Puisi, Memori, dan Saputangan
Puisi, Memori, dan Saputangan
Mashuri
Kontribusi yang bisa diberikan puisi dalam menciptakan
teori politik baru bukanlah gagasan atau cita-cita baru,
tetapi sesuatu yang lebih indah dan agung,
sekaligus mudah pecah: memori
Octavio Paz
Memori pahit, ingatan-ingatan muram, pertarungan antara merasa diri dikhianati, menjadi manusia paling ‘sampah’ di dunia dan ingin membangun hidup baru, terus berjejalan dan melanda batin Fang Yin. Ia ‘tokoh liris’ dalam puisi esai Denny JA yang berjudul “Sapu Tangan Fang Yin”. Puisi esai tersebut demikian sabar dan detail mengunggah nyeri sepi Fang Yin, luka memorinya dan hasrat bangkit dari keterpurukan jiwa karena jalan hidupnya yang tercabik.
Fang Yin menderita trauma akut. Ingatan tentang masa lalunya rumpang karena ia salah satu di antara sekian korban kekerasan seksual pada kerusuhan 20 Mei 1998, tepat sehari menjelang reformasi, karena ‘semata-mata’ terlahir ‘Cina’. Pemerkosaan yang menimpa Fang Yin membuat pacarnya Kho, minggat. Sebuah kondisi yang tidak saja semakin menerakan bilur baru pada luka diri sebelumnya, karena bagaimanapun Kho adalah harapannya sebagai dinding penopang yang bisa menerima dirinya apa adanya setelah dinista dengan begitu brutal oleh para begundal.
Sebagaimana yang diungkap Paz yang dinukil di awal tulisan ini, secara kontekstual puisi memang bisa berlaku secara dialogis terhadap berbagai suara dan memunculkan perspektif anyar, bahkan teori baru berdasarkan memori masa lalu. Bahkan pada taraf lain, penulis puisi adalah memori bagi bangsanya. Dalam konteks ini, ihwal memori menjadi penting karena kita memang kurang cerdas dalam memperlakukan ingatan dan tak cergas dalam merampungkan trauma masa lalu.
Puisi, dan tentu saja jenis seni lainnya, sebenarnya memiliki potensi untuk menguak wilayah yang akhirnya ditakdirkan menghuni dunia bawah sadar, dengan mendedahkannya sebagai sebuah keniscayaan, sehingga unsur traumatik bisa tersembuhkan; pada ruang yang lebih kolektif, kita bisa hidup sebagai bangsa yang bisa belajar keberagaman dan resolusi konflik dari sejarah. Namun seringkali kita terpapar dengan kenyataan: trauma kolektif yang satu belum usai, sudah tersulut trauma lainnya. Ini pula yang terjadi pada warga keturunan etnis Tionghoa di Tanah Air, yang salah satunya menjadi sumbu dari puisi esai panjang “Sapu Tangan Fang Yin”. Sejarah seakan berulang mencatat jejak luka, tetapi luka yang sama bisa dibayangkan bakal tertoreh lagi. Bukti telah berbicara. Dalam catatan kaki dari puisi itu terdapat informasi rentetan kerusuhan sosial yang menumbalkan etnis Tionghoa di Indonesia.
Terlepas dari korban kerumunan yang seringkali hanya berkisar soal jumlah dan seakan ingin menggunakan kacamata mikroskopis, Denny JA mendedah trauma Fang Yin sebagai pribadi, yang berusaha dengan segenap tenaga, pikiran dan daya batin untuk berperang dan mengikis ranjau masa lalu yang telah menjelma menjadi bom waktu dan hantu.
Denny JA menggunakan alur sorot balik untuk menangkap kondisi kekinian Fang Yin. Perlahan tetapi pasti berderet-deret peristiwa merentang jauh ke masa 13 tahun lalu, ketika ia menjadi salah satu korban kekerasan seksual yang kemudian ditinggalkan pacarnya, lalu mengungsi ke Los Angles, mendapatkan perawatan jiwanya, karena jiwanya hampir terbelah. Ingatan luka memang ternyata lebih dalam terpatri dalam jiwa seseorang daripada ingatan tentang suka. Jika Paz mengandaikan memori itu sebagai ‘sesuatu yang lebih indah dan agung, yang sekaligus mudah pecah’ tetapi memori yang hinggap pada diri Fang Yin sebaliknya.
Denny JA membungkus semuanya itu dalam sebuah metafora yang sepele tetapi mengena: “sapu tangan/setangan”, tetapi dalam tulisan ini ditulis saputangan. Barangkali sudah menjadi klise bahwa saputangan tidak hanya sebuah alat pembersih tangan, tetapi lambang kenang-kenangan antara dua hati yang sedang dirundung asmara. Bahkan terdapat pula mitos, dengan memberi saputangan pada calon pasangan maka hubungan itu hanya sebatas pada kenangan. Apalagi Fang Yin mendapatkannya dari pacarnya Kho. Sepertinya Denny JA mengeksplorasi mitos ini dalam puisinya.
Saputangan tidak hanya sebagai penanda alur dari puisi panjang yang terdiri atas 13 bagian ini, juga tidak sekedar sebagai penanda pasang surut pergolakan batin Fang Yin dalam proses memutus hubungan dengan masa lalu, karena pada momen tertentu saputangan itu adalah masa lalu kelabu itu sendiri, ia kadang mewakili person yang ingin dilupa tetapi selalu lekat di ingatan, bahkan pada derajat tertentu saputangan tersebut merupakan memori itu sendiri.
Tujuh kali saputangan hadir sebagai momen dalam puisi esai ini dan menunjukkan dimensi psikologi Fang Yin yang berbeda-beda, tergantung pada ragam ingatan yang sedang hinggap di benaknya. Bahkan untuk benar-benar menjadikan sapu tangan itu menjadi ‘abu masa lalu”, Fang Yin perlu berkali-kali menatapnya lebih dulu. ‘Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu/ tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu’.
Meski berkali-kali ditatap, Fang Yin tidak bisa lekas mengeksekusinya dengan menyulutkan api. Ingatannya selalu mencabutnya dari waktu kini. Ia terseret ke masa-masa 13 tahun lalu ketika pertama kali ia menghuni kamar di sebuah apartemen di Long Angles, ketika pada minggu pertama setiap malam ia menangis. Tragisnya, proses pembakaran saputangan itu menyeret ingatan Fang Yin pada pengalamannya yang paling pahit pada rusuh 20 Mei 1998, juga pada Kho, cemburu pada sahabatnya Rina, dan pada sebuah harapan yang karam. Pada bagian 4, saputangan kembali muncul sekaligus dengan sinonimnya ‘setangan’. Benda ini telah menjadi sebuah wilayah yang demikian privat bagi Fang Yin. Pada bagian 7, terdapat penajaman fungsi dan kedalaman makna sapu tangan Fang Yin.
Sampai bagian 11, terhitung sudah enam kali, sapu tangan hadir. Pada kemunculan yang ketujuh, yaitu pada bagian 12, Fang Yin benar-benar telah berhasil berdamai dengan diri untuk mengusir hantu masa lalu. Ia mengawalinya dengan niat untuk melupakan kenangan bersama Kho yang terpatri di sapu tangan itu. Begitu sapu tangan itu terbakar dan menjadi ‘seonggok debu’, ia merasa yang terbakar adalah masa silamnya, deritanya yang panjang, cintanya pada Kho, cemburunya pada Rina, bahkan kemarahannya pada Indonesia. ‘Terbakar sudah, bagai ritus penyucian diri’.
Demikianlah, api yang dalam mitologi lama dianggap sebagai ritus penyucian, pun akhirnya digunakan Fang Yin membakar saputangannya. Ketika Fang Yin bisa merampungkan proses berdamai dengan masa lalu, berguru pada pengalaman meski pahit, maka memori atau ingatan Fang Yin menjadi sesuatu yang lebih indah dan agung, dan bisa menjadi tilas pengingat bagi kita dan generasi mendatang, juga ‘gampang terbelah’ jika tak dirawat dan ditempatkan pada ruang semestinya
Pada akhirnya, Fang Yin berhasil mengatasi dirinya dan lahir sebagai pribadi baru. Ia telah mampu mengatasi cengkeraman hantu masa lalunya, dengan membakar saputangan sebagai muaranya. Hanya saja, terdapat beberapa hal yang terasa janggal, yang menyimpan sederet pertanyaan terutama seputar saputangan ‘yang tak lagi putih’, bagaimana model dan teksturnya, adakah ia terbuat dari sutera Cina dan bergambar Naga, ataukah ada sesuatu yang istimewa yang di situ terdapat tulisan Kho-Fang Yin… Sepanjang puisi, saputangan seakan-akan hadir sebagai kata ‘sapu tangan’ atau ‘setangan’, tanpa detail dan wujud. Selain itu, beberapa bagian lain terkesan berstruktur teks berlarat-larat dan tidak efektif. Bahkan, untuk menutup puisi esai ini pun tampak kedodoran, alangkah menarik jika dipungkasi sampai momen ketika Fang Yin telah usai membakar saputangannya, lalu: ‘semesta seolah berhenti/ Waktu senyap –lama sekali.’
Nama Lengkap: Mashuri
Alamat: Balai Bahasa Jawa Timur, Jl Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo
Email: misterhuri@gmail.com
HP: 081331333131
Facebook: Mashuri Alhamdulillah

