ATAS NAMA CINTA
Sebuah Puisi Esai
Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta
yang Menggetarkan Hati

Pemutaran Video Puisi Esai Denny JA Menjadi Puncak Acara Lomba Sastra Antar SLTP dan SLTA se-Provinsi Banten (Media Indonesia, 5 Juni 2012)

Posted on June 5, 2012

DEWAN Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang bersidang akhir Mei baru-baru ini menyoroti semakin kuatnya intoleransi beragama di Indonesia. Tapi itu tidak semuanya benar. Sebab, apa yang terjadi di Indonesia tidak seperti yang dikhawatirkan Dewan HAM PBB.

Seperti dilakukan para pelajar SMP dan SMA di Banten. Mereka mempunyai cara unik, yakni meningkatkan toleransi beragama melalui sastra. Para pelajar bersama menonton video puisi esai karya Denny JA berjudul Romi dan Yuli dari Cikeusik dengan sutradara Hanung Bramantyo.

Puisi Denny JA itu bercerita tentang kisah cinta Romi dan Yuli. Walau datang dari latar belakang keluarga berbeda paham agama, keduanya tetap menjalin hubungan cinta kasih. Ayah Romi dari Cikeusik merupakan anggota komunitas Ahmadiyah, sedangkan ayah Yuli dari kalangan muslim anti Ahmadiyah. Meski begitu, Romi dan Yuli memutuskan untuk tetap meneruskankisah cinta mereka.

Pemutaran video puisi esai Denny JA itu jadi puncak acara lomba sastra antar-SMP dan SMA se-Banten di Perguruan Islam Annizhomiyah di Kampung Jaha, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Pandeglang. Lomba itu berupa resensi buku puisi esai Atas Nama Cinta karangan Denny JA.

“Puisi Denny JA itu di antaranya mengajak orang toleran melalui kisah cinta yang menyentuh hati,” tutur ketua pelaksana lomba resensi Agus Khatibul Umam, kemarin.

Sastra lewat film ini amat efektif  untuk berdakwah soal toleransi beragama itu.’’  Denny JA , Penulis buku Atas Nama Cinta

Ia berharap lewat lomba itu akan terbentuk generasi yang mengapresiasi karya sastra. “Hasil dari kegiatan ini diharapkan bisa diterapkan pada pelajaran di sekolah, dan ke depan kegiatan seperti ini akan dilakukan setiap Hari Pendidikan Nasional,” ujar Agus.

Adapun Denny JA senang karyanya dapat membantu meningkatkan toleransi beragama. Apalagi ia pun prihatin dengan penilaian PBB yang menganggap intoleransi beragama di Indonesia meningkat. “Maka itu, sastra lewat film ini amat efektif untuk berdakwah soal toleransi beragama itu.” (*/H-2)

Sumber : Media Indonesia – Selasa, 05 Juni 2012

Kembali

Tuliskan Komentarnya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>