Minah Tetap Dipancung
/1/
Aku genggam tasbih itu
Selalu.
Basah kuyub tasbih itu
Oleh air mataku
Selalu.
Tangan dan bibirku gemetar
Menciuminya
Selalu.
Ampun ya Allah, Ampun,
Aku hanya membela diri
Tak ada niatku membunuh
Bantu aku ya Allah.
Apakah ini dzikirku
Yang terakhir?
Berguncang-guncang dadaku.
Berdesakan dalam benakku:
Bayangan suamiku
Bayangan si kecil,
Anakku.
Ampun ya Allah, beribu ampun.
Tak henti-hentinya kusebut
Ahmad, suamiku
Aisah, anakku
Berulang-ulang kusebut
Asma Allah.
Aminah namaku,
Minah panggilanku, TKW asal Indonesia
Kerja di Saudi Arabia
Sebagai pembantu rumah tangga.
Kini aku sudah mati
Algojo memenggal leherku
Karena telah membunuh majikan
Yang berulang kali memperkosaku
Dan menyiksa jiwaku.
Dzikir itu kulakukan semalaman
Berharap masih ada mukjizat
Yang bisa menyelamatkanku;
Aku masih ingin hidup!
Namun, hukum dunia
Lebih kejam dari yang kuduga.
Kemarin aku mati
Dipancung, tepat di leherku.
/2/
Rasanya baru kemarin sore
Aku berdiri kaku
Mengintip bulan redup di langit Cirebon
Kota kelahiran yang tak lagi beri harapan.
Malam itu aku di samping suami tercinta
Menyusun rencana.
Sudah sekian lama suamiku nganggur
Anak perempuanku, delapan tahun,
Belum juga ia bersekolah
Aku belum bisa bayar uang iurannya.
Itulah awal tekadku bekerja ke Arab Saudi.
Kuyakinkan Suami ijinkan aku pergi,
Hidup perlu biaya.
Di depan cermin
Kuperhatikan rupa dan tubuhku –
Aku pantas hidup lebih baik.
Tekadku tak terbendung
Harapanku melambung
Membubung dibawa angin gurun:
Menjadi TKW aku!
Banyak temanku berhasil
Kerja di negeri itu,
Berkirim uang ke kampung
Renovasi rumah orang tua.
Meniru orang kaya Jakarta.
Ingin aku seperti mereka
Satu di antara sekian juta perempuan
Yang bekerja di negeri asing
Menjadi apa saja.1
Suamiku tak lagi bisa mencegah.
Bapakku menggadaikan sawah
(Yang nanti harus kutebus kembali)
Untuk calo
Untuk pelatihan
Untuk cek kesehatan
Untuk persekot pembekalan akhir
Untuk asuransi –
Empat juta rupiah
Melayang sudah
Dari tanganku.
Perusahaan tenaga kerja meyakinkan kami,
Uang sebegitu tiada arti
Dibanding gaji besar nanti.2
Aku protes dan bertanya,
Kamu korupsi, ya?
Kamu memoroti kami, ya?
Agen itu menjawab,
Barangkali Babe di atas sana yang korupsi, Bu.
Kita mah hanya cari seseran ala kadarnya
Buat tambahan istri belanja.
Ya, sudahlah, uangku telah raib entah ke mana –
Tapi aku bangga karena mereka
Menyebutku pahlawan devisa
Berjasa bagi negara.3
Akhir tahun 2010
Aku dan rombongan berangkat ke luar negeri
Dengan tujuan Arab Saudi
Negeri tempat orang berhaji.4
/3/
Tak ada seorang teman pun yang menjemputku
Ketika sampai di negeri asing itu
Padahal mereka sudah tiba lebih dahulu.
Kakiku ragu ketika melangkah
Masuk ke sebuah rumah.
Sepi.
Berkelebat wajah-wajah yang kusayangi:
Anakku,
Suamiku,
Orang tuaku;
Sekejap teringat sepetak sawah
Yang harus kubeli lagi nanti
Yang sudah digadaikan bapakku.
Air mataku pun menetes
Tapi buru-buru kuhapus
Saat tuan rumah menyambutku
Dengan dingin.
Aku kerja di keluarga Arab yang kaya-raya
Rumahnya 20 kali lebih luas
Dari rumah orang tuaku;
Toiletnya bagus
Lebih bagus dibanding ruang tamu kepala desa.
Majikan perempuan
Menunjukkan kamar tidurku,
Besar, bersih;
Jendela menghadap halaman belakang.
Rumah itu dikelilingi pagar terali
Yang kokoh dan tinggi.
Belum sempat aku merebahkan diri
Untuk melepas lelah
Majikan perempuan memanggilku;
Didiktekannya daftar panjang tugasku:
Memasak, mencuci, menyetrika,
Dan membereskan seluruh rumah.
Alhamdulilah!
Masakanku disukai dan dipuji,
Maklum aku perempuan kampung
Biasa menghabiskan waktu di dapur.
Hari-hariku bermekaran, seperti dalam mimpi
Seperti bunga-bunga pagar
Yang tak pernah terlewat kusirami.
Di halaman rumah itu selalu tumbuh keinginanku
Menyulap waktu agar cepat berlalu –
Terbayang olehku: uang yang nanti kudapat
Dari kucuran keringatku sendiri
Akan kukirim kepada Suami
Untuk menyambung hidup
Untuk menyekolahkan Anak.
Guru ngajiku di pesantren dulu mengajarkan
Agar aku bersikap sopan
Tahu tata cara dan bertutur kata.
Aku suka tersenyum –
Tapi celaka, majikan pria
Keliru mengartikannya
Dikiranya aku penggoda.
Mana mungkin aku berani?
Dan lagi, ha-ha-ha,
Suamiku lebih ganteng darinya.
Aku tidak paham budaya, terus terang saja,
Bagiku orang Arab dan Indonesia sama saja
Kan sama-sama Islam agamanya,
Dan menurut guru ngajiku
Senyum sama dengan sedekah nilainya.
Ketika majikan perempuan tidur lelap
Majikan pria mendekatiku
Rupanya ia berusaha merayuku;
Aku hanya bisa senyum
Tapi mulai merasa takut
Tak berani menatap matanya.
/5/
Dengan cepat zaman berubah.
Hari-hari berjalan sangat lambat, terasa lelah;
Kurindukan Suami yang tampak cemas
Di saat melepasku pergi.
Berulang kupanggil suamiku
Dalam hati.
Ahmad, ketika kita dekat
Aku menjauh cari rejeki
Ketika kita jauh
Aku ingin berada di sisimu.
Tiba-tiba aku takut, Ahmad.
Dan anakku yang mungil itu,
Yang suka minta uang jajan?
Tak terukur rinduku
Dan kupanggil Aisah buah hatiku,
Anakku Aisah, maafkan ibu
Tak bisa setiap hari menyuapimu.
Dulu ibu kira kalau kerja di negeri jauh
Akan membawa kebahagiaan bagimu,
Akan bisa menyekolahkanmu.
Tapi kini, wahai, Ibu merasa hampa dan jemu.
Mengumpulkan harta – itu tujuanku.
Tapi belum ada yang bisa dikirim sekarang.
Aku tak tahu bagaimana rasanya
Menerima gaji pertama – tapi kapan?
Tidak ada perjanjian.
Burung yang terkurung di sangkar emas
Masih tetap bisa bernyanyi
Tapi di rumah yang megah ini
Mulutku malah terkunci,
Tak ada siapa-siapa untuk berbagi cerita
Karena tak boleh keluar rumah.5
Hari dan tanggal tak lagi kutahu
Bekerja dan bekerja saja, terus-menerus menunggu,
Tak ada yang pasti bagiku.
/6/
Selepas pagi
Pekerjaan rutin telah selesai
Tinggal beberapa potong pakaian yang harus kusetrika;
Aku ingin salat Dhuha dulu.
Hari itu rumah sepi, majikan pria pergi bekerja,
Majikan perempuan entah ke mana.
Baru saja menggelar sajadah
Kudengar pintu pagar dibuka –
Majikan pria melangkah masuk.
Matanya nyalang menatapku:
Kuduga ia membayangkan
Apa yang ada di balik sarungku.
Ia bergerak mendekat
Memegang punggungku
Lalu meremas payudaraku.
Jangan, Tuan!
Aku berontak
Kuterjang ia –
Tapi ia perkasa
Menarik sarungku dengan paksa.
Ia tampaknya sudah gelap mata.
Aku berteriak sekuat-kuatnya
Kudorong tubuhnya
Sampai membentur dinding.
Tapi lelaki itu kembali mendekat
Menyebut beberapa patah kata bahasa Arab
Yang tak kupahami artinya.
Begitu sigap tindakannya
Seakan apa yang hendak dilakukannya
Tidak menyalahi aturan agama.
Aku terkesima
Aku tercampak
Aku terhina!
Aku ludahi mukanya,
Aku bukan budak
Aku bekerja di sini
Tidak untuk diperkosa.
Ia tak paham bahasa Indonesia
Dan aku juga tak bisa mengatakan apa pun
Dalam bahasanya.
Ia terus mendekat,
Aku kembali berteriak
Aku mengancamnya
Tapi semua itu lenyap begitu saja
Menguap di udara.
Aku melawan sampai kehabisan nafas
Sampai tenagaku habis terkuras –
Tak berdaya,
Aku kalah.
Tinggal tangis yang masih tersisa.
Usai menunaikan nafsu bejatnya
Ia lemparkan
Beberapa helai uang real.
Aku tak lagi punya tenaga.
Sekali terjadi,
Terulang dua kali,
Tiga kali,
Berkali-kali!
Ya, Allah, malang benar
Nasib hamba-Mu ini!
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti pernah ada sebuah zaman
Ketika budak boleh diperkosa majikan
Kebiasaan itu masih dipercayai oleh banyak orang
Di zaman Facebook dan Twitter sekalipun
Ia tak pernah membayangkan itu terjadi padanya)
/7/
Di dalam kamarku
Kalau tengah malam tiba
Aku lihat kotak itu:
Begitu banyak sudah real
Yang diberikannya
Setiap selesai memperkosaku.
Pernah aku tergoda
Untuk mengambil uang itu
Kukirim ke kampung halaman –
Keluargaku sudah lama menunggu itu
Sedangkan gaji tak kunjung dibayar.
Terbayang sepetak sawah
Yang bisa kutebus kembali dengan uang itu.
Terbayang sekolah dasar
Terbayang anakku Aisah berlarian dan berlajar.
Tapi kudengar lantang suara hatiku,
Jangan kaubohongi suamimu
Jangan kausekolahkan anakmu
Dengan uang si bejat itu!
Aku teringat dulu di pesantren
Guru ngaji mengajarkan
Agar patuh Suami
Agar berjuang mencari rejeki.
Aku pun melancarkan protes,
Kutegakkan kepala,
Gusti Allah,
Sudah kulakukan semua ajaran baik
Tapi mengapa tetap saja kena celaka?
Kau berjanji melindungi
Kaum tertindas, kaum yang lemah –
Aku ini lemah,
Sangat lemah.
Tak kutahu kenapa mulanya
Aku jadi sangat marah;
Aku teriak sangat keras
Dalam hati.
Ya, Gusti Allah
Kenapa begini jadinya?
Ampun, ya Allah.
Dan uang di kotak itu pun
Aku sobek
Satu demi satu
Sambil menangis
Dalam-dalam,
Tertahan.
Kubayangkan diriku sudah jadi gila!
Lama aku terbaring.
Mendadak kurasakan niat suci
Untuk memberontak.
Aku harus melawan
Apa pun yang akan terjadi.
/8/
Aku mencari jalan,
Mengadu kepada majikan perempuan
Berharap mendapatkan perlindungan.
Namun, bukan pembelaan yang kudapat
Malah penyiksaan berlipat-lipat.
Aku dituduh menggoda suaminya dengan senyumku.
Dan aku pun disiksa:
Tubuhku dicambuk
Rambutku dijambak
Pahaku diseterika.
Aku menjerit
Tapi jeritan-tangisku sia-sia
Wakil Indonesia di Arab sana6
Bekerja seperti biasa.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti bahwa tak semua TKW berperilaku baik
Ada juga yang sengaja menjadi pelacur
Dan merepotkan ibu rumah tangga dan polisi di sana)
/9/
Betapa sering aku ingin melarikan diri
Tapi takut tertangkap polisi.7
Pasporku pun dipegang majikan.8
Pernah terpikir aku melompat saja
Dari jendela lantai tiga –
Tapi setelah itu ke mana?
Ya Gusti,
Kenapa Kau-tinggalkan aku sendiri
Terkapar antara hidup dan mati?
Suatu malam kejadian itu kembali terulang.
Majikan menyelinap
Masuk kamar;
Kini aku harus melawan
Lebih dari biasanya.
Tak kuduga ia mengambil pisau
Komat-kamit bicara
Aku tak paham maknanya.
Secepat kilat ia kuasai diriku.
Astaga! Dijepitnya leherku
Dibekapnya mulutku –
Aku tak bisa bernafas.
Entah dengan kekuatan apa
Aku sebut nama Allah,
Aku rebut pisau itu
Kutancapkan tepat di perutnya.
Aku selamat dari sergapan
Tapi malam itu pula sirna sudah
Semua impian.
Ia terkapar, tak bernyawa.
Ya Allah…
Hanya itu yang terucap.
Aku hanya mempertahankan diri
Tapi ada yang mati.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti walau membela diri
Jika majikan mati di tangannya
Ia juga bisa mati – dipancung)
/10/
Harus kuhadapi pengadilan,
Tanpa perlindungan;
Hukum yang berlaku di negeri Arab
Nyawa berbayar nyawa.9
Pemerintah memberikan tanggapan
Tapi untuk kasusku,
Itu sudah ketinggalan kereta.
Upaya hukum telat
Upaya diplomasi politik tak dirintis dari awal
Dan tidak ada pembelaan di pengadilan –
Ya, ya, harus aku jalani
Hukuman pancung.
Ya, ya, aku harus dipancung!
Seorang pengacara dikirim
Untuk membantuku,
Aku dengar cerita
Rakyat Indonesia membelaku.
Bagaimanapun, aku pahlawan devisa.
Pak Menteri panjang lebar pidato
Akan berjuang membebaskanku
Tapi semuanya terlambat sudah.
Aku terus melawan walau sendiri
Dengan segala cara.
Kepada pengacara kutuliskan
Urutan peristiwaku
Dalam membela kehormatan
Yang oleh hukum dunia disebut pembunuhan.
Aku mohon itu disiarkan seluas-luasnya.
Aku ikhlas mati tapi memberi makna
Aku ikhlas mati tapi mempunyai arti.
Selebihnya, aku pasrah;
Aku hanya mohon bisa bertemu anakku Aisah
Untuk terakhir kali.
Ingin kutanyakan ikhwal sekolahnya –
Tapi permintaan itu pun susah dipenuhi.
Aku hanya bisa titipkan surat
Salam untuk suamiku
Dan pesan khusus agar kelak
Anakku satu-satunya
Tidak menjadi TKW sebelum ada perlindungan hukum.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti TKW sudah jadi industri
Pengiriman TKW tak bisa distop
Jika tak ingin pengangguran merajalela)
/11/
Aku sudah tiada
Tetapi masih teringat malam
Sebelum kepala
Dipisahkan dari tubuhku.
Di malam terakhir itu aku teringat sawah di kampung.
Aku, suami, dan anakku bersantap di saung,
Aisah, kata suami kepada anakku,
Ibumu akan ke Saudi,
Bekerja di sana;
Nanti Ibu akan pulang membawa rejeki
Dan kita akan membeli sawah ini
Yang lebih besar dari sawah kakek.
Anak itu tampak kegirangan
Sejak dulu ia senang
Duduk di saung.
Di malam terakhir
Aku terus berdzikir
Kuharapkan ada mukjizat
Menyelamatkan diriku.
Bayangan suami dan anakku
Berseliweran dalam benakku
Mengaduk-aduk perasaanku.
Ampun ya Allah
Siapkan hatiku
Ampun ya Allah
Siapkan jiwaku.
Terus aku berdzikir
Hingga tak ingat apa-apa lagi.
Dalam dzikirku malam terakhir itu
Terbayang suamiku datang ke kamarku
Dan dibisikkannya,
Aminah, betapa bangga aku padamu:
Kau berjuang untuk keluarga
Membela kehormatan diri.
Guru ngaji di pesantren
Tak akan menyalahkanmu.
Meski besok dipancung
Kau tetap hidup di hatiku
Dan di hati Aisah, anak kita itu.
Coba kupeluk bayangan suamiku
Bayangan anakku
Hangat terasa – aku tersenyum
Dan itu senyumku yang terakhir.
***
- Setiap bulan ada 60.000 TKI yang berangkat ke luar negeri, atau rata-rata per hari 2000 TKI. Mereka bekerja di berbagai negara: Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan, Kuwait, Yordania, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain. Sumber: www.bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/2296-jumhur-sertifikasi-kompetensi-instrumen-lindungi-tki-plrt.html.
- Iming-iming gaji besar menjadi salah satu daya tarik bagi para calon tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk meninggalkan tanah air dan bekerja di luar negeri. Gaji TKW di Arab Saudi per bulan 800 riyal, di Singapura 450 dolar, di Hongkong 3.740 HK (Rp 4.114.000). Sementara di Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain, sebesar 220 USD per bulan. Sumber: http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/5464-ade-adam-noch–lima-tahun-bnp2tki-memudahkan-pelayanan-tki.html.
- Para tenaga kerja Indonesia di luar negeri memang sering disebut pahlawan devisa, karena menyumbang banyak sekali devisa kepada negara. Bank Indonesia mencatat jumlah total remitansi TKI sepanjang 2010 yaitu US$ 6,73 miliar. Pengiriman uang dari TKI selama kuartal pertama tahun 2011 mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Sumber: http://www.neraca.co.id/2011/06/23/
moratorium-tki-berdampak-luas-ke-daerah/. - Sepanjang tahun 2010 Indonesia mengirimkan 570.285 orang TKI ke seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 60% berangkat ke Arab Saudi (sebanyak 228.890 orang) dan Malaysia (sebanyak 115.624 orang). Sumber: http://fokus.vivanews.com/news/read/
228793-sejumlah-negara-tujuan-tki-pengganti-arab. - Para TKW di Arab Saudi tidak diizinkan ke luar rumah, berbeda dengan TKW yang bekerja di Hongkong, Korea, atau Taiwan, yang setiap akhir pekan bisa menikmati indahnya taman kota, berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan, atau bertemu dan mengobrol dengan teman-temannya sesama TKW. Sumber: http://www.duniatki.com/
aturan_kerja_di_luar_negeri-informasi3_tki_duniatki-2. html; lihat juga sebagai perbandingan, http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/06/03/
kebebasan-hong-kong-surganya-para-tkitkw/. - Siksaan seperti yang dialami Aminah telah menjadi cerita umum di kalangan para TKW. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 1.075 TKW Indonesia disiksa majikannya. Tak jarang, penyiksaan tersebut berujung kematian. Migrant Care mencatat dari tahun 2007 hingga 2011 ada 10 orang TKW di berbagai negara yang meninggal karena disiksa majikannya. Mereka yang meninggal karena kekerasan oleh majikannya ini ialah: (1). Kurniasih TKW asal Pati Jawa Tengah, meninggal karena disiksa di Malaysia tahun 2007; majikan bebas. (2) Animah binti Jari, TKW asal Banten, meninggal karena disiksa di Kuwait tahun 2007 (3). Siti Tarwiyah, TKW asal Ngawi, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Agustus 2009. Kasus hukum berhenti karena kompensasi (4). Susmiyati, TKW asal Pati, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Agustus 2009; kasus hukum berhenti karena kompensasi (5). Munti binti Bani, TKW asal Jember, meninggal karena disiksa di Malaysia, 2009 (6). Fauziah, TKW asal Cibubur Jakarta, meninggal karena disiksa dan korban kekerasan seksual di Malaysia, Mei 2010 (7). Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur, meninggal karena disiksa dan jenazahnya dibuang di tempat sampah di Saudi Arabia, November 2010 (8). Sariah, TKW asal Indramayu, meninggal karena disiksa dan korban kekerasan seksual di Kuwait, 2010 (9). Ernawati, TKW asal Kudus, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Februari 2011 (10). Isti Komariah, TKW asal Banyuwangi, meninggal karena disiksa di Malaysia, Mei 2011. Sumber: http://headlines.vivanews.com/news/read/
229833-tiap-tahun–kekerasan-terhadap-tkw-meningkat.
Tapi banyak pula kasus TKW yang juga karena kesalahan TKW itu sendiri. Ada pula kasus TKW yang memang menggoda majikan pria. Ada pula kasus TKW yang pensiunan PSK (Penjaja Seks Komersil). Kasus TKW tidak hitam putih. Tidak semua kasus TKW disebabkan oleh kesalahan majikan. - Para TKW yang mengalami nasib seperti Aminah biasanya melarikan diri, tapi itu sangat beresiko. Hal ini pernah dialami Rusniah binti Azis, TKW asal Karawang, Jawa Barat, yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Abdullah Muhammad Al-Sah, di Arab Saudi. Rusniah tewas terjatuh dari lantai tujuh ketika berusaha kabur dari rumah majikannya pada 17 Mei 2011. Maskendi binti Kulin, TKW asal Sumbawa Besar, NTB, juga pernah kabur dari majikannya di Arab Saudi pada Juli 2009 karena tak tahan dengan siksaan kedua majikannya. Selama 2 tahun 6 bulan ia belum digaji sama sekali. Kondisinya memprihatinkan, ada luka bakar di tangan, muka, dan punggung. Mukanya cacat karena dipukul dengan gayung sayur yang panas sehingga kulit terbakar; giginya rontok disabet selang air. Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/
2011/06/25/55843/TKW-Asal-Karawang-Tewas-Terjatuh-dari-Lantai-7-Rumah-Majikan. - Dalam MoU yang ditandatangani dengan majikan tidak disebutkan bahwa paspor tetap akan dipegang Aminah. Pejabat-pejabat kita yang berwenang tidak memikirkan soal ini, yang berdampaknya sangat besar pada orang-orang yang bernasib seperti Aminah. Akibatnya, apapun masalah yang dia alami di rumah itu tidak akan bisa mengadu kepada siapapun di luar rumah. Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/
umum/11/06/22/ln6b3j-majikan-arab-gemar-tkw-indonesia-karena-penurut-dan-tak-gampang-mengeluh. - Hukum di Arab Saudi menerapkan langsung ayat al-Quran surat al-Baqarah ayat 178 yang menyebutkan tentang hukum qisas. (Nyawa) orang merdeka dibayar dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Sebenarnya ayat ini diturunkan untuk melenyapkan budaya jahiliyah yang berkembang sebelum datangnya Islam. Pada waktu itu, jika seseorang dibunuh, maka sekeluarga si pembunuh akan dibunuh pula. Ayat ini bermaksud menekankan pentingnya asas kesaimbangan, satu nyawa berbalas satu nyawa. Namun ayat itu juga mengandung perkecualian. Apabila keluarga korban memaafkan, maka eksekusi batal dijalankan. Sebagai bentuk permohonan maaf, pihak pembunuh harus mengganti dengan denda berupa 100 ekor unta, 40 di antaranya yang sedang hamil. Kalau dirupiahkan angkakanya mencapai Rp 4,7 miliar. Namun, ada pula hadist yang diriwayatkan Ibnu Hiban dan Imam Al Baihaki yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda; harus diberikan maaf apabila seseorang membunuh karena terpaksa.





Nyaris tumpah air mata ini… Masalah TKI/W memang masalah yg cukup pelik. Di satu sisi, pemerintah memang salah, karena memang usaha dalam melindungi para Pahlawan Devisa ini masih saaangat minim. Di sisi lain, terkadang (sering) justru TKI/W lah yang salah. Belum siap fisik, mental, pengetahuan, keterampilan, tapi sudah nekat berangkat. Ibarat perang tanpa membawa senjata dan tak kenal medan perang. Namun itu semua memang sudah tuntutan keadaan. Entahlah…
Kita hanya bisa berharap, semoga pemerintah “MAU” meningkatkan usahanya untuk melindungi para Pahlawan ini. Dan semoga para calon Pahlawan sudah mempersiapkan segalanya sebelum berangkat ke negeri orang. Agar tak akan ada lagi kisah Minah-minah yang lain… SEMOGA… Amin…
By : auastyle
setiap yang membaca pusisi ini seolah ikut merasakan kejadiankejadian di dalamnya. bahasa yang sederhana tetapi bermakna istimeawa dan luarbiasa. sangat menyentuh dan menggugah nurani.
salam dari “wong kito galo” untuk Pak Denny JA yang telah memberi warna baru dalam kesusastraan Indonesia
begitu cintanya terhadap keluarganya,minah rela bekerja dinegara jazirah,aisyah yg selalu membuat hatinya berbunga dorongan kuat untuk bekerja disana,namun srigala sexual lah yg akhirnya membungkam semua impian kebahgiaan minah bersama sang suami dan anak semata wayangnya aisah,pemahaman keliru dari tafsiran alquran yg jadi landasan bahwa budak dapat diperlakukan semena mena itulha yg harus diluruskan,menyentuh hati puisinya mas Denny,untuk mendalaminya isi puisi ini saya baca berkali kali…
Sungguh tragis kisah ini,hak dan martabat manusia terkoyak tak berharga.dmn keadilan???,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Membaca puisi “Minah Tetap Dipancung”, menyentuh hati nurani semakin membuka mata, akan realitas bahwa begitu banyak Minah-Minah yang lain yg bernasib sama, yg membutuhkan ulurkan tangan. Tak sekedar mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri tetapi juga ada perlindungan hak dan harkat para tenaga kerja, sehingga tak perlu lahir Minah-Minah yang lain…semoga! Salam…
Comment aku baca puisi ini aq dah merinding.ini adalah persoalan bangsa.dtngah ktrbatasan lapangan krja yg ada di dalam negeri..inilah jalan satunya bg warga negaranya demi mcri nafkah dg bkrja dluar negeri.namun pemerintah kurang memperhatikan para pencri devisa ini.stiap tahun mereka menyetor uang setiap tahun pula mereka trtimpa bnyak persoalan namun sungguh ironi blamana pemerintah hanya bisa brspekulasi dan brdbat namun kondisi dlapangan sungguh lbh memprihatinkan.keadilan dan lemahnya perlindungan hukum bg para TKI menjadi persoalan.sudah bnyak para pncr devisa ini pulang tanpa nyawa stlah mrka tak mampu lagi brgelut dg hukum,membela demi sbuah hukum dan keadilan
menarik… bagus sekali puisinya…
saya menemukan tulisan dengan isi tema sejenis yg mungkin bisa membuka wawasan kita untuk menyikapi permasalahan ini…semoga bermanfaat.
http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/07/11/kesaksian-prt-asal-indonesia-di-arab-saudi-banyak-juga-yang-berperilaku-buruk/
sayang sumber aslinya sudah dihapus
http://luar-negeri.kompasiana.com/2010/07/01/sisi-lain-cerita-tkw-di-saudi-arabia-bagian-1/
baru baca 5 bait aja udah merinding!
Persoalan TKI ini sudah tahun menahun, tapi karna negri kita adalah penganut muslim terbesar di mana ada unsur penghormatan terhadap suatu negara yang dianggap lebih suci, hampir sama seperti kita memandang US sebagai negara adikuasa, dimana nilai kebenaran akan dikalahkan di dunia tapi tidak di akhirat…
Presiden seorang manusia, tdk jauh dr kita, dia tidak bs menyenangkan rasa 200 juta penduduknya…semoga bs dipahami..
puisi diatas mengingatkan kita terhadap keamanan bagi para TKI yang bisa dibilang masih kurang. perjuangan yang berat dengan ekspektasi membawa uang yang banyak, malah berakhir dengan kematian. saya kagum dengan om denny karena bisa menghasilkan puisi yang dapat mewakili perasaan para TKI/TKW yang se’benernya merasa tidak aman di Arab karena dibayang-bayangi oleh kekerasan sang majikan. Semoga saja pemerintah Indonesia mendengar jeritan para TKI dan memberikan perlindungan yang lebih untuk para TKI agar tidak terjadi lagi kejadian semacam ini di waktu yang akan datang.
Nama : Szafira Nurul Qolbi
Alamat : Jl. Bekasi Permai 2 blok bb nomer 5, Perumahan bekasi permai, Bekasi Timur
Kode pos : 17112
Alamat email : szafiraqolbi@yahoo.co.id
No. Hp : 085724100906
Fb : Szafira Nurul Qolbi
Twitter : @SzafiraNQ
TKW adalah Pahlawan, seharusnya jasadnya berada di Taman Makam Pahlawan. diperlakukan layaknya pahlawan dengan upacara pemakaman dan penghormatan terakhir. karena mereka gugur dalam mengemban tugas dan mempertahankan kehormatan serta harga dirinya sebagai manusia.
Menyayat hati. sangat
Puisi ini membuat saya, dan pastinya pembaca lain seolah-olah ikut menyaksikan kejadian yang memilukan tsb
RIP Minah
Suatu sore di penghujung April kami sekeluarga berkunjung ke toko buku langganan kami untuk membeli buku anak-anak. Setelah memilih tiga buah buku untuk anak kami, saya pun bergegas menuju meja kasir untuk melakukan pembayaran. Saat melewati deretan buku new arrival atau yang baru terbit, mata saya tertumbuk pada sebuah buku agak tebal dengan warna sampul merah menyala bertuliskan “Atas Nama Cinta” sebagai judul. Yang paling mencolok adalah adanya emblem bulat yang berbunyi: Genre Baru Sastra Indonesia. Saya pun berpikir, “Ah, bisa aja orang jualan buku dengan mengklaim mengusung genre kesusastraan baru. Pasti gaa jauh beda dari buku-buku lain serupa.” Saya pun berlalu dan segera membayar di kasir.
Ketika hendak keluar dari toko buku tersebut, mata saya kembali melihat sampul buku tersebut. Yang membuat kaget adalah ternyata buku berwarna gahar tersebut diantar (baca: didukung) oleh tiga nama besar yang sudah sangat akrab bagi saya. Dua penyair terkemuka, Sapardi dan Sutardji; dan satu lagi adalah Ignas Kleden—sosiolog yang saya kenal justru sebagai budayawan yang banyak menghasilkan tulisan atau kritik sastra. Saya mulai menyukai tulisannya saat ia menulis ulasan bagi kumpulan cerpen Kompas beberapa tahun silam. Kemudian saya baca juga buah pikirannya dalam buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Tentulah buku Denny JA—yang saya kenal sebagai pengamat politik ini—bukanlah buku sembarangan.
Seminggu kemudian saya berkesempatan membacaa 5 buah puisinya. Saya langsung tertarik pada satu sajak yang betul-betul menggetarkan hati dan memukul kesadaran terdalam yakni derita seorang TKW yang dituangkan dalam sajak berjudul Minah Tetap Dipancung. Puisi ini dibagi dalam beberapa fragmen. Fragmen pertama bercerita tentang Minah yang menyesal telah membunuh majikannya karena si majikan telah memperkosanya. Ia nyatakan tobatnya di bagian ini. fragmen kedua berkisah tentang rencananya ke Arab sebagai TKI dan bagaimana ia dielu-elukaan sebagai pahlawan devisa paadahal ia berangkat dengan membayar banyak uang kepada calo atau agen yang terkesan memerasnya. Fragmen ketiga bercerita tentang kedatangannya di Arab yang begitu menyedihkan. Mulailah ia menuturkan majikannya yang segera menjelaskan rutinitas kewajibannya sebagai pembantu di rumah tersebut. Fragmen demi fragmen berlaangsung hingga fragmen keenam ketika majikannya mulai melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Minah pun diperkosa sebelum ia melakukan shalat Dhuha. Sungguh sadis perbuatan si tuannya!!
Ia mengadu kepada istri tuan atau majikan wanitanya agar mendapat pembelaan, namun justru disiksa karena dituduh menggoda dengan senyumnya. Mana ada yang membantunya walaupun dia adalah pahlawan devisa. Akhirnya pada peristiwa kesekian kalinya, Minah pun mencoba melawan agar tuannya tak memperkosanya. Dan tuannya pun berakhir di ujung belati–lalu Aminah pun dipancung tanpa ada yang peduli.
Saya tidak tahu apakah narasi dalam sajak tentang Minah ini Denny dapatkan secara nyata ataukah berdasarkan imajinasi penyair semata. Jika memang ini murni imajinasi, tentulah sajak ini termasuk puisi yang berhasil. Dari fragmen ke fragmen–dari bait ke bait lain, suasana terbangun dengan penuh, cerita tersampaikan dengan padu sehingga saya seolah mendengar seseorang bercerita secara langsung dari sumber pertama.
Denny JA yg saya kenal sebagai pengamat politik ternyata sanggup menghasilkan karya sastra berupa puisi yang sangat menjanjikan. Kalimat-kalimat yang ia hadirkan bernas dan natural, tanpa ada kesan dibuat-buat demi kepentingan puitisasi. Mereka mengalir sesuai kebutuhan tema dan kisah.
Namun saya kurang setuju bila karyanya adalah genre baru dalam karya sastra Indonesia karena pembubuhan catatan kaki pada puisi bukan lantas menahbiskan puisi ini sebagai esai. Memang tak ada definisi yang rapi dan pasti mengenai puisi. Sebuah esai boleh saja disebut puisi walaupun tidak puitis. Namun tidak bs sebaliknya. Dengan demikian, seesai-esainya puisi yang ditulis oleh Denny, mereka tetaplah puisi–tanpa harus ada embel-embel esai yang dengan demikian harus meresmikannya sebagai genre baru. Sama sekali tidak.
Well, after all. Lima buah puisi dalam buku Denny ini sangat menggugah dan membuat saya membayangkan bahwa Denny adalah penulis sajak yang berbakat. Saya jadi ingin membaca lebih banyak puisi-puisinya–apa pun bentuknya, puisi murni ataupun puisi yang bercatatan kaki.
Good job, Pak Denny!!
Minah mengadu nasibnya di negeri tetangga, berbekal pengetahuan bahasa yang seadanya dan tekad ingin membahagiakan anaknya, Aisah. Minah memang tak tahu nasib akan membawanya kemana, yang ia yakini perjalanannya kini akan mengubah nasib keluarga. Minah ingin menjadi seperti teman-temannya, membantu keluarga. Ya, hanya itu bekal tekadnya. Hingga minah mulai menyadari, ada yang tidak beres. Orang arab itu yang tidak beres. Majikan minah memperlakukannya tidak adil. Pelecehan seksual pun termasuk di dalamnya. Minah hanya bisa pasrah, ketika memang dirinya tidak sebanding dengan lelaki arab itu, majikannya. Sampai pada momentum penghabisan kesabaran minah. Ia harus melawan. Namun apa daya, niat membela diri malah berujung ‘membunuh diri’. Ya, itulah hukum yang berlaku. Berbeda dengan di negara Indonesia. Minah hanya bisa berusaha, ketika memang nasib yang menentukan. Minah dipancung malam itu. Minah dipancung ketika kenangan dengan keluarganya melewati pikirannya. Hingga hampa terasa.
Sebuah puisi karangan Denny AJ yang membawa kita kedalam diri seorang Aminah atau Minah. Memahami setiap kegelisahan yang dimiliki, setiap gejolak hati dan semua harapan akan keluarganya. Menyelami diri seorang Aminah melalui puisi esai karangan Denny AJ terasa menegangkan, sekaligus menharukan. Sungguh Denny AJ memiliki kemampuan tersebut.
” aku bukan budak
aku bekerja disini
tidak untuk diperkosa”
TKW asal Indonesia bernama Minah bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Arab Saudi untuk merubah nasib keluarganya. namun ia mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari majikannya. minah diperkosa oleh majikannya. untuk dapat membela dirinya, secara tidak sadar minah telah membunuh mjikannya tersebut. akibat tindakannya tersebut, minah diadili oleh pemerintah arab saudi dengan hukuman mati yaitu hukuman pancung.
dari penjelasan di atas, jelas sekali bahwa tidak ada peran pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan bagi para TKW yang mengadu nasib di negara lain. padahal TKW dianggap sebagai “PAHLAWAN DEVISA”. seharusnya pemerintah Indonesia dapat melakukan negosiasi kepada pemerintah arab saudi untuk meringankan hukumannya karena minah memiliki alasaan yang kuat untuk membela dirinya.
satu kata untuk puisi ini
Menyedihkan dan bagus untuk cermiman bagi pemerintah Indonesia agar bisa memberikan perlindungan bagi TKW “Pahlawan Devisa Negara”
nama : HARSIN
Alamat : jl. sedap malam ciputat, Tangerang Selatan
no. telp : 0852 1304 3318
e-mail : harsin_hamid@yahoo.co.id
akun facebook : ailamus etalusnoc el-buthony
Memilukan membaca puisi ini..
Tragisnya bekerja di Negeri lain, tanpa perlindungan negara yang memadai. Seharusnya pemerintah berpihak kepada warga negaranya di atas kepentingan bisnis dan politik. Seharusnya pemerintah membenahi sistem perlindungan dan pelayanan informasi bagi BMI kita di luar negeri. Menutup PJTKI-PJTKI yang tidak menerapkan sistem seleksi dan pelatihan yang sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Dan menuntut pemerintah agar lebih tegas dan berwibawa dalam memperjuangkan harga diri bangsa di hadapan negara-negara lain.
Membaca puisi ini serasa menjelma menjadi minah yang sesungguhnya, betapa tidak mudah mencari penghidupan di negeri orang, jauh dari keluarga. Tersiksa batin karna rindu yang mendera dan siksa yang menimpa. Tidak tahu harus bergantung kepada siapa, hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Jasanya sebagai pahlawan devisa hanya berbalas ucapan bela sunkawa. Pemerintah seharusnya bisa lebih waspada atas keselamatan para warganya meskipun mereka hanya pekerja biasa. Tidak hanya bertindak jika sudah kadaluarsa, yang akan di bela sudah terlanjur meregang nyawa. Semoga minah diampuni segala dosanya oleh yang Maha Kuasa Yang Maha tahu segalanya.
Minah tetap dipancung, ya itulah judul puisi esai yang menggetarkan hati yang dikarang oleh Denny JA. Puisi yang menggambarkan begitu sulitnya mencari kehidupan di negeri asing demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Meskipun upah di luar sana sangat menjanjikan, namun nyawa tidak ada yang menjanjikan dapat dibawa pulang dengan selamat atau tidak. Begitu mengenaskan memang, mereka yang dianggap “Pahlawan Devisa” malah mengalami nasib yang tidak kunjung membaik. Beberapa terkena hukum pancung tanpa ada perlindungan hukum dari duta besar yang terkait, disiksa oleh majikannya, dan kadang beberapa dari mereka pulang dengan membawa anggota “keluarga” baru (janin).
Mengapa peristiwa tak manusiawi terhadap TKI masih sering terjadi? Penyebabnya mungkin sederhana. Pertama, karena pemerintah tidak memberi keseriusan dan perhatian yang besar terhadap kondisi dan nasib para TKI. Para TKI kita kerap ditelantarkan dan dibiarkan sendiri menghadapi perlakuan tidak adil. Kedua, pemerintah tidak tegas menyikapi kasus-kasus penyiksaan dan pembunuhan para TKI. Kasus serupa pun seringkali berulang tanpa ada penyelidikan dan penindakan dari pemerintah.
Membaca puisi Denny benar-benar menggetarkan emosi para pembacanya. Denny seolah-olah mengajak kita untuk menyelami sosok Minah, sosok perempuan desa yang berjuang keras di negeri asing yang malah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Dari puisi tersebut secara tidak langsung kita juga diajak untuk selalu bersyukur karena ternyata masih banyak orang-orang yang nasibnya tidak lebih beruntung dari kita. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjalani hidup yang lebih baik, karena kita akan sukses hanya dengan dua tangan, yaitu tangan kita dan “Tangan Tuhan”
Pemerintah seharusnya membaca puisi ini agar mereka tersadar ada banyak jutaan Minah diluar sana yang nasibnya masih dipertanyakan. Dan semoga tidak ada Minah-Minah lagi yang akan jadi korban.
Good job for Denny!
Siti Fatimah
Kebayoran Lama
Jakarta Selatan 12210
email : fath_ellzahraa@ymail.com
08568989694
Pahlawan devisa ini seolah terlupakan. Mereka menjadi TKW karena terpaksa karena tak ada lahan pekerjaan di Indonesia. Padahal kalau tenaga kerja kita terlatih bisa memanfaatkan sumber daya Indonesia yang katanya melimpah, pasti pengiriman TKW itu tak akan terjadi.
Tapi di sisi lain saya salut dengan perjuangan mereka untuk menafkahi keluarga harus meninggalkan orang-orang tercinta. Semoga tak ada lagi Minah Minah yang yang harus mengalami hukum pancung.
aspirasi para TKW yang tidak tersampaikan dirangkum dalam puisi esai ini. Minah merupakan tokoh fiksi yang dibuat untuk mewakili seluruh TKW Indonesia yang merasa tidak mendapat keadilan. Semoga menjadi evaluasi bagi Pemerintah dan calon TKW yang akan berangkat agar jangan mudah teriming-imingi penghasilan besar dengan menjadi TKW.
sekian
Yulinda Nasti
Jl.Babakan tengah Gg.mesjid No.77 Rt 2 Rw 8 Darmaga-Bogor 16680
dee.07.ty@gmail.com
085297340975
Akun fb : Yulinda Nasti
walaupun batas waktu reviewnya sudah lewat,aku sekedar menyampaikan protesku yang tidak akan didengar oleh pemerintah.
salah satu kerabatku adalah seorang TkW aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya dinegeri orang,tapi setidaknya berikan fasilitas ataupun perlindungan untuk para TKW yang mengharapkan kesejahteraan itu…betapa banyak keluarga yang merasa kehilangan tanpa diperhatikan mereka hanya bersabar dan menahan amarah.sekali lagi tidak perlu review ini untuk diterbitkan asal pemerintah ataupun yang dapat membawa perubahan untuk para TKI itu telah membaca review saya ataupun puisi ini.kuharap hati mereka dapat tersentuh dan tergerak hatinya.
sejujurnya aku tidak terlalu mengerti tentang sastra puisi,tapi saat membaca puisi ini pak denny bisa langsung membawa perasaan sang pembaca dalam satu kalimat.puisi ini sungguh menyentuh,ironis sekali melihat negara yang kaya sedang rakyatnya mengais di negeri orang.ironis memang,disaat pembangunan sana sini mengucurkan uang yang tak terbayang diluar sana rakyatnya bermandi darah mencari devisa.apakah pikiran kalian sama dengan saya
from:dea gustiani dwi putri
alamat:jalan ade irma suryani blok l komplek rumah tumbuh kebupaten muara enim,sumsel
email:dechan66@yahoo.com
kode pos:31315
no hape:085788808209
yaah…sekedar menyalurkan aspirasi siapa tahu hoki.terima kasi
Kasus Minah ialah contoh kecil dari berbagai penderitaan TKI di berbagai negara lain. Dalam puisi esai berjudul Minah Tetap Dipancung menggambarkan pelanggaran hak asasi yang diterima oleh Minah seperti hak untuk hidup karena dihukum mati, hak wanita karena diperkosa, hak atas rasa aman. Dengan kata lain, tidak untuk bermaksud lebay bahwa Minah ini dan Minah-minah lain di negara lain merupakan korban pelanggaran semua hak asasi manusia yang tercantum pada UU RI No 39 tahun 1999.
Penempatan Minah dan TKI lainnya ke luar negeri ialah tanggung jawab dari swasta atau Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta dan jumlahnya sebesar 569 perusahaan pada tahun 2010 dan itu yang tercatat.
Moratorium pengiriman TKI baru ke Arab Saudi memang diterapkann dan merupakan cara tepat dilihat dari aspek makro, tetapi hal ini tidak akan berguna jika tidak terdapat pembenahan bagi Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta. Perusahaan-perusahaan yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam pengiriman TKI dan pemenuhan kesejahteraan TKI dapat dicabut izinnya.
Perlu diingat bahwa Indonesia memiliki sistem jaminan sosial nasional yang telah diatur Undang-undang dan dalam prakteknya harus mengandung asas manfaat bagi Minah-minah lain di negara lain. Pemberian asuransi tidak sekedar memberikan asuransi tetapi harus berlandaskan pada sembilan prinsip sistem jaminan nasional.
Lebih jauh lagi, Satgas penanganan TKI yang terancam Hukuman Mati harus bekerja efektif jangan sampai ada ironi bahwa gembong narkoba asing dapat grasi tetapi pemerintah tidak dapat memberikan kepastian hukum bagi minah-minah di berbagai negara.
Nama : Muhammad Iqbal
Alamat : Kp Baru Rt 008/03 No 81 Kelurahan Sukabumi Selatan Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat
Kode Pos : 11560
No Handphone : 085692337078
Alamat Email : iqbalmytaro@gmail.com muhammad.iqbal74@ui.ac.id
Akun Twitter : @iqbal_mytaro
Akun Facebook : Muhammad Iqbal Mytaro
Puisi esai yang mengaduk-aduk perasaan. Miris : apakah harus ada Minah untuk Indonesia. Penyumbang devisa negara terbesar namun tak mendapat perlindungan dari negara. Kasihan sekali Minah.
Seharusnya tidak perlu ada orang-orang bernasib seperti Minah. Seharusnya orang desa juga harus pintar. Seharusnya orang-orang seperti Minah bisa dikelola dengan baik oleh negara. Apakah begitu sulit mencari rizki di negara sendiri yang kaya raya ini? Tapi itu semua hanya seharusnya.
Kenyataannya tidak begitu. Ada banyak orang-orang seperti Minah. Merasa putus asa menggantungkan harapan di tanah air sendiri. Hingga harus mengorbankan diri merantau ke negara lain hanya untuk dollar, kemudian menyetorkan uang pada negara. Alih-alih uang yang di dapat, kehormatan dan nyawa melayang.
Bapak Denny AJ benar-benar telah menuturkannya dengan jelas melalui puisi esai ini. Seperti itulah nasib pahlawan devisa. Kasihan sekali Minah. Tapi Minah tetap dipancung.
Aku adalah seorang Indonesia dan aku bangga menjadi warga Negara Indonesia. Tetapi, satu yang tidak aku suka dari Indonesia. Tidak ada penghargaan kepada pahlawan-pahlawan seperti TKI. Jangankan TKI, para ilmuwan yang lahir di Indonesia pun kadang tak diindahkah. Itulah sebabnya Indonesia terpuruk. Tidak maju. Hanya jalan di tempat.
Pengangguran memang harus diberantas. Mungkin mengirimkan tenaga kerja ke negara asing adalah hal yang efisien. Tapi, seharusnya pemerintah dapat menjamin keselamatan para tenaga kerja. Membela mereka yang benar. Jangan hanya duduk-duduk.
Mereka butuh kalian. Mereka butuh pembelaan. Di saat mereka mendatangkan devisa bagi negara, negara tidak membela mereka saat susah. Mengutip dari iklan yang sering terdengar, “APA KATA DUNIA?”
Sangat2 mengharukan,Pantaskah rakyat negri ini dibilang merdeka? terimakasih buat pak denny ja yg sudah menuliskan puisi ini.Semoga para pemimpin negri lekas sadar akan sengsaranya tkw/tki..
Sempat bergetar hatiku saat kubaca puisi super ini, memang ungkapan yang tepat jika disebut “Puisi yang menggetarkan hati”
Dengan berbekal mimpi-mimpi yang begitu besar aminah pergi ke negeri orang sebagai TKW. Besar modal yang dikeluarkan dan hal berharga yang harus ditinggalkan ternyata tidak bisa menebus untuk apa pun yang terjadi di sana. Bahkan hal yang terburuk pun terjadi, ketika mimpi dan kenyataan begitu berbeda. Dilema antara kekuatan iman dan kebencian terhadap majikannya membuat dia lepas kendali dan melakukan suatu pelanggaran hukum dan tidak tertolong lagi. Kenyataan yang sedemikan rupa sangat menyedihkan dimana negeri ini memiliki sekian ribu TKI yang telah menyumbang devisa yang begitu besar malah tidak memiliki perlindungan hukum yang mencukupi sehingga kerap kali menjadi korban dan tidak jarang juga yang sampai kehilangan nyawanya secara sia-sia.
dan aminah pada puisi benar-benar mengingatkan pembaca pada fenomena TKI yang selalu berulang dan tidak terselesaikan. Mimpi terkubur tanpa arti dan pengorbanan lenyap ditelan mimpi. Ketika harap tak lagi bermakna dan ungkapan tak kan bisa tersampaikan. Doa adalah harapan terakhir dari rangkaian mimpi yang terucap.
sungguh menyentuh dan menampar. Semoga aminaha-aminah yang lain bisa tertolong ketika menghadapi situasi yang sama.
Dengan berbekal mimpi-mimpi yang begitu besar minah pergi ke negeri orang sebagai TKW. Besar modal yang dikeluarkan dan hal berharga yang harus ditinggalkan ternyata tidak bisa menebus untuk apa pun yang terjadi di sana. Bahkan hal yang terburuk pun terjadi, ketika mimpi dan kenyataan begitu berbeda. Demi orang-orang tercinta dan harapan mereka yang begitu besar, namun takdir tak dapat diraba oleh manusia. Dilema antara kekuatan iman dan kebencian terhadap majikannya membuat dia lepas kendali dan melakukan suatu pelanggaran hukum dan tidak tertolong lagi. Kenyataan yang sedemikan rupa sangat menyedihkan dimana negeri ini memiliki sekian ribu TKI yang telah menyumbang devisa yang begitu besar malah tidak memiliki perlindungan hukum yang mencukupi sehingga kerap kali menjadi korban dan tidak jarang juga yang sampai kehilangan nyawanya secara sia-sia.
dan minah pada puisi benar-benar mengingatkan pembaca pada fenomena TKI yang selalu berulang dan tidak terselesaikan. Mimpi terkubur tanpa arti dan pengorbanan lenyap ditelan mimpi. Ketika harap tak lagi bermakna dan ungkapan tak kan bisa tersampaikan. Doa adalah harapan terakhir dari rangkaian mimpi yang terucap.
sungguh menyentuh dan menampar. Semoga minaha-minah yang lain bisa tertolong ketika menghadapi situasi yang sama.
Nama : minda erlina eviani
Alamat : jl. amarta no.70 tegal reja, ngringo, jaten, karanganyar
kode pos : 57772
email : mivindava@yahoo.com
no. hp : 081226018902
Puisi P Denny JA ternyata berbeda dengan puisi lain. Puisi P Denny bukan puisi lebay. Puisi esai ini seakan-akan kita yang menjadi tokoh utamanya. bukan sekedar puisi, tapi kisah dan fakta yang seolah-olah cerita cerpen dengan isi yang sarat makna dalam bungkus puisi esai. Begitu mengharukan kisah si Mina ini, sesuatu hal yang faktanya benar-benar terjadi. ada rasa haru dan sedih, cukup untuk meneteskan air mata. pokoknya puisi-esai ini rekomen untuk di baca orang-orang. salut untuk P Denny.
Penuturan kisah yang sungguh luar biasa.
Review
Jujur, saya orang awam dalam dunia puisi. Sebagai orang awam, saya membaca puisi di atas, saya bingung. Saya bingung karena ketika saya membaca puisi di atas, saya merasa saya sedang membaca puisi atau membaca cerpen? Puisi dengan kata-kata umum dan sangat mudah di tebak maknanya, lebih seperti cerpen tapi terlalu singkat. Menurut saya, orang yang tidak terlalu tau tentang dunia puisi, ketika membaca puisi di atas saya seperti membaca sebuah cerpen. Karyanya bagus karena mudah bagi saya untuk mengerti.
TKI PAHLAWAN DEVISA,tu kata pemerintah,tp d sa’at ada TKI sperti minah,pemerintah kagak bsa jdi PAHLAWAN TKI,sunggh IRONIS negara kita
untk pencpta puisi ” minah tetap di pancung” sukses selalu,puisimu baguuuz bngeeeetzz…….
saya ingin review puisi berjudul “minah tetap dipancung” , disini aminah menggantikan peran suami yang pengangguran menjadi TKW di saudi arabia yang ingin melawan kemiskinan , dia tau bahwa hidupnya tak semewah pejabat , maka dari itu dia menjadi TKW ingin sekali melawan kemiskinan dan penderitaan hidup miskin .
selama jadi TKW disaudi arabia , aminah selalu mendapat siksaan dan perbuatan tak senonoh dari sang majikannya , aminah selalu melawan saat dia disiksa , disini aminah sangat berani dalam melawan , melawan yang dimaksud adalah melawan kemiskinan dan melawan hal yang tak senonoh yang diajukan oleh majikan pria terhadapnya , tetapi karena aminah melawan dengan cara membunuh , aminah kini tewas dikampung halaman sang majikan dengan cara dipenggal kepalanya .
kini aminah meninggal dan tak bisa membantu peran suaminya , kini jasa aminah sangat dibanggakan oleh keluarga , aminah sang pahlawan bagi keluarganya .
ini review puisi saya yang berjudul “minah tetap dipancung”
miftah habibi
twitter : @miftahFOX
e-mail : scoconutz@yahoo.co.id
alamat : jl.STM grafika nomor 30 Rt 003/02 pasar jum’at lebak bulus ,jakarta selatan
kode pos : 12440
CP : 021-7659405
Pak Denny JA Sungguh orang yang benar hebat, merangkai sebuah kisah tragis dalam bentuk puisi essay dengan alur yang runtut dan menggugah hati. Dalam “Minah Tetap Dipancung” terbukti sudah dimana letak hati para penguasa, bak lirik lagu Perahu Retak “Aku heran, aku heran yang salah dipertahankan Aku heran, aku heran yang benar disingkirkan” sungguh kejamnya dunia ini. Rintihan air mata Minah hanyalah dianggap sebuah keringat kotor bagi para penguasa Arab yang ketika keluar dari dalam tubuh, mereka hanya sekilas mengusapnya, tanpa memperhatikan dengan apa mereka mengusap, Pedang yang tajam kah? Atau kain kotor?. Sungguh berartinya engkau Minah, nyawamu lenyap membawa predikat Pahlawan devisa negara, tinggalah namamu kini yang terkenang untuk dijadikan pelajaran bagi kaum hawa yang akan melangkah menjadi TKW di negri orang. Pak Denny JA, Tragedi yang engkau lantunkan dalam bentuk bait-bait puisi essay sungguh menggugah hati, tak sanggup mata ini melihat betapa kejamnya mereka terhadap saudara kita, hati selalu bertanya-tanya, Apakah selamanya kita hanya berdiam diri saja, sementara saudara kita sudah banyak yang menjadi korban, semena-mena terhadap kita, di cambuk, disetrika sampai dipancung? Dimana paruh burung garuda kita yang tajam, sudahkah tak mampu mematok musuhnya? Hukum tak lagi hukum yang sebenarnya, bukan bukti nyata, saksi dan penjelasan yang menjadi dasar pemecahan, namun hanyalah bukti samar, abstrak yang berbuih “nyawa harus dibayar dengan nyawa”. Minah keikhlasanmu, kesabaranmu sungguh kuat, dalam keadaan terkekang tak sedikitpun kau lewatkan orang sekitarmu yang sangat berarti, suamimu, anakmu, guru ngajimu. Iringan doa, dzikir dan asma Allah SWT yang kau lantunkan semoga menggugah hati para penguasa Arab bak mu’jizat yang kelak kan datang menyiram hati yang tertutup kabut.
Nama : Andri Setiawan
Alamat : Kel.Tosaren Barat RT 20/ RW 07 Kota Kediri Kecamatan Pesantren, Jawa Timur.
Kode Pos : 64133
Email : andri_setiawan42@ymail.com
No.HP : 085790641130
HERMAN
Kisah yang sangat menyentuh sekali. Pak Denny JA melalui puisi yang berjudul “Minah Tetap Dipancung” sekali lagi mampu menceritakan beratnya perjuangan para perjuang devisa negara di negeri orang dalam versi yang sangat indah. Puisi ini mampu menghangatkan kembali kisah sedih yang dialami para TKW, dengan bahasa yang halus, menyentuh dan sesekali menghentak para pembaca. Aminah pergi jauh meninggalkan gadis kecilnya dan suami tercinta untuk mengumpulkan real demi real untuk merubah takdir hidupnya. Dan ironisnya, pengorbanan besar itu harus berakhir diujung pedang Algojo dengan status Aminah sebagai penggoda suami orang dan pembunuh. Aminah dengan jutaan rasa cinta dan keshalehannya, rasanya tetap sendiri di negeri orang, “kepergiannya” hanya diiringi dengan kata kasihan dari bangsa ini, entah.. bagaimana selanjutnya kehidupan gadis kecilnya kelak…..
Dan jujur, puisi ini telah membangunkan saya dari keterlenaan selama ini, keterlenaan karena masih disubsidi biaya kuliah oleh orang tua. Tapi bagamaina nanti 3 tahun lagi disaat kami wisuda, kami harus bekerja….adakah peluang itu di negeri ini?atau kah kami akan menyusul jejak Aminah, Aminah baru di negeri orang?? Kisah ini sewajarnya menjadi cemeti bagi kita semua dan bangsa ini.
Nama : Herman
Alamat : Jl. Listrik Gang Barona Dusun PLN Desa Hago Tengoh Kecamatan Banda Sakti
Lhokseumawe Kode Pos (24300).
Email : herman232@ymail.com
No. Hp : 081990208200
Andai negara ini kaya raya seperti arab saudi
Kaya tidak hanya bagi segelintir orang
Andai pahlawan devisa itu tidak ada
Karena negara ini sudah cukup memakmurkan rakyatnya
Andai lapangan kerja itu mudah dan aman
Karena setiap orang mau berusaha berwirausaha
Andai setiap suami mencukupi kebutuhan keluarganya
Tentu istri cukup mengurus anak dan rumahnya
Andai Minah bukan TKW
Tentu dia takkan mati mengenaskan
Budi V.S
082158357754
Begitu hebat nya Pak Denny JA merangkai kisah hidup Aminah dalam puisi essay yang sangat nikmat untuk dibaca. Dalam “Minah Tetap Dipancung” teruraikan dengan jelas sekali betapa diskriminasi masih sangat subur di tengah-tengah kehidupan manusia. Diskriminasi, kejahatan yang hanya akan menimbulkan kesedihan, menjadikan hidup seakan begitu buruk tanpa keindahan, membuat mata menangis dan hati pilu. Namun Pak Denny JA sangat paham betul, ada satu hal yang dapat merubah semua “rupa buruk” diskriminasi menjadi “paras cantik”, yang dapat merubah marah jadi sayang, murka jadi senyum, air mata jadi binar mata, ialah CINTA. Pak Denny JA menerangkan betapa cinta akan merubah diskriminasi menjadi tawar. Seperti kisah Aminah. Cinta dalam hatinya membuat dia tetap tersenyum ikhlas sedetik sebelum pedang menembus saluran pernapasannya.
Puisi essay ini sungguh sangat bermanfaat untuk membuka wawasan, memperhalus jiwa, mengasah empati, menuluskan keikhlasan dan memekarkan cinta yang suci..
Adi Chandra Berampu
Babakan Lebak Rt.03 Rw.06 Nomor 50 Balumbang Jaya, Dramaga, Bogor, Jawa Barat
Kode Pos 16116
e-mail: cebe.adi@gmail.com
menyentuh sekali… puisi ini menarik krn bisa menggambarkan layaknya kisah nyata
puisi yang sangat bagus. Menceritakan kisah seorang istri sekaligus ibu yang berjuang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup nya dan keluarganya, tetapi ia berakhir dengan di pancung di Arab saat menjadi TKW. Padahal ia melakukan pembelaan agar si majikannya itu berhenti melakukan hal yang sangat buruk tersebut. Namun, pembelaan tersebut malah berakhir dengan dipancung. Kerja kerasnya sebelum ia dipancung juga belum pernah digaji. Semoga arwahnya diterima di tempat yang paling baik di sisi Allah S.W.T, amin. Puisi ini sukses membuat hati saya tersentuh, saya kagum dengan puisi karangan om Denny JA yang satu ini.
Nama lengkap : Szafira Nurul Qolbi
Alamat Lengkap : Jl. Bekasi permai 2 blok bb 5 RT 05 RW 15 bekasi timur
Kode Pos : 17112
Alamat Email : szafiraqolbi@yahoo.co.id
Intinya pesona puisi ini telah membuatku terpesona dalam keterpesonaan. Didalamnya terdapat berbagai pesona yaitu kata-katanya mudah dipahami, lugas. Religius, memuat kejadian realitas kehidupan yang nyata, konflik batin dan konflik lingkungan. Didalamnya memuat kesedihan, kebahagian, susah, senang.kesedihan, kebahagiaan. Berisikan hikmah yang dapat diambil pelajaran. Puisinya dapat mempengaruhi emosional pembacanya, rasa simpati dan rasa empati. Membuat penasaran sehingga ingin mengetahui jalan cerita yang diungkap dalam puisi tersebut. Dan yang paling penting adalah atas nama cinta karna cinta merupakan sesuatu yang tidak habis-habisnya dibicarakan. Dan cinta merupakan bagian dari kehidupan manusia. Selalu menjadi perhatian, perdebatan, perbincangan dan sesuatu yang dicari-cari dan diminati oleh setiap manusia baik tua maupun muda.
Duka kita bukanlah pada satu nyawa yang hilang, duka kita adalah tentang keadilan dalam penantian panjang. Mungkin, esok hari saya yang di pancung di tanah yang katanya suci, terpaksa membunuh daripada di bunuh dan akhir mati sebagai pahlawan devisa. 4 bulan setelah kematian saya, tak lagi di ingat dan terjadi lagi pancung karena membunuh agar tak di bunuh.
Malang benar nasib Aminah ini, jangan sampai tragedi pilu yang hampir sama atau sama dari cerita puisi diatas terulang kembali terhadap TKI/TKW dari bumi pertiwi ini, yang katanya gemah ripah loh jinawi ???
mengharukan, dan menyentuh hati bgt…
Pak Denny, puisi Anda ini benar-benar sesaat menyihirku, membawa aku ke suasana yang mengharukan. Aku salut dengan karakter Minah. Seorang TKW yang punya pendirian bagus walopun harus dikorbankan nyawanya demi harga diri. Dan puisi ini pantas jadi referensi buat para TKW di manapun berada. Karena fenomena seperti di Saudi Arabia juga sering terjadi di negara lain. Kuatkan iman dan bentengi diri wahai para calon TKW..
mengharukan sekali
puisinya bagus,,,
Ketika saya membaca puisi itu, saya seperti membaca cerita,,,
menggugah dan menginspirasi,semua yang berkomentar ataupun membaca puisi ini kurasa terpengaruh dengan puisi yang mengalir dan begitu menjiwai.betul kan…?hayoo,reply..reply :0
pertama kali lihat puisi ini,perasaan bosan karena terlalu panjang dan tak terlalu tertarik.tapi tema yang ditulis begitu mengalir dan sesuai realita,rasa bosan berganti penasaran untuk membaca sampai akhir.pak denny bisa membuat para pembaca seakan akan berada disituasi tersebut dan mampu membawa jiwa sang pembaca untuk berpartisipasi.ini sangat mengagumkan dan indah.kata yang klise,tapi terbukti
Allah maha mengetahui apa yang tidak diketahui hambanya,Dialah yang maha adil dan memberikan yang terbaik untuk hambanya.
termasuk yang telah berjasa dan ikhlas seperti TKI minah dan lainnya.walaupun kita tidak tahu apa isi hati mereka yang sebenarnya tapi mereka pasti ingin bahagia dan sejahtera….
Melalui puisi ini Denny JA berhasil membawa pembaca melihat, merasa, mencium, merasakan penderitaan, kerja keras, harapan kebahagiaan, sekaligus keperihan luka dan ketidakberdayaan Minah sebagai TKW.
Inilah keampuhan puisi yang coba dimanfaatkan Denny JA untuk menorehkan kegelisahan tentang nasib buruk yang dialami TKW di luar negeri. Keperihan yang seringkali tidak terekam media massa itu sangat banyak terjadi, hingga saat ini, di negeri asing.
Semoga puisi ini mampu menggugah semua pihak, terutama pemerintah, untuk lebih membela harga diri dan martabat semua warganegara Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Puisi ini menjadi cermin nyata bahwa pemerintah memang masih lemah dalam membela warganegaranya. Harapan Minah adalah harapan jutaan TKW dan TKI di luar negeri yang saat ini masih bergema. Mari wujudkan harapan tersebut.
puisi esai ini sangat menggambarkan realita kehidupan TKW Indonesia yang bekerja mencari nafkah di negara tetangga..
“pahlawan devisa” yang semula memiliki impian demi sesuap nasi dan kebutuhan keluarga mereka, banyak diantara mereka yang pulang ke Indonesia hanya membawa “nama” saja tanpa membawa uang hasik jerih payah mereka. lewat puisi esai ini saya bisa membayangkan konflik batin dan fisik yang di alami oleh para TKW terutama minah yang menjadi tokoh real dan di ceritakan dengan gaya bahasa dan diksi yang kompleks.
saya tidak dapat berkomentar banyak, hanya ini saja komen saya,, lanjutkan berkarya
tangis tak lagi terbendung di bait-bait trakhir.tulus untuk semua wanita yg terambil kehormatannya dg paksa.
sudah banyak kasus spt itu, tapi hukum tak ada yg membela wanita.
harus dibeli dgn apa lagi hukum itu.
ide yg begitu cerdas utk mengangkat topik sensitif ini dan menguraikannya dgn sangat mendalam namun tetap lugu, seperti karakter tokoh.
Sangat miris sekali dan menyayat hati membaca puisi esai karangan Pak Denny. Kisah tragis seorang Aminah yang sering kali terjadi dikalangan TKW di berbagai belahan bumi ini, pemerintah Indonesia harusnya cepat dan tanggap menghadapi permasalahan ini. Lapangan pekerjaan Indonesia juga sangat sedikit, jumlah pengangguran semakin meningkat tiap tahun. Jika memang TKW merupakan pahlawan devisa dan tidak mungkin dicegah untuk bekerja di negara lain. Sebaiknya ada perlindungan hukum yang sah untuk TKW dan pendidikan bahasa serta keterampilan lain untuk TKW, lihat saja Minah yang bekerja diluar sana, bahkan dari segi bahasa saja ia tidak mengerti apa yang dibicarakan majikan. Komunikasi itu kan sangat penting, bagaimana seorang TKW bisa bekerja dengan baik, jika dari segi bahasa saja ia tidak mengerti. Hal ini kan bisa jadi penghalang dan terjadi miskomunikasi. Miris sekali kisah Minah ini, semoga tidak ada lagi kisah- kisah seperti Aminah ini.
Sedih baca puisi ini..aku suka bertanya2,,negara arab sana bkan’a negara islam??dmana nilai keislamannya??ga seperti ini!! tkw jg manusia… Smua bantuan hukum juga terlambat, walaupun media mengexpose besar2an. Mana jaminan ketenangan buat rakyat menengah kebawah???ga adil!!
ya tuhan…kacian sekali nasib tkw indonesia ini.sy sampe bernangis2.Saya pernah bekerja sebagai ADM di sebuah perusahaan PJTKI swasta di malang jawa timur.Pemiliknya bukan org lain yg tdk saya kenal melainkan pamanku sendiri dan istrinya.Pertama kali sy kerja disana serasa menyenangkan.Saya di kenal sebagai keponakan bos.Namun setiap gerak gerikku di catat dan di laporkan ke paman n istrinya di surabaya.Saya membantu mereka sebisanya.Mereka mau keluar negri ke HK untuk mencari agen2 TKW sy di minta untuk melihat anak2 TKW yg tinggal di asrama untuk belajar bahasa.Kebetulan PJTKI itu hanya menyalurkan TKW ke nalaysia,singapura,hk dan Tw..Saya kadang melihat anak2 itu begitu kasihan.Mereka datang ke asrama ini penuh dengan sejuta harapan.Mereka yang kristen boleh diizinkan ke gereja namun harus dengan pengawasan.Saya yg bukan agama kristen di minta pamanku untuk menemani mereka juga saya lakukan.kata pamanku mereka merupakan aset kita.pasang mata baik2 jgn biarkan mereka lari.
Diasrama kehidupan mereka pagi beres2 sapu2 asrama,masak bersama sesuai shift dan belajar bahasa kanton terutama yg mau ke HK.setelah guru bimbing merasa bahasa mereka lumayan mereka akan menjalani proses foto dan rekam video.Saya melihat foto2 mereka di pajang di dinding sepeerti rasany kita memilih anjing di pertokoan hewan.
Saya kerja disana tidak lama hanya bertahan 4 bulanan.Saya tidak tahan apa yg terjadi disana.Anak2 di bawa dari kampung di iming2 oleh PL (pekerja lapangan ato ibaratnya Calo)mau di kasi uang jajan,baju bagus.sewaktu itu sy jg sebagai kasir.asal ada PL yg membawa 1 anak mereka berhak minta uang 3juta.
Setellah bekerja beberapa saat sy mulai belajar bahasa jawa.Dijawa timur kbanyakan org ngomong bahasa jawa.Kebetulan sy org sumatera.Pernah sekali sy menderngar pembicaraan guru2 ada anak yg kerja di HK baru za di puylangkan dan di adili oleh istri pamanku.Saya tdk tau bagaimana di adili.sy mencoba mendegar percakapan mereka dengan keterbatasan bahasa jawaku.kesalahan ank itu telah mengakibatkan kebakaran yg tdak sengaja.krn kebiasaan menaruh lap di atas air yg di masak.kemudian lap itu di hembus angin dan terjadi kebakaran kecil dan majikanny memulangkanny ke agen dan agen memulangkannya ke PT.
Kadang sy pikir dapat majikan jahat dan baik itu tergantung dari anak TKW itu sendiri.ada yg dapat majikan baik ya baikkkk sekali…ada yang jahat ya sepeerti minah ini…
Puisi essai karangan pak Denny ini sangat menyentuh hati siapa saja yang membacanya. Mengambil sebuah kisah nyata kehidupan rakyat miskin di Indonesia, khususnya untuk para TKI atau pahlawan devisa Negara.
Mengapa ada TKI? Mengapa ada niat dan tekad dari para perempuan Indonesia untuk bekerja diluar negeri? Mengapa mereka berharap pada negeri orang?
Jawabannya hanya 4 kata “Ingin kehidupan yang layak”.
Apalagi yang diharapkan warga Negara apabila tidak mendapat kehidupan yang layak di negeri sendiri? Jalan satu-satunya adalah menggantungkan harapan dan impian di negeri orang.
Aminah, adalah satu dari sekalian banyak tki Indonesia yang bernasib buruk dinegeri orang.
Niat awal ingin membahagiakan keluarga, tapi hukuman pancung yang diterima.
Lucu ya, kita ada dinegeri sendiri saja harus mendapat perlindungan hukum sebagai warga negara, apalagi kita berada di negeri orang? Dimana undang-undang yang mengatur tentang perlindungan warga Negara tersebut?
Data terakhir ada 28 tki yang akan dihukum pancung, dan lebih dari setengahnya adalah perempuan. Siapa yang bisa menolong dan membebaskan mereka dari hukuman pancung tersebut?
Semoga lambat laun pemerintah bisa lebih sadar dan serius dalam menangani masalah tki dibanding mendahulukan kepentingan politik mereka.
Salut kepada para tki dan ibu aminah yang rela meninggalkan suami dan anak untuk dapat mencukupi keperluan sehari-hari dan menyekolahkan sang anak walaupun ternyata sikasaan yang didapat. Sugguh mulia sekali hatinya. Mereka adalah bukti perempuan Indonesia yang kuat dan tangguh.
Semoga tidak ada lagi aminah aminah lainnya yang menjadi korban kebejatan majikan! Aminn…
Terimakasih kepada pak Denny JA yang telah mengangkat kisah nyata dari ibu aminah untuk dijadikan inspirasi. Puisi-puisi bapak sangat bagus dan tentunya menginspirasi saya sebagai mahasiswi untuk dapat berkarya untuk negeri ini
Nama : Putri Annisa
Alamat : Jl.Delima raya rt 04 rw 08 no.42 Curug, Pondok kelapa, Jakarta timur
No HP : 081286757593
Twitter : @putriiAnnisa
Facebook : itsme_putriannisa@yahoo.com
Betapa sedihnya membaca puisi esai Pak Denny ini, mengulas kehidupan nyata rakyat miskin di Indonesia. Seandainya Pemerintah kita bisa menyediakan lapangan pekerjaan di Indonesia, kenapa harus menjadi TKI di negara lain.
Sudah sering kita mendengarkan berita tentang TKW Indonesia yang bekerja di Luar Negeri berakhir dengan kematian, seakan2 tanpa ada yg peduli dan bahkan keberadaannyapun tak dapat terdeteksi. Kejadian ini terus berulang kali terjadi, Padahal Pemerintah mengatakan bahwa TKI2 ini adalah pahlawan devisa untuk negara. Kenapa kebanyakan terjadi kekerasan kepada mereka, rasanya ini tidak adil.
Sampai kapankah pahlawan devisa ini menanggung derita di negara orang?
Semoga tidak ada lagi Minah2 yg lain , yg tidak digaji, bahkan diperkosa sampai akhirnya di pancung.
Salut dengan Ibu Minah, rela mempertahankan kehormatannya dibandingkan uang real yg diberikan oleh majikannya utk mengumbar nafsu bejadnya.
Innalillahi Wainnailaihi Roji’un , Semoga Ibu Minah damai di syurga, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Aamiin YRA.
Puisinya bagus, kata katanya Kena ,,
Jempol yg bnyak aja deh buat yg nulis
Dalam keindahan puisi ini, tersimpan rasa empati yang mendalam terhadap nasib para tenaga kerja pahlawan bangsa. Nasib mereka yang kadang tidak jelas memang sering mengundang empati dari orang-orang yang masih memiliki hati.
Ketika kepahlawanan seseorang kpd bangsanya dianggap rendah dan diremehkah, mimpi harus digadaikan agar tetap bertahan menatap wajah” yg akan tersenyum ketika dia bisa memberikan yang terbaik. Puisi ini membuat sya sbgai kaum muda n perempuan hrus bnar” blajr dgn keras agar tak tertipu dgn perubhan zaman yg smakin pesat n membuka lapangan kerja s.luas”nya dan membangkitkn smangat para pemuda pemudi kcl kta untk tdk hanya berharap dr negri orang tapi galilah ya ada dinegri ini.
tkw indonesia di luar negeri harus dilindungi keselamatannya.
setiap waqtu harus bisa berkonsultasi dg kedutaan besar.
faqir miskin dipelihara negara.
kapan faqir miskin tuntas dipelihara negara?
solidaritas dg para faqir miskin harus jadi mental para pemimpin indonesia.
kekayaan para konglomerat harus berfungsi sosial untuk para faqir miskin.
pemerkosaan harus dituntut,pemerkosa harus dihukum mati,bila sudah berkeluarga.
Penulis begitu piawai merangkai syair. Kisah TKW yang mengenaskan adalah luka lama bangsa kita. Kegagalan pemerintah dalam memberikan kesejahteraan rakyat membuat rakyat harus mengatasi sendiri persoalan hidupnya. Alih-alih ditanggung pemerintah sebagai penyelenggara negara, masyarakat miskin menjadi TKW malah mendatangkan devisa bagi negara.
Dan pemerintah entah karena bodoh tetap tak mampu memberi perlindungan lewat payung hukum yang seharusnya bisa di buat. Orientasi politik Indonesia bebas aktiv hanya teori dalam pelajaran PKN. Karena kenyataannya pemerintah tak mampu bersikap dan membiarkan masyrakat miskin (TKW) menjadi korban.
Andaikan puisi-puisi ini bisa disebarluaskan ke seluruh pejabat, paksakan mereka membaca dan memahami. Berharap ada perubahan signifikan menuju kebaikan yang lebih bagi rakyat.
assalamu alaikum wr.wb…
subehanallah maha suci Allah,,,aku tersentu sekali membaca puisi “Mina tetap dipancung” ,,,sungguh besar hati pa denny telah menciptakan puisi esai ini,,, air mata saya menetes membaca perjuangan hidup Mina dalam menghadapi cobaan hidupnya dalam perantaunnya di Arab Saudi, saya berharap semoga TKW-TKW lainnya yang masih tersebar dipenjuru dunia dapat memperoleh perlindungan hukum dari pemerintah Indonesia,,, pemerintah harus sadar bahwa TKW itu bukan hanya pembantu belaka, tetapi dia adalah pahlawan devisa negara, kita harus ingat itu,,,
yang ingin saya berikan masukan disini adalah alur cerita dan dialog tidak langsung dalam puisi ini, mungkin bisa dijadikan dialog langsung, supaya setting suasana yang ingin digambarkan dalam puisi ini dapat lebih konkret…
misalnya dialog antara mina dengan majikannya dapat perjelas dialognya, maksudnya ada timbal balik dari ucapan majikannya itu, jangan hanya dijelaskan saja tetapi memang ada dialog langsung yang menjelaskan hal itu… mungkin itu yang bisa saya berikan masukan,,,wassalam
politik itu kejam politik itu kotor,percuma mengharapkan pertolongan pemerintah yang lamban,aku tahu sebenarnya mereka(pemerintah)bermaksud menolong tetapi terus menunda-nunda dan mendahulukan kepentingan politik mereka.
Cerita kisah nyata yg membuka mata kita semua, dimana keadilan tdk tampak kepermukaan,, hanya berdasarkan ayat AlQuran dmn dlm surat AlBaqoroh tersebut (yg dijadikan dasar) sebenarnya tdk diperuntukan dizaman skrg ini,, dan sesungguhnya keadilan yg hakiki ialah Pengadilan Illahi Robi,, Dan pemerintah terlalu mempertimbangkan harta dibanding nyawa (sebagai pengganti), dengan lambatnya tindakan yg diambil.. Sungguh mengharukan Pejuang Devisa kita,, sesungguhnya negri kita msh blm merdeka msh dijajah dan terjajah oleh keadaan,,
Saya merasa puisi ‘minah tetap dipancung’ ini dangat menarik,sebelumnya saya akan jujur,bahwa saya seorang pemula yang baru menyukai sastra dan kurang mengerti tentang sastra.kubaca dari bait pertama secara perlahan,sajaknya begitu mengalir dan menarik,dan menghanyutkan perasaan para pembaca. Aku sangat menyukai beberapa halaman pertama buku ini di mana penyair memberitahu kita sesuatu tentang hidup.puisi menjadi pribadi yang dapat merasakan jiwa orang lain sampai mereka membaca hasil akhir.penyair dan pembaca sangat erat terlibat dalam proses. Pembaca tidak langsung mengerti hanya dengan membaca judulnya saja,tapi perlahan orang yang mencoba untuk menemukan sesuatu tentang bagaimana perasaan mereka, serta memahami emosi dari tulisan orang puisi itu. Semangat keterbukaan dan partisipasi ada di sini dari awal dalam koleksi ini.
kisah yang banyak beredar dimasyarakat luas. tentang impian meraih sukses di negara orang lain. malah mendapat sakit disana. bahkan sampai susah untuk pulang ke negri sendiri. suatu pelajaran baik. tak selamanya negara orang lebih baik daripada negara kita sendiri
Sungguh terharu membaca puisi esai ini. Miris dan trenyuh rasanya melihat apa yang dialami si Minah. Sulit dibayangkan di jaman internet, facebook dan twitter saat ini namun hal yang menimpa si Minah masih terjadi. Di negara Indonesia tercinta kita ini setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Namun itu semua seakan hanya diperingati untuk formalitas belaka. Tidak berlaku slogan Habis Gelap Terbitlah Terang buat si Minah. Wahai pemerintah Indonesia jadikanlah Kartini-Kartini kita menjadi ratu di negeri sendiri, jangan jadikan Kartini-Kartini kita sebagai babu atau budak di negeri orang. Berdayakan para Kartini Indonesia. Bekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan jaman sehingga mereka mampu berkontribusi kepada bangsa dan negara Indonesia dengan cara yang lebih bermartabat dan terhormat. Sehingga mereka tidak harus meninggalkan keluarga tercinta dan mempertaruhkan nyawa hanya untuk menjadi pahlawan devisa negara dengan cara menjadi babu di negeri orang.
Comment
“MINAH TETAP DIPANCUNG”,sebuah judul puisi yang menarik,membuat penasaran.Setelah membaca tiap kata,tiap bait,sampai usai,hati saya bergetar,terharu,marah,kecewa,kagum,emosi pun terasa meledak ledak meresapi maknanya.
Dan juga keindahan susunan kata katanya dirangkai dengan apik dan penuh penjiwaan dari sang Penulis.LUAR BIASA !!.
Semoga almarhumah Minah diterima di sisi Allah SWT,Amin. .
innalillahi…
membaca setiap kata yang terangkai dalam bait – bait puisi ini sungguh sangat menyentuh hati dan membuat tetes2 air mata mengalir begitu saja. sungguh tak terbayangkan jasa para pahlawan devisa negara kita. mereka merantau ke negeri orang demi mencari penghidupan yang lebih baik tapi harus kembali dengan keadaan yang jauh dari yang diharapkan…
saya acungkan jempol puisi karya Pak Denny, walaupun panjang namun mampu membuat pembaca bertahan untuk terus membacanya dan terbawa kedalam suasana yang mengharu biru..terimakasih..
Satu lagi sebuah karya yang mengusung sebuah kasus atau fenomena kehidupan yang tragis ditanah air ini. sebuah puisi yang menglir tentang cerita seorang Minah, TKW yang menjadi satu diantara sekian banyak korban perbudakan ditanah orang.
Apakah Minah memang pantas mengalami kemtian yang sedemikian rupa sehingga haya karena ia membela dirinya yang tak bersalah? puisi ini secara tak langsung telah menggambarkan lambannya proses hukum, pembelaan terhadap warga negara, serta kurangnya perhatian terhadap hak-hak seorang warga. pada intiya pemerintahsama sekali tidak merespon cepat terhadap kejadian yang dialami waraganya. seharusnya sebagai warga negara entah dimanapun berada, pemerintah wajib memberikan pembelaan seoptimal mungkin karena warga adalah juga suatu pilar adanya sebuah negara. apalagi ketika para TKW sudah diberi gelar PAHLAWAN DEVISA. tak ada yang salah dengan para TKI kita yang memiliki tujuan mulia, berjuang mendapatkan penghasilan yang layak untuk keluarga, sekolah anak, dan orangtua sertasuami, seprti Minah.
Sebuah pembelajaran untuk generasi penerus para TKI untuk lebih berfikir jauh kedepan sebelum terlanjur jatuh dalam perbudakan. setelah sekian banyak kasus penganiyaan yang dialami para tenaga kerja, sehingga para TKI hanya pulang namanya saja.
salut buat om Denny yang menciptakan puisi ini begitu indah dan mengalir. dengan bahasa yang mudah dipahami dan semoga dengan puisi ini banyak mebuka mata para pembacanya. untuk berbuat sesuatu,membela hak-hak para TKI bukan hanya menyanyikan pendapatnya saja tanpa tindakan.
salam!
dwi ernawati
jl. mulyorejo utara 195 a surabaya
fb: dwi ciplux
hp: 085733922271
“MINAH TETAP DIPANCUNG”,sebuah judul puisi yang sangat menarik,hati saya sudah bergetar sebelum membacanya.Tiap bait,tiap kata,mengandung makna yang dapat membuat emosi meledak ledak.perasaan kagum,kesal,ngeri,tercampur aduk saat meresapi puisi ini.Sungguh ini sebuah karya yang penuh penjiwaan yang dibalut dengan keindahan susunan kata katanya.
Puisi ini bagi saya sangat Luarrr Biasa !!!
tidak terasa sampai menitikkan air mata membaca puisi esai pak Denny. pertahanan kehormatan yang bertaruh nyawa. kisah TKW yang belakangan ini sering terjadi. pengharapan sukses justru berbuah tragis.
Sungguh sebuah puisi yang sekaligus menjadi renungan betapa mereka (TKI) tidak diperlakukan layaknya pekerja.
Dan ini juga harus menjadi renungan bagi pemerintah untuk lebih memberikan kelayakan rakyat-rakyat Indonesia dalam mendapatkan lapangan pekerjaan serta melakukan aksi-aksi pemberantasan atau setidaknya mengurangi pengangguran.
Terima kasih
Merinding bacanyaaaa :’)
Cerita yang sederhana tapi realitas di masyarakat. Namun saya kurang faham dengan alurnya, seperi meloncat-loncat begitu. Ya, saya faham ini sebuah puisi namun jika loncat-loncat alurnya saya kurang bisa memahami cerita sebenarnya. mengharukan memang penggalan-penggalan cerita yang dapat saya fahami. GOOD POEM.
Saya terharu membaca kisah ini,saya membayangkan bagaimana perasaan tokoh utama, Aminah saat diperbudak majikannya. Mungkin banyak TKW lain disana yg bernasib sama jg. Antara harga diri dan ketakutan membayangi mereka tentunya. Dan saya rasa tindakan yg dilakukan Aminah terhadap majikannya tepat. Meski menjadi TKW,namun harga diri dan martabat tetap dijunjung tinggi. Yg dipersalahkan disini adalah Pemerintah yg lamban menanggapi kasus tsb. Menlu dan Duta Besar seharusnya cepat tanggap akan hal ini.
Sungguh menyedihkan puisi Essay ini.
Aminah rela menjadi TKW di Arab Saudi untuk bisa menghidupi anak dan suaminya. Tapi ketika dia sudah tiba dan kerja di Arab Saudi , dia harus menanggung apa yang telah dia perbuat . Dia membunuh majikan Laki-lakinya dgn pisau hanya untuk membela kehormatan dirinya sendiri .
Atas nama allah dia rela mati dipancung walaupun kesalahan itu tidak dia niatkan sama sekali.
Aminah semoga engkau tenang di sisi allah yang maha kuasa. Allah tidak buta. Allah melihat semua apa yang mereka perbuat. Jangan diragukan lagi, mereka semua akan menanggung apa yang telah mereka perbuat kepadamu minah!
Twitter : @renaldyyyyy_
Sungguh menyedihkan puisi Essay ini. Aminah rela menjadi TKW di Arab Saudi untuk bisa menghidupi anak dan suaminya. Tapi ketika dia sudah tiba dan kerja di Arab Saudi , dia harus menanggung apa yang telah dia perbuat . Dia membunuh majikan Laki-lakinya dgn pisau hanya untuk membela kehormatan dirinya sendiri . Atas nama allah dia rela mati dipancung walaupun kesalahan itu tidak dia niatkan sama sekali.
Aminah semoga engkau tenang di sisi allah yang maha kuasa. Allah tidak buta. Allah melihat semua apa yang mereka perbuat. Jangan diragukan lagi, mereka semua akan menanggung apa yang telah mereka perbuat kepadamu minah!
menangis aku membacanya..sungguh tragis nasib tki yg tdk beruntung,puisi yg memberi pelajaran pentingnya sebuah kesetiaan baik itu trhadap rumah tangga maupun keyakinan iman.jalan hidup memang tdk prnh buntu di saat menghadap maut sekalipun doa adalah kputusan yg tepat.semoga pihak2 yg berwenang lbih memprhatikan nasib para tki.
Seharusnya islam itu universal, tetapi keuniversalannya disalah artikan sebagai hikuman. Nyawa dibayar nyawa jika orang itu benar-benar bersalah dan ada bukti-bukti kuat. Tetapi jikia itu memang niatnya untuk melindungi diri seharusnya dengan kekuatan islam dan pikiran islam sesorang dapat membedakan mana yang benar dan yang salah.
Hanya orang-orang bodoh yang menganggap melindungi diri adalah kesalahan yang fatal jika diperlakukan seperti binatang dan tidak semestinya!!!
Assalamualikum wr.wb
Mungkin Aminah kurang beruntung di Arab Saudi. Tapi sesungguhnya Allah SWT telah mengatur hidup hambanya dengan seadil-adilnya. Ia adalah seorang Ibu & Istri yg sangat mulia. Mempertaruhkan Hidupnya demi keluarga. Cuma Allah tempat ia mengadu, dan hanya Al-Qur’an pedoman hidupnya.
Inilah seorang wanita muslimah yang dicari para kaum Adam !
Wassalamualaikum wr.wb
Nama: Ray Prayudha Afandy
No.HP: 083868271496
puisi ini mengharukan karna butuh pengorbanan seorang istri yg ingin membahagiakan keluarganya dengan hidup bersusah payah menjadi tulang punggung keluarga sehingga mengakibatkan dirinya terjerat dalam kesalahan yg tak seharusnya dia tanggungkan, begitu bangga saya pada aminah yg tlah berani membela kehormatan dirinya hingga sampai merenggut nyawanya… saya harap setelah ini tidak ada lagi tki yang tersiksa serta merana di negara lain,untuk itu marilah pemerintah indonesia membangun jiwa yang penuh rasa perhatian terhadap warganya.
yaallah nyentuh banget itu ceritanya . jadi nangis sendiri ngeliat perjuangan para TKI/TKW di Indonesia yang berjuang untuk kehidupan anak dan keluarganya . perlu diperhatikan orang-orang seperti itu . agar tidak terjadi lagi kejadian yang sama . sumpah speechless udah enggak bisa ngomong lagi . :’(
bagus banget puisinya, tapi pemerintah indonesia selallu tidak bisa membantu rakyat yang sedang kekusahan, selalu rakyat yang lemah tak berarti,,:(\
bagus banget puisi esainya,,
nyentuh banget,,
sampai-sampai pas baca puisinya gag bisa nahan air mata..
sungguh besar pengorbanan seorang ibu aminah,,
niat bekerja sampai ke negri arab untuk menghidupi anak , suami, dan kedua orang tuanya..mulia sekali hatinya
niatnya begitu sederhana, minah ingin melihat kondisi keluarga semakin membaik dan melihat anak perempuan semata wayangnya bisa betsekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak,
namun Tuhan berkehendak lain, niat baiknya untuk keluarga berujung dengan kepahitan…
Dinegri tempat orang beribadah suci itu ia bertemu dengan majikan yang buruk aklaknya,, pelecehan seksual dan kekerasan yang sering ia dapatkan,,
sebagai TKW, pahlawan peningkat devisa negara,aminah tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya ia apatkan ari pemerintah. seringkali kita dengar berbagai cerita tragis dari seorang TKW, namun pemerintah masih belum menagani masalah ini dengan tegas, bukankah mereka warganegara yang juga mempunyai hak untuk dilindungi oleh pemerintah dan negara?
TKW, jasanya begitu besar bagi negara, namun apa perhatian dari negara untuk mereka?,, tidak ada jaminan yang tegas untuk melindungi mereka di negri orang,,
begitu banyak warga asing bekerja di indonesia, dan memiliki posisi yang bagus, tapi mengapa warga sendiri malah di kerjakan di negara orang hanya untuk menjadi pembantu rumah tangga, yang kerap menjadi korban penyiksaan majikanya,,
kemana saja pemerintah kita saat terjadi kasus seperti ibu aminah ini,,sehingga semakin banyak kejadian yang terjadi pada ibu aminah terulang lebih banyak lagi pada TKW lainya??
apa upanya yang sudah di lakukan pemerintah untuk menjamin hah-hak para TKW,,,,,??
Nama: restiani
Alamat: Jl. H. Sanusi Taming, No 103 Rt 001 Rw 02, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Kode Pos: 11510
HP: 087826737673
Twitter: @resthyan
FB : rezzthyan resthyani
Suatu kisah yang mengharukkan yang patut dijadikan pelajaran bagi negara ini agar kisah seperti ini takkan terulang kembali. Dan semoga arwah minah dimasukkan dalam surgaNya. amin
kasiannya ae..
Mengharu biru
berubah jadi kelabu
ketika ku baca puisi itu
benar-benar begitu menggetarkan hatiku.
Minah seorang perempuan perkasa yang berjasa karena penghasil devisa, salah satu dari sekian banyak TKW dari Indonesia yang berniat, yang berusaha, yang berjuang demi kehidupan keluarga dikampungnya agar menjadi lebih baik dan lebih layak seperti yang ia inginkan. Namun apadaya ia dapatkan majikan tak sebaik yang ia harapkan.
Niat Minah sederhana saja hanya mencari uang di negeri orang untuk dikirim ke kampung halaman, karena begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri. Tak dapat nikmat namun justru musibah yang datang. Ia dapatkan majikan yang sangat brutal, keji, kejam dan hina dari Tanah Suci, yang tak bosan menyiksaknya.
Pemerintah berwenang kita seharusnya lebih tegas, lugas, sigap dan tanggap dalam menyelesaikan setiap permasalahan TKI/TKW. Ibarat perumpamaan waktu saya SD dulu yang masih saya gunakan sampai sekarang yaitu “Sedia payung sebelum hujan” simpel berdampak besar.
Comment : serem kali cerita nya. Tapi salut liat aminah dia membela diri dan tanpa sengaja bunuh majikannya yg bejat. Mmm… Semoga aminah tenang d surga. Amin.
Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun
Semoga arwahnya Aminah tenang dan ttp tersenyum di surga Amiiin
Ini sangt perlu perhatian khuss yah dr Pemerintah kita, ngga ada salahnya toh para TKW adalah Pahlwan Devisa Bangsa…jgn cm hrp duitx tp beriknlh prlindungn,jaminlah keselamtnx seprt dia mnjamin bangsa,…
Klo bolh yah saran aq sih bangunlah Komunitas diantr mrk dimn setiap 2 mgg sekali ato 1bln sekali hrs kumpul adakn pertemuan jalin silatuhrahmi antr TKW,antr org2 kita yg menetap di LN setmpt biar lbh akrab,berkeluh kesah semua masalh dibcrkn sesegera mngk terselesaikn agar tdk ada lg kata2 TERLAMBAT…!!!
Peraturan ini sih hrs tegas dr Pemerintah kita sendiri kerja sm dgn Pemrinth Lokal setempt terutama bag. Arab yah,..sangt tragis,memilukan sekaligus menyayat hati,bg para pembcnya smg bermanfaat & jd pljrn berhrg tuk kedepnnya Insya Allah…
“JGN SAMPAI TERULANG LG”
ya allah sungguh mulia hati wanita itu, wanita itu merelakan nyawanya melayang demi kebahagiaan suami dan anaknya, namun pemerintah yang kejam tidak membantunya untuk lolos dari hukuman itu, sungguh biadab keluarga yang menjadi majikannya seharusnya mereka mengikhlaskan dan membebaskan (alm) aminah dari hukuman. Karena aminah tidak bersalah melainkan majikannya yang biadab.
klo pmrintah sungguh2 mmperhatikan masalah pnganggran dan mnyediakan lebih bnyak lpangan kerja tdak mngkin orng kta yg mau jadi TKW di luar ngeri..
Comment
1 kata buat puisi ini “amaziiing” .puisi ini serasa menampar sya karna slama ini mmndang rendah pekerjaan TKI/TKW .trnyata perjuangan mreka tak semudah para wakil rakyat mengobral janji dinegri ini
sungguh menginspirasi bagi pembacanya, indah bgt puisinya.
gaya bahasa nya mudah dipahami, jadi bagi kaum awam sastra yg sedang membaca puisi ini pasti akan mudah mengerti kan apa dan tujuan dari puisi ini di tulis dan disampekan kepada pembacanya.
i like it.. bagus bagus, saya juga cinta karya sastra lho pak, saya mengoleksi cerpen dan puisi serta pantun karya ku sendiri. tapi masih banyak kelemahan dalam penataan kata2 nya, mudah2an anda berkenan membantu saya dalam penataan bahasa yg bagus dan mudah dipahami.
Kejadian itu ga bkal ada habisnya di negri kita ini, kalau masih banyaknya pengangguran dan lemahnya hukum di negri ini.
Dan banyaknya orang kampung atau desa yang ketinggalan jaman, ga tau apa-apa.
Membaca puisi esai ttg minah ini mengingatkan kita pd tkw yg berhasil dipulangkan ke Indonesia dgn selamat dan mendapatkan sumbangan dr pemirsa televisi yg menyaksikannya walaupun berbeda cerita. Memang hukum di negara lain itu lebih tegas dan dipatuhi.. Berbeda dgn hukum di negara kita yg lemah dan terkadang jalan di tempat. Banyak kasus yg tdk terselesaikan walaupun ada jg beberapa kasus yg selesai, dan kebanyakan dr kasus” itu bahkan terlupakan atau lebih tepatnya di peti es kan.
smga engkau diterima disisinya dan simajikan dpt karmanya. ini jd pelajaran bagi yg mau jd tkw agar tdk trjd sprt ini.
hukum dan budaya negara tujuan harus diajarkan kepada calon TKI.. sedikit pendapat (klo bukan solusi) dari manusia awam..
wow, tulisannya bagus, mengharukan sekali ceritanya. akankah kejadian seperti ini tersudahi?
puisi esai ini penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita
puisi esai adalah puisi pintar. dengan berbagai data, fakta, argumentasi, bisa memberikan kepintaran bagi pembacanya.
Boleh dikata, semua sajak (buku) ini mengandung tema perlawanan yang beragam.
”Denny JA (DennyJanuar Ali) yang sudah menawarkan suatu cara penulisan baru
saya ingin sprti Om Denny
“Berkaryalah terus buat anak bangsa,semoga anak bangsa lainya bisa mencontoh dari anda
” Terima kasih buat Om Denny Januar Ali ” yang bisa menginspirasi semua orang,dengan puisi esai ini hidup kita akan lebih bermakna, semoga Denny JA mendapatkan penghargaan lagi,yg terbukti dengan masuk 11 rekor MURI (Museum Rekor Indonesia)
kebodohan orang indonesia adalah mereka harus menjadi babu di luar negeri sementara orang asing masuk ke indonesia menjadi majikan.
Sudah begini koq masih ada orang jdi tkw?
Kesalahan besar bukan dari negara-negara penerima TKI, tetapi kesalahan besar terletak pada negeri ini….., kita semua….. .
1. Dengan pengiriman TKI, martabat negara dan bangsa ini akan rendah di mata negara-negara penerima TKI.
2. Dengan pengiriman TKI, bukti bahwa pemerintah tidak bisa memberikan lapangan kerja bagi bangsa sendiri.
3. Dengan pengiriman TKI, menunjukkan pemerintah tidak berpikir panjang dalam menyelesaikan kemiskinan bangsanya.
4. Dengan pengiriman TKI, katanya mendatangkan devisa negara, ITU SALAH BESAR. Martabat bangsa itulah kekayaan sebenar-benarnya,
5. Stop pengiriman TKI.
wowwww, hampir nangis baca puisi yang dahsyat ini, memang…. TKW adalah Pahlawan nusantara ke abad 21 ini, karena mereka adalah pahlawan devisa
mengharu-biru perjuangan para pahlawan devisa negara di rantau orang…
kelemahan birokrasi yang memang Bobrok…
sebuah puisi yang bisa mewakili rintihan hati setiap Tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang tdk mendapatkan keadilan dan pembelaan bahkan oleh negaranya sendiri…
di khianati ooleh tanah airnya…
Bulu kudukku merinding membaca crita dlam puisi ini, begitu gigihnya tekad seorg ibu rumah tangga buat mrubah nasib kluarga menjdi lebih baik .
Aisah bangga punya ibu sprti itu dan suaminya pun harus bangga dgn memiliki istri yg skuat itu tak t’perngaruh buat ambil uang haram
Mengapa hal ini selalu terjadi?? Beramai-ramai masyarakat Indonesia memilih menjadi TKW karena tergiur janji-janji manis tanpa memikirkan dampak-dampak negatif, padahal sudah tahu sebelum-sebelumnya sudah pernah terjadi. pola pikir yang kurang diakibatkan minimnya pendidikan dan pengetahuan yang cukup. Pemerintah juga kerap kali hanya memikirkan keuntungan negara saja, tidak menyediakan lapangan kerja yang layak di negeri sendiri bagi para TKW. Membahagiakan keluarga dan memiliki hidup layak memang cita-cita semua orang. Puisi esai tersebut sudah menggambarkan betapa parahnya birokrasi di negeri ini, para petinggi sibuk memperkaya diri sendiri sementara para TKW berjuang mengais rejeki demi sesuap nasi di luar negeri tanpa perlindungan hukum yang pasti. Datang hidup-hidup penuh tekad dan semngat, pulang mati sia-sia tak bernyawa para petinggi berpaling muka.
Membaca puisi esai diatas, kita kembali diingatkan bahwa negeri ini masih begitu lemah dalam bernegosiasi dan memperjuangkan hak para penyumbang devisanya yg tersebar di beberapa negera. Kita seakan menjadi pihak paling lemah dan “harus” mengalah karena kita “hanya” sebagai penyetor tenaga kerja sektor informal yang kebanyakan sebagai (maaf) pembantu rumah tangga. Ironis, padahal mereka berjuang tdk hanya untuk keluarganya, tapi jg menyumbang utk.pemasukan negara. Mas Denny pintar meenghadirkan dan memilih kata-kata dalam puisi esai ini. Sederhana, lugas tidak seperti kata-kata pada puisi pada umumnya yang diksinya seringkali agak sulit dimengerti utk orang awam sastra. Cara bercerita dengan puisi ini memudahkan orang memahami contentnya tanpa harus mengerutkan kening. Dan jujur mas, ini puisi esai pertama kali yang saya tau dan saya baca. Dan emosi saya muncul ketika membacanya. Terharu..
Sukses terus mas Denny dengan karya-karyanya..its so great!
Mati dipancung karena membela kehormatan diri lebih mulia dari pada mati biasa ..
Percayalah , Tuhan itu maha adil
innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Ya Allah Yang Maha Pengampun
Ampunilah Kami dan Para TKW
Yang telah mendahului kami
Semoga Allah melapangkan dan merahmati Kami yang masih hidup dan para TKW/TKI yang telah mendahului kam..Amiin
Memang kesulitan ekonomi
Memicu para ibu rumah tangga sebagian besar
Yang tidak tahan dengan kemiskinan
Mengharapkan perubahan ekonomi dengan menjadi TKW
Memang sangat mulia pikiran para ibu rumah tangga tersebut
Seperti Aminah ingin mengubah ekonomi keluarganya
Hanya Allah tempat memohon
Agar meluruskan hati para pemimpin kita, orang-orang kaya disekitar kita
Bagi pemerintah agar lebih memperbaiki tatanan hukum untuk jadi TKW agar TKW aman dan selamat di negara tujuan
Atau Pemerintah memberikan subsidi khusus bagi tiap keluarga yang ekonominya sangat lemah misalnya digaji tiap bulan
seperti negara-negara maju
Bagi orang-orang kaya agar lebih intensif mengeluarkan infak dan sedekahnya kepada masyarakat miskin, janda dan yatim sehingga lebih bisa membantu ekonomi mereka.
Salut untuk mas deny semoga puisinya selalu kongkret, syarat makna. Mungkin lain waktu puisinya bisa berupa pengalaman yang berisi solusi atau pencerahan masalah. ok mas deny. Terus berkarya dengan ikhlas Lillahi Ta’ala. Allahu akbar
Sebenarnya pemerintahan kita yang kurang perhatian kepada TKW , negara cuma mengharapkan penghasilan yg dhsilkan TKW nya saja, padhal sudah dapat kita lihat korban2 yang sudah ada tapi knapa masih ada yg dkrim untk jadi TKW.
Pemerintah byk janji, seperti kita lihat kasus aminah kita harus dapat melihat pembelaan diri warga negara kita jangan lgsung mengikuti hukum yg ada d negara tempat dia brkerja.
Jika cuma seperti itu saja pembelaan negara buat TKW kita mending buat yang brniat jadi TKW urungkan saja niat anda dari pada menghantar nyawa saja ksna.
Dan buat pemerintah yg emang msi menjalankan tenaga kerja mending d latih mereka agar dapat memahami bahasa dmana mereka akan dpekerjakan.
Jangan keuntungan dari mereka aja yang kalian raih tapi kselamatan mereka harus dijaga dong.
Saya riche afrina akan selalu mendoakan para almarhum TKW agar d maafkan smua dosanya selama hdupnya:’(
sungguh mulia bgi pahlawan devisa negara qt..
buat saya cukup satu kata : tolong hargai mereka yang telah menjadi pahlawan devisa bagi negara,terutama bagi keluarga yang ditinggalkan.kalau boleh usul buat depdiknas,para TKI yang menjadi korban,masukkan mereka dalam pelajaran sejarah supaya anak cucu kita kelak tidak menjadi korban selanjutnya,serta menghargai pengorbanan mereka
Melihat nasib TKW bekerja di luar negri mestinya pemerintah dengan cepat mengambil tindakan karena ini sungguh memperihantinkan puisi ini sangat bagus bisa merefleksikan hati si minah yg sedih dan menderita*i like it *
Kenapa harus Arab Saudi negara yg bnyak trjadi penyiksaan bagi para TKW??bukankah itu negara islam sama halnya dg Indonesia?.
Lalu kenapa tidak ada peraturan negara yg bisa sedikit meringankan beban TKW..kenapa tidak ada keadilan HAM disana?
Tulisan yang menggelisahkan dan nyata! Trenyuh bacanya
Sedih baca puisi ini ,
ini fenomena yang berkembang di tengah TKI KITA disaat mereka membutuhkan keadilan mereka malah disalahkan
Suka sekali dengan kata- kata di akhir puisi bagian ini :
Aminah, betapa bangga aku padamu:
Kau berjuang untuk keluarga
Membela kehormatan diri.
Guru ngaji di pesantren
Tak akan menyalahkanmu.
Meski besok dipancung
Kau tetap hidup di hatiku
Dan di hati Aisah, anak kita itu.
Menyentuh.. Dalaaaaam sekali maknanya…
Semoga cukup Aminah TKW yang seperti itu.. dan ke depannya tidak ada lagi.. aaamiiiinnn…
“SAYA SUKA PUISI- PUISINYA” …:)
Dan semoga kejadian tersebut gak bakalan terjadi lagi! Cukuplah sudah buat ibu MiNAH yg luar biasa … Buat penulis puisi ini #DiBikinDong persi arabnya supaya majikan majikan laknat yg brada di arab saudi menyempatkan membaca puisi ini! Dan tergetar hatinya! Semoga almarhum ibu Muda (MINAH) di terimah di sisi Allah swt. Dan keluarga yg di tinggalkan /di cirebon di beri kesabaran AMIN *AllahuAkbar* allah maha besar
)
Puisi di atas sangat menggetarkan hati aku, teringat setahun yang lalu semenjak aku merantau di karenakan ga punya uang untuk biaya kuliah Dan aku pun pernah menangis pas sampai di perantauan apa bila teringat wajah almarhum ayah dan kakak ku yang masih berada di sulsel pokoknya puisi di atas 13 jempol sangat menyentuh hati sang pembaca ibu muda Jauh-jauh dari cirebon ke negara arab demi cita-cita seorang anak dan kebutuhan keluarga
#ParahMajikanDiManaPunBerada plis! Hormati parah TKW kami.
sedih baca puisi ini,,, berniat mencari rizqi yg halal tp malah petaka yg Ia dapat
perjuangan meraih hidup di tempuh minah ,,, sekalipum bertaruh nyawa di negeri orangg,,, patut di contoh oleh smua orang yg membca iniii
smph sarem amettt…

ngerii…
tragis…
Astagfirullahalazim .
ntuch majikan apa ibliss yach?? ngga bgt dech…
>.<
Sedih bercampur iba akan hal ini,rasa keadilan tidak sepenuhnya di tegakan bagi para pahlawan devisa ini.Sudah sepatutnya pemerintah menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya sehingga kita tidak perlu berangkat ke luar negri untuk mencari rezeki.
Bagus banget, perjuangannya sungguh luar biasa
Ampun ya Allah, Ampun,
Aku hanya membela diri
Tak ada niatku membunuh
Bantu aku ya Allah.
Hukuman yang sangat kejam menurut saya, karena apalah susahnya memaafkan, bila seseorang ikhlas apalah artinya sebuah dendam. Dendam sangat disukai oleh syetan yang terkutuk
Alhamdulillah , puisi ini betul-betul memberikan pelajaran untuk kita , memberikan informasi bahwa TKW tidak slamanya bisa pulang kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarganya.
Sungguh bejat majikan pria itu *laknat*
Sungguh menyesakkan dada membaca ini :’(
Sungguh bergetar hati sya membaca puisi ini ,perlahan demi perlahan sya baca dan seolah terbawa dalam kisah yang tak ingin kujalani .
Sungguh tak berdaya hati dan mata ini menerjemahkan dan menerawang betapa tragisnya perjalanan para TKW .Tak upaya itu sebuah takdir dari Allah SWT ,takdir yang tak sepatutnya digariskan untuk pahlawan devisa .Sungguh minim dan tipis setipis kapas perlindungan bagi para TKI yang tersiksa ,meski mata memandangnya .
Ya Allah ,selamatkan dan lindungilah mereka para TKI diluar sana .amin
waw. gak tau bilang apa. semuanya nyatu. keren bgt.
rumput tetangga terkadang memang terlihat lebih indah, tapi bukan berarti lebih segar,, menjadi TKI/TKW memang terlihat menjanjikan bagi yang beruntung tapi mengenaskan bagi merka yang sial.
mata adalah hal yang paling bahaya setelah mulut.
segala sesuatu itu bisa menjadi berbeda tergantung situasi dan kondisi.baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain, berbuat baik, bukan berarti imbalan yang kau dapatkan akan baik pula, terkadang harus dengan kejahatan agar kau bisa melihat bahwa begitu berharganya baik itu.
menjadi TKW, itu berarti kau harus siap engan segala konsekuensinya. termasuk ketika kau melakukan kesalahan tapi tak ada yang membantu, yang mereka lakukan hanyalah diam memberikan seribu janji yang taktahu apakah salah satu diantara janji tersebut bisa di tepati ataukah tidak.
Sedihh bgt .. Knp seorang ibu yg ingin menyekolahkan anaknya , menghidupi n menafkahi keluarganya malah di pacung .. Tp mungkin ituu smw takdir dari اَللّهُ .. Semoga minah bs masuk surga, dan termasuk mati syahid karena dy pahlawan devisa .. Dan dia tdk bersalah .. Dalam agama membela diri di perbolehkan .. Semoga saja akan ada keadilan bagi para TKW yg tdk bersalah .. Hrs ada kerja sama yg baik antara negri kita dan negri yg jd tmpt TKW
bagus banget sihh critanya
luar biasaaa… perjuanan hidup yg perlu di contoh.. rela mengorbankan nyawa.tenaga dan jiwa serta mental.untuk mncari sesuap nasi..di kala bnyak siksaan dan cobaan yg harus si hadapi.. sungguh puisi yg sangat mnggugah hati.. sngat baik di contoh oleh smua kalangan
Uang satu real mgkn tidak ada apa apanya buat sang majikan, tapi uang satu real sangat berharga buat Minah, bahkan dia harus membayar dengan kehormatan, harga diri bahkan nyawanya sendiri
puisi tentang penderitaan yang ini saya bisa masuk ke dalam cerita tersebut . Terharu, sediih banget tentang penderitaan tentang seorang ibu yang menjadi pahlawan untuk keluarganya dalam mencari nafkah di Luar negeri. Tapi tetap mengingat kepada Allah swt.. Subhanallah ! SALUT!
setelah membaca puisi tentang “MINAH TETEP DIPANCUNG” diatas,hati saya pun juga ikut merasakan kesedihan ,btapa malangnya nasib MINAH , maksud dgn tujuan baik mnjadi tkw di arab demi mensejahterakan dan membahagiakan keluarganya,ttapi sang majikan malah mencampakan dia dgn tidak hormat.saya hanya bisa berdoa ,semoga almrhmh MINAH di terima dengan layak di sisi allah swt,dan keluarga yg di tinggalkan di beri kesabaran dan ketabahan. dan semoga tidak ada lagi tkw yg serupa nasibnya dgn MINAH.hikmah yang saya petik diatas,saya jadi sangat sayang dan akan tetap menjaga orang tua saya sampai akhir hayat saya terutama ibu krn tetesan keringatnya saya bisa melihat indahnya dunia sampai detik ini.
Semoga perjuangan Minah utk menghidupi keluarga dan pengorbanannya termasuk mengorbankan nyawanya, mendapat ganjaran surga kelak, karna Allah menyukai hamba2Nya yang bersusah-susah mencari nafkah di JalanNya… Aminnn
miris. . . kerja di rantauan tapi malang tak dapat ditolak. .
jadi ingat awal2 di kota budaya ni. . Tapi untungnya, tidak mendapat perlakuan demikian. . . semoga isa menjadi pelajaran ke depannya.
Sungguh puisi yang luar biasa, terhanyut saya saat membacanya…
Semoga saja puisi ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi calon TKW supaya berpikir panjang sebelum memutuskan menjadi TKW.
Harta tidak setimpal dibandingkan dengan kehormatan bahkan nyawa.
Abaikan sebutan “PAHLAWAN DEVISA jika Perlindungan Hukum tidak jelas.
kisah di balik pahlawan devisa kita. mungkin di luar sana banyak TKI yang merasa senasib dengan tokoh Minah. namun perlindungan dari perwakilan Indonesia di negara tujuan mungkin belumlah merata. jadi baiknya pemerintah mulai introspeksi, memperbaiki, dan melindungi setiap warga negaranya dimanapun mereka berada.
Menyentuh hati.mseharusnya pemerintah melihat ini..
Ini memang cerita yang terus berulang yang menimpa TKI/TKW dan kejadian seperti ini tidak hanya di Arab Saudi saja tapi juga di negara2 tujuan kerja TKI/TKW kita.
Seharusnya negara melindungi warga negaranya dimanapun mereka berada. Tampak sekali kalau pemerintah kita tidak terlalu menghargai jerih payah para TKI/TKW karena perlindungan terhadap mereka sedikit sekali. Padahal hasil devisa dari TKI/TKW sangatlah besar. Tak heran kalau ada perbankan nasional yang mempunyai cabang luar negeri dimana negara tersebut merupakan tujuan para TKI/TKW karena memang nilai transaksi yang besar. Tidak hanya perbankan , para operator telekomunikasi juga berebut pasar tersebut dengan kemudahan roaming dsbnya.
Jadi para TKI/TKW jangan dianggap sebagai sapi perahan manakala devisa terus mengalir dan memicu perkembangan ekonomi masyarakat scr tdk langsung, tapi begitu ada masalah, berbagai pihak yang harusnya bertanggungjawab saling lempar tanggungjawab.
.pengen nangis bacanya (⌣́_⌣̀”) inikah negara kita, yg secepat kilat melahap duit,tapi seperti siput kala ada masalah
.Btw aqu merinding ih, ada hantu bisa nulis curhatan melalui puisi,hihi, tapi emang bener, ibarat kita sakit dan mengharapkan obat dari negara,keburu mati kita baru dikasih obat, kuharap ada lah tanggapan positif atau langkah perubahan yg dilakukan pemerintah atas tulisan2 om deni, jangan hanya menimbulkan polemik atas efek mulut2 deterjen yg suka seenaknya bicara, tapi pahami lah maknanya, resapi ceritanya, hai, inilah negeri indonesia.
Kamu tau minah, betapa sakitnya aku saat membaca puisi esai ini,,betapa terenyuhnya perasaanku saat aku masuk ke dalam cerita ini…
Aku membayangkan jika ibuku sprti ini,,apa yg aku lakukan saat ibuku tersiksa sprti itu,,,oh tuhan,,,aku hny bs berdoa ” tuhan, tolong jaga ibuku dr orang2 jahat, tuhan beri beliau kesehatan, tuhan selamatkan jiwanya dr orang2 kafir”
Jujur bacanya sampe netesin air mata, hari ini 11 april 2012 jam 02.48 wib aku membacanya…
Oh my god , it’s the real story,,,
Hanya minta tolong pada pemerintahan, tolong diperkuat perlindungan untuk para TKI(TKW) ,,, jangan nyawa mereka jadi taruhannya hanya untuk hasil dr devisa mereka,,,
“Pahlawan Devisa” hanya jadi gelar saja buat mereka tanpa ada perlindungan hukum yg kuat itu percuma…
Jangan sampai ada minah-minah yang lain lagi…
cerita ini betul adanya,ini kisah nyata, seorang pahlawan devisa yang menyumbangkan banyak jasa antuk negara, berkaca dari cerita ini, seharusnya pemrintah RI harus bisa mengatasi kejadian seperti yg dialami minah ini, berikan keamanan yg super bagi tki tki indonesia apalagi seorang perempuan yg niatnya ingin mengangkat tinggi drajat keluarganya dgn cara mencari rezeki pergi ke negri tempat orang berhaji, menurut saya minah itu bisa dibilang “Kartini diera TKI” seharusnya pemerinth indonesia itu memberi lapangan kerja untuk warganya,tp apa daya mungkin hanya derita inilah yg harus dialami seorang kartini gagah dgn sebutan “Minah”…– maju terus kartini indonesia
Ya Tuhan beginikah nasib seorang pahlawan devisa? Cerita ini memang menggambrkan btapa tragisnya nasib mereka di negri orang tanpa payung hukum yang memadai apalagi blum ada kesepakatan oleh kedua negara bersangktan. Ini sudah bisa dikatakan taruhan nyawa untk jadi TKW di negara timteng hanya kepingan real agar bisa mengubh hdup untk lbh layak. Kenapa negara kita yang besar dan kaya SDA harus mengrim TKW ke LN? Ini memang tragis bgsa sebsar ini dan sekaya ini kurang dapat memenuhi kesejahteraan rakyatnya trags memang bagsa indonesia memperoleh devisa terbnyak disumbngkan dari jasa TKI/TKW tapi mash bnyak pejabt negara yang korupsi dari uang negara. Mungkin benar pengiriman jasa TKI/TKW menjadi ladang industri yang menjanjikan. Seharus pemerintah jga harus siap untk melindungi secra hukum dan mengadakan MOU dg negra bersangktan agr para TKI/TKW lbh save dinegara orang.
Subhanallah,, demi suami dan anaknya bu aminah rela jd TKW..
Hidup d negri org gk slamanya membawa kebaikan,, sebaik-baiknya pekerjaan d negri sendiri
minah wanita hebat, menanggung beban bathin, fisik sendirian, subhanallah..
Membela diri dr majikan pria yg bejat sangatlah tepat krn kita wajib menjaga harga diri kita !
@Bungauswah
wah jadi terharu nih,puisi ya dalem banget.ketika aku baca satu persatu kata di puisi ini,aku terbawa dengan ceritanya,aku marah,sedih dan sekaligus bangga akan sosok minah si perempuan yang menjunjung tinggi kehormatanya sampai mati,sungguh mulia.
minah yang malang terus mengingat tuhan hingga akhir hayatnya,berjuang demi anak dan untuk membantu sang suami,berjuang untuk memperbaiki ekonomi keluarganya,namun ketidak adilan yang dia dapatkan.minah,semoga di beri kedamaian oleh sang kuasa.
suatu perbuatan pasti ada akibat dan sebabnya, tidak semua tindakan dilakukan salah hanya karena membela diri…
Pas baca saya berasa masuk ke dalam cerita yg dialami Minah, memang di saat seperti itu ga bisa ngelakuin apa2 keciali berdoa. We know that our goverment have been do the best, but Saudi Arabia goverment stay on their decision. Di sana memang menganut hukum Islam di mana kasus pembunuhan hukumannya kalo gak penjara seumur hidup ya hukuman mati. Tp kasus Minah ini ada alasan kenapa si Minah membunuh, krn Minah jd korban pemerkosaan. But, we couldn’t do anything, Minah udah tenang di sana, dia meninggal utk mempertahankan kehormatannya. God knows what the best plan for us.
Perempuan luar biasa dalam menjalani Perjuangan hidup yang tidak mudah, untung iman dan taqwa tetap di dada sehingga selalu ingat dan bermunajah kepadaNya
cerita yang sangat mengharukan, nyawa taruhan demi keluarga, namun apa daya. hukum memang tidak selalu adil, hanya hukum Allah yang pasti adil. Hanya Allah yang akan membalas itu semua.
perjuangan mencari nafkah yg luar biasa
Cerita yang sangat menyayat hati
Mencari rejeki di negeri orang walaupun nyawa taruhannya
Dengan puisi yang sangat menunjukkan ketaqwaan
Hutang duit dikembalikan dengan uang, Hutang nyawa .. ! apakah harus di balas dg Jiwa.
waw, suka bgt sama puisinya
Puisi yang bagus. Mampu menceritakan secara gamblang, sebuah tragedi pemancungan. Seolah-olah sang Penulis yang mengalaminya. Bahasa puisi mudah dimengerti dan dipahami, walaupun pembaca adalah orang yang awam terhadap puisi. Kalau saya boleh mengatakan, puisi ini semacam surat dari alam gaib. Bravo untuk sang Penulis.
Puisi esai yang mengaduk-aduk perasaan. Miris : apakah harus ada Minah untuk Indonesia. Penyumbang devisa negara terbesar namun tak mendapat perlindungan dari negara. Kasihan sekali Minah.
Seharusnya tidak perlu ada orang-orang bernasib seperti Minah. Seharusnya orang desa juga harus pintar. Seharusnya orang-orang seperti Minah bisa dikelola dengan baik oleh negara. Apakah begitu sulit mencari rizki di negara sendiri yang kaya raya ini? Tapi itu semua hanya seharusnya.
Kenyataannya tidak begitu. Ada banyak orang-orang seperti Minah. Merasa putus asa menggantungkan harapan di tanah air sendiri. Hingga harus mengorbankan diri merantau ke negara lain hanya untuk dollar, kemudian menyetorkan uang pada negara. Alih-alih uang yang di dapat, kehormatan dan nyawa melayang.
Bapak Denny AJ benar-benar telah menuturkannya dengan jelas melalui puisi esai ini. Seperti itulah nasib pahlawan devisa. Kasihan sekali Minah.
Jujur, rasanya aku tak bisa membendung air mata ini. Amazziiiiiiing! Begitu tersayat hatiku. Begitu terenyuh sanubariku. Teriris-iris hati ini.
Kata-katanya sederhana, namun penuh makna dan dalam banget.
Satu kata, Amazing!