk show. Hasilnya juga sudah maksimal. Selama tiga tahun saya menjadi host  talk show di Metro TV dan Delta Radio. Opini semua itu sudah dibukukan.  Total semua opini sosial itu tak kurang dari dua puluh buku.  Tak pernah terjadi pula sebelumnya terbit sekitar dua puluh buku sekaligus hasil opini isu sosial yang pernah diterbitkan di media nasional.

Namun aneka bentuk opini itu tak lagi pas untuk mewadahi “anak batin” saya kali ini. Kepada kawan dekat sering saya katakan saya sedang “hamil tua.” Namun saya belum kunjung berjumpa medium untuk “melahirkannya.” Sejak tahun 2004, saya break dengan dunia tulis menulis di media. Sampai tahun 2012, selama delapan tahun itu mungkin hanya sekali atau dua kali saja saya menulis untuk media. Saya mencari medium baru. Saya merindukan medium baru.

Medium tulisan yang saya idamkan adalah yang bisa menyentuh hati. Namun medium itu juga membuat pembaca mendapatkan pemahaman tentang sebuah isu sosial, walau secuplik. Beberapa kriteria saya susun: 1) ia harus menyentuh hati dengan cara mengeksplor sisi batin, dan mengekspresikan interior psikologi manusia kongkret. 2) Ia harus memotret manusia kongkret itu dalam suatu event sosial, sebuah realitas kongkret juga yang terjadi dalam sejarah. Tak terhindari sebuah riset dibutuhkan untuk memahami realitas sosial itu. Tak terhindari juga catatan kaki menjadi sentral dalam medium itu. 3) Ia harus dituliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti publik luas, tapi tersusun indah. 4) Ia harus menggambar suatu dinamika sosial atau dinamika karakter pelaku. Tak terhindari medium itu menjadi panjang dan berbabak.

Empat kebutuhan itu tak bisa dipenuhi dengan medium yang ada sekarang. Esai atau makalah atau kolom jelas tidak mengeksplor sisi batin manusia. Sementara puisi yang ada juga tidak bercatatan kaki hasil riset layaknya sebuah makalah. Saya mengembangkan medium sendiri yang kemudian disebut puisi esai. Ini adalah puisi bercita rasa esai. Atau esai yang dituliskan dalam bentuk puisi. Saya menyebutnya puisi esai. Lahirlah anak batin saya dalam format puisi esai itu.

Apakah ini sebuah genre baru dalam puisi Indonesia? Itu bukan urusan saya lagi. Di bawah langit di era sekarang memang tak ada apapun yang sepenuhnya baru. Namun ramuan empat kriteria yang saya “masak” itu memang lain. Catatan kaki yang ada di puisi itu layaknya seperti catatan kaki sebuah makalah ilmiah.

Yang saya tak duga adalah sambutan publik atas puisi esai itu. Di web resmi www.puisi-esai.com, HITSnya melampaui sejuta dalam waktu kurang dari sebulan. Di dunia sosial media, twitter, buku ini diperdebatkan. Seniman papan atas bersedia bekerja sama ikut menggaungkan puisi esai ini. Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri dan Ignas Kleden bersedia memberi catatan penutup. Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim, Sudjiwo Tedjo dan Fatin Hamamah membuat video klip pembacaan puisinya. Hanung Brahmantyo, sutradara penerima citra itu, juga membuat video klip, dan merencanakan membuat film layar lebar. Jika semuanya lancar, ini puisi pertama yang dibuat ke dalam film layar lebar.

Saya menemukan format tulisan yang bisa mewakili kegelisahan saya saat itu. Dilihat dari tingginya HITS di website puisi, saya merasa format tulisan itu juga diterima publik dengan antusias.  Banyak rekan lain yang juga akan menuliskan opini dan puisi dalam format tulisan serupa.

-o0o-

Mei 2012, saya berjumpa dengan para penyair dan seniman satu generasi. Sudah lebih dari dua puluh tahun mereka hidup di dunia kepenyairan. Sebuah majalah puisi yang diberi judul: Jurnal Sajak mereka kembangkan.  Mereka adalah Agus Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Sy. Alwy, Jamal D Rahman, Tugas Supriyanto. Dedikasi mereka pada puisi sudah dites oleh waktu.

Saya menceritakan apresiasi saya atas Jurnal Sajak yang mereka buat. Saya juga membandingkannya dengan Poetry, A Magazine of Verse yg didirikan oleh Harriet Monroe di tahun 1912. Majalah Poetry bisa hidup panjang sampai 100 tahun dan dianggap penting tentu karena banyak hal. Salah satunya, Poetry ikut menyerap dan mendinamisasi aneka “movement” dunia puisi yang hadir di aneka zaman. Mengikuti dinamika evolusi puisi di Amerika Serikat bisa dilakukan dengan membaca majalah itu dari waktu ke waktu, karena majalah itu memantulkan apa yang riel berkembang dalam evolusi puisi.

Saya berargumen selayaknya di Indonesia, Jurnal Sajak memilih jalan seperti Poetry di Amerika Serikat. Satu yang bisa dilakukan, Jurnal Sajak juga menampung dan ikut mendinamisasi “movement” serupa. Idealnya Jurnal Sajak versi Indonesia tak hanya memuat karya terbaik penyair pemula ataupun senior. Tapi Jurnal Sajak juga ikut aktif mendinamisasi kegairahan dan penyegaran dunia perpuisian Indonesia.

Saya membayangkan, puisi esai ini dapat menjadi awal untuk “disentuh” oleh Jurnal Sajak.  Puisi esai potensial untuk dikemas menjadi sebuah “movement” juga.  Sebelumnya dengan Ciputat School, saya dan kawan-kawan di sana juga bergerak di arah yang sama. Zuhairi, Gaus, Novri, Anick, Jon, Elza, Ihsan, Neng Dara, Buddhy dan kawan lain di Ciputat School sudah terlebih dahulu ikut merintis menjadikan puisi esai sebagai “movement”  cara baru beropini dan cara baru berpuisi.

Gayung bersambut. Pertemuan dengan Agus Sarjono dan kawan-kawan, membuat puisi esai berkelana ke tahap lanjut, menjadi sebuah “movement.” Kesepakatan dibuat. Jurnal Sajak ikut mendinamisasi “movement” itu dengan membuatkan lomba penulisan puisi esai untuk kalangan penyair dan publik luas.

Ada kebutuhan baru. Saya selaku penggagas awal puisi esai harus merumuskan lebih detail apa yang “puisi esai” dan apa yang “bukan pusi esai.”  Sebuah manifesto dan platform yang lebih tegas dibutuhkan. Platform puisi esai ini akan menjadi kriteria panitia dalam lomba itu.

Bagi saya pribadi dan kawan-kawan, lomba itu hanya simulasi untuk mengembalikan puisi kepada khalayak luas. Lomba itu hanya simulasi untuk mengajak publik memotret realitas sosial dan mempuisikannya. Lomba itu hanya simulasi untuk mengajak publik beropini lewat puisi. Bagus sekali, Jurnal Sajak bersedia mengambil bagian dengan memberi ruang rubrik permanen bagi puisi esai itu.

 

-o0o-

 

Apa itu puisi esai dan apa yang bukan puisi esai?  Inilah platform puisi esai. Pertama, puisi esai mengeksplor sisi batin individu yang sedang berada dalam sebuah konflik sosial. Jika Budi jatuh cinta kepada Ani, itu saja belum cukup untuk menjadi sebuah puisi esai. Topik itu hanya menjadi puisi esai, jika kondisinya diubah menjadi:  Budi jatuh cinta kepada Ani, tapi mereka berbeda agama, atau berbeda kasta, atau berbeda kelas sosialnya sehingga menimbulkan satu problema dalam komunitas tertentu.

Ayah dan anak yang saling bertengkar saja tak cukup untuk menjadi bahan sebuah puisi esai. Untuk menjadi puisi esai, kasus ayah dan anak itu harus masuk dalam sebuah setting sosial. Misalnya sang ayah pembela Orde Baru, sementara anaknya pembela Orde Reformasi. Mereka saling menyayangi namun harus berhadapan frontal karena memilih jalan politik yang saling bertentangan.

Kedua, puisi esai menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Semua perangkat bahasa seperti metafor, analogi, dan sebagainya justru bagus untuk dipilih. Namun diupayakan anak SMA sekalipun cepat memahami pesan yang hendak disampaikan puisi. Puisi Chairil Anwar atau Rendra dapat dijadikan referensi dalam berbahasa. Puisi juga adalah medium komunikasi.

Prinsip puisi esai, semakin sulit puisi itu dipahami publik luas, semakin buruk puisi itu sebagai medium komunikasi penyair dan dunia di luarnya.

Jika kisah itu ditulis dalam bahasa yang sulit, walaupun dengan atas nama “pencapaian estetik bahasa,” ia melawan spirit puisi esai. Sejak awal puisi esai justru ingin mengembalikan puisi agar mudah dipahami publik luas. Pencapaian estetik tidak harus dengan bahasa yang sulit. Jika bahasanya sulit dipahami itu bukan pencapaian estetik tapi ketidak mampuan penyair berkomunikasi dengan baik.

Saya sendiri juga bisa menikmati lukisan yang tidak realis, seperti aliran surealisme.   Lukisan surealis Salvador Dali, “The persistence of memory,” sangat saya nikmati. Ketika kuliah di Amerika Serikat, sempat saya beli reproduksinya dan sering saya tatap ketika lelah membuat makalah ilmiah.  Namun untuk ekspresi berbahasa, saya menganut paham:  “lebih mudah dipahami lebih baik.”

Ketiga, puisi esai adalah fiksi. Boleh saja puisi esai itu memotret tokoh riel yang hidup dalam sejarah. Namun realitas itu diperkaya dengan aneka tokoh fiktif dan dramatisasi. Yang dipentingkan oleh puisi esai adalah renungan dan kandungan moral yang disampaikan lewat sebuah kisah, bukan semata potret akurat sebuah sejarah. Puisi esai memang bukan biografi atau potongan sejarah obyektif.

Benar bahwa dalam huru hara mei 1998 ada kasus perkosaan terhadap gadis keturunan Tionghoa. Benar bahwa sejak peristiwa itu ada keluarga keturunan Tionghoa mengungsi ke manca negara. Namun tokoh Fang Yin dalam puisi esai saya “Sapu Tangan Fang Yin”, adalah fiksi. Ia tokoh rekaan. Justru karena ia fiksi, penulis sangat bebas membuat dramatisasi agar lebih menyentuh dan lebih membuat kita merenung.

Benar bahwa terjadi peristiwa Cikeusik di tahun 2011. Benar  bahwa terjadi pertentangan antara Muslim garis keras dan Ahmadiyah. Namun Romi dan Yuli dalam puisi esai saya “Romi dan Yuli dari Cikeusik” adalah fiksi. Mereka dihadirkan untuk mendramatisasi isu diskriminasi sehingga menambah pembelajaran kita.

Keempat, puisi esai tidak hanya lahir dari imajinasi penyair tapi hasil riset minimal realitas sosial. Ia merespon isu sosial yang sedang bergetar di sebuah komunitas, apapun itu. Isu sosial yang direkam bisa soal diskriminasi, pembaharuan agama, kemiskinan, huru hara, dan seribu isu lainnya. Walau puisi esai itu fiksi, tapi ia diletakan dalam setting sosial yang benar.

Ketika komunitas gay menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi gay sejak bayi (Cinta Terlarang Batman dan Robin), argumen itu ditunjang publikasi yang memang ada rujukannya di dunia nyata. Ketika dalam puisi yang sama, Bambang menikah dengan seorang gay di sebuah gereja, itu juga diperkuat dengan referensi bahwa memang ada gereja khusus untuk menikahkan kaum gay.

Catatan kaki menjadi sentral dalam puisi esai. Catatan kaki itu menunjukan bahwa fiksi ini berangkat dari fakta sosial. Jika pembaca ingin tahu lebih detail soal fakta sosial itu bisa mengeksplor lebih detail melalui catatan kaki itu. Fungsi catatan kaki tidak sekedar asesori atau gaya saja, tapi bagian sentral puisi esai. Sejak awal puisi esai ini memang menggabungkan fiksi dan fakta. Unsur fakta dalam puisi esai itu diwakili oleh catatan kaki tersebut.

Kelima, puisi esai berbabak dan panjang. Pada dasarnya puisi esai itu adalah drama atau cerpen yang dipuisikan. Dalam sebuah puisi esai, selayaknya tergambar dinamika karakter pelaku utama atau perubahan sebuah realitas sosial. Dalam puisi esai  “Sapu Tangan Fang Yin” tergambar perubahan Fang Yin yang akhirnya bisa mengalahkan masa silamnya. Ia pergi dengan kemarahan besar terhadap Indonesia. Namun secara natural digambarkan dalam puisi,  ia berhasil mengalahkan kebenciannya, dan rindu kembali ke Indonesia.

Dalam puisi esai “Cinta Terlarang Batman dan Robin,” tergambar perubahan karakter Amir. Ia semula begitu takut terbuka menyatakan dirinya seorang gay. Secara bertahap akhirnya ia  berani membuka topengnya.

Perubahan karakter itu dengan sendirinya membutuhkan kisah yang berbabak. Jika dikuantifikasi, puisi esai ini harus diwujudkan minimal  dengan tulisan 10.000 karakter.  Kelima puisi esai yang saya buat itu masing-masing panjangnya bahkan sekitar 20.000 karakter.

Namun tentu saja kelima kriteria itu bukanlah sejenis hukum agama yang berdosa jika dilanggar. Kelima kriteria itu adalah tuntunan paling mudah dikenali jika seseorang membuat sebuah puisi esai. Ketika sebuah “movement” dan genre ingin dikemas, tak terhindari harus ada garis batas yang memisahkan “what is” dengan “what is not.” Kelima kriteria itu adalah “what is.”

Puisi esai hanya satu variasi saja dari aneka bentuk puisi yang sudah ada dan yang akan ada. Ia tidak diklaim lebih superior atau inferior. Ia juga tidak dimaksudkan untuk mendominasi apalagi menyeragamkannya. Ia hanyalah sebuah bunga mawar dari taman firdaus sastra yang dipenuhi bunga lain jenis. Ia hanyalah rusa yang berlari di sebuah marga satwa yang didiami aneka hewan lain. Ia hanyalah warna oranye dari sebuah pelangi yang diperkaya oleh aneka warna lain. ***

 

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

2 Comments

  1. Apakah pengalaman pahit dapat menjadi bahan puisi esai?

  2. Sungguh-sungguh luar biasa sekali puisi essai tersebut,
    saya baru saja belajar bagaimana menulis cerpen dan puisi yang baik dan sekarang saya mengenal puisi essay
    saya jadi tertarik untuk mempelajarinya
    dan mengikuti kontes nya
    salam santun puisi essai