Isu Diskriminasi dalam Puisi Esai
“Kita di Indonesia, tidak di Amerika. Di sini agama di atas segala Tak terkecuali cinta remaja.”
“Ayo Yuli, sihir hatimu. Katakan cinta kalahkan segala.”
Itu dua cuplikan puisi esai “Romi dan Yuli dari Cikeusik.” Romi anak pengurus Ahmadiyah, paham yang dianggap sebagian ulama menyimpang dari ajaran Islam. Sementara Yuli anak pengurus organisasi Islam yang dianggap garis keras, anti-Ahmadiyah. Dua sejoli ini saling jatuh cinta terlepas dari perbedaan paham agama keluarga mereka.
Yuli mulai ragu. Ayah dan Ibu mengatakan Kedudukan agama di atas cinta remaja. Tapi cintanya pada Romi begitu tinggi. Ia juga menyadari Romi tidak pernah meminta menjadi anak pengurus Ahmadiyah. Ketika ia lahir, ayahnya sudah menjadi pengurus Ahmadiyah. Hal yang sama dengan Yuli. Ketika Yuli lahir, ayahnya juga sudah anti-Ahmadiyah. Yuli terombang-ambing antara cinta yang tulus di hatinya, dengan kenyataan sosial bahwa Ahmadiyah itu paham yang menjadi musuh ayahnya.
Kisah di puisi ini salah satu sisi lain dari Indonesia, yang jarang dibicarakan secara terbuka. Ia bagian dari isu besar diskriminasi yang masih hidup di permukaan ataupun di bawah sadar kolektif masyarakat Indonesia. Dalam lima puisi esai di buku ini, kisah diskriminasi itu diekspresikan dari kacamata korban.
Sebagai penulis, aktivis dan peneliti, sejak lama saya merenungkan cara agar aneka isu diskriminasi itu menarik perhatian publik. Jika kasus itu dituliskan dalam paper akademis, kolom, atau esai biasa, sulit sekali menggambarkan kepekatan emosi dan suasana interior psikologi korban diskriminasi. Jika kisah itu dituliskan dalam puisi biasa atau prosa liris biasa, sulit juga menyajikan data dari isu yang faktual, yang minimal harus muncul di catatan kaki.
Saya bukan penyair dan tidak berpretensi menjadi penyair. Tapi memang kisah ini lebih memadai disajikan dalam medium baru, yang saya sebut “Puisi Esai.1”
Fiksi dan Fakta
Masalah diskriminasi di Indonesia masih hidup, kadang terselubung dan terus dipertentangkan banyak pihak. Saya ingin memotret kisah itu dalam karangan yang dimaksudkan bisa menyentuh hati. Sekaligus juga karangan itu diikhtiarkan memberi info memadai soal konteks sosial isu diskriminasi.
Karangan itu ditulis dalam bentuk puisi kisah cinta, namun dipenuhi catatan kaki tentang fakta. Ini sebuah eksperimen yang menjembatani fiksi dan fakta. Detail kisahnya fiksi. Tapi kenyataan sosial dari isu itu fakta.
Di samping kesamaan tematik isu diskriminasi, lima puisi esai dalam buku ini juga punya kesamaan lain. Para korban dari isu itu selalu diperlihatkan berjuang. Tak penting apakah ia menang atau kalah. Insting berjuang tokoh utamanya ini bias karena perjalanan panjang saya selaku aktivis.
Namun saya sadari, dalam dunia sastra ikhtiar berjuang itu justru lebih menyentuh jika digambarkan secara halus. Dalam sastra, tokoh utama yang menjadi korban tidak harus selalu dalam posisi yang menang pula.Apalagi menang dan kalah dalam sebuah perjuangan tak pernah pasti. Nabi Isa bagi orang Islam, atau Jesus bagi orang Kristen, hidup duniawinya diyakini pengikutnya berakhir di salib. Pengikutnya dibasmi. Sekilas, jika dinilai di tahun awal Masehi, ia kalah.
Tapi kini, 2000 tahun kemudian, agama Kristen selaku pengikut Jesus justru paling besar. Lebih besar dibandingkan pengikut agama mana pun termasuk yang tidak beragama. Dilihat dari tahun masa kini, ia menang.
Dalam perjuangan menegakkan sebuah nilai, baik agama, ideologi, atau isu sosial, akhirnya yang penting bukan menang dan kalah. Yang utama dan yang memberi inspirasi adalah ikhtiar perlawanan, terutama bagi pihak yang menjadi korban. Tak peduli, sekecil apa pun ikhtiar perlawanan itu.
Spirit cinta, ikhtiar berjuang, dan diskriminasi menjadi perekat lima puisi esai di buku ini. Itu terekam secara implisit ataupun eksplisit, secara halus atau tersurat, baik dalam kasus diskriminasi terhadap kaum Tionghoa (“Sapu Tangan Fang Yin”), diskriminasi paham agama (“Romi dan Yuli dari Cikeusik”), diskriminasi terhadap gender (“Minah Tetap Dipancung”), diskriminasi terhadap homoseks (“Cinta Terlarang Batman dan Robin”), dan diskriminasi agama (“Bunga Kering Perpisahan”).
Di akhir lima puisi esai ini, tokoh utama bisa bernasib tragis dan kalah. Bisa juga tokoh utamanya disebut menang dan happy ending. Tapi semuanya, menang dan kalah dalam perjuangan nilai, selalu sementara. Yang penting inspirasi yang ingin ditularkannya.
Puisi Esai
Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “Puisi Esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan gagasan yang dimaksud.
Saya mencari medium dengan beberapa kriteria. Pertama, ia mengeksplor sisi batin, psikologi dan sisi human interest pelaku. Kedua, ia dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami. Ketiga, ia tak hanya memotret pengalaman batin individu tapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral. Keempat, ia diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial. Karangan ini ditargetkan berhasil jika ia tak hanya menggetarkan hati tapi juga membuat pembaca lebih paham sebuah isu sosial di dunia nyata.
Kebutuhan itu membuat saya melahirkan medium penulisan yang berbeda. Saya sebut medium baru ini “Puisi Esai”. Yaitu puisi yang bercita rasa esai. Atau esai tentang isu sosial yang puitik, yang disampaikan secara puitis. Ia bukan puisi yang lazim karena ada catatan kaki tentang data dan fakta di sana dan di sini, serta panjang dan berbabak. Ia juga bukan esai yang lazim karena dituliskan dengan larik, puitik dan lebih mengeksplor sisi batin.
Genre Baru?
Akankah puisi esai ini menjadi sebuah genre baru sastra Indonesia? Sebagai penulis saya seharusnya tidak terlalu dipusingkan soal itu. Tapi sebagai aktivis, saya senang sekali jika medium puisi esai semakin banyak digunakan untuk menyampaikan sisi batin individu dalam sebuah konflik atau problem sosial. Saya tentu bersemangat untuk ikut memfasilitasinya. Ketika buku ini sedang dirampungkan, beberapa penulis lain sedang riset untuk aneka isu sosial yang akan diekspresikan melalui puisi esai.
Sebuah genre baru di dunia seni atau paradigma baru di dunia pemikiran hanya ditentukan oleh satu hukum sosial saja. Yaitu apakah hal baru itu diterima oleh sebuah komunitas? Itu cukup dengan melihat banyaknya pengikut atau pengarang yang mengulangi medium atau ekspresi baru itu.
Sebuah genre pada dasarnya adalah konstruksi sosial. Ia tidak lahir hanya karena titah seorang otoritas sastra, tapi terutama karena diterima oleh publik.2
Genre atau paradigma tidak diukur dari kualitas internal karya itu atau kedalaman cara berpikir baru yang ditawarkan. Ia semata diukur oleh daya terima publik terhadap ekspresi baru itu. Ia ditentukan oleh popularitas ekspresi baru itu.3
Ketika pertama kali lahir musik Rock and Roll, elit musisi saat itu menganggapnya tumpukan bunyi bernilai sampah. Rock and Roll dituding menurunkan kualitas musik. Mereka membandingkan Rock and Roll dengan musik sebelumnya: musik klasik. Namun musik Rock and Roll terus tumbuh, didaur-ulang oleh musisi lain. Munculnya genre baru musik Rock and Roll tak bisa distop oleh para “nabi” dan kritikus musisi genre sebelumnya.
Di dunia seni, tak ada sejenis paus dalam agama Katolik yang punya otoritas menentukan ajaran mana yang benar dan salah. Tak ada tembok tinggi untuk memisahkan mana sastra yang benar atau yang salah. Atau memilah ini sastra tinggi dan ini sastra rendah.
Bisa saja satu otoritas sastra beropini soal itu dan mencoba memilahnya: ini sastra serius; itu sastra populer. Tapi segera ia akan mendapatkan opini berbeda dari otoritas sastra lain, atau oleh khalayak yang punya filosofi lain. Apa daya ini era yang tak lagi bisa dimonopoli oleh siapa pun. Superman sudah mati!
Seni sepenuhnya milik masyarakat, bukan hanya milik elit sastrawan. Apalagi di era revolusi komunikasi dengan Facebook, YouTube, dan Twitter. Opini berseliweran. Masyarakat luas akhirnya menjadi hakim penilai. Publik luas akan menentukan apakah puisi esai ini tumbuh menjadi genre baru, atau terkubur.
Setelah sebuah karya dipublikasikan, pengarangnya mati. Karya itu yang hidup. Sebuah genre baru hanya lahir jika medium puisi esai ini tumbuh secara organik, beranak-pinak melalui karya orang lain. Dunia sastra Indonesia segera hamil tua. Akan lahir sebuah genre baru: generasi penulis puisi esai.
Namun jika tak ada publikasi yang kuat lainnya dengan format serupa, puisi esai hanya berhenti sebagai ikhtiar di buku ini saja. Lalu ia terkubur. Atau sekadar menjadi catatan kaki seorang pengamat yang mencoba me-review aneka ikhtiar di dunia sastra.
Terima kasih
Ucapan terima kasih pertama saya ucapkan kepada rekan yang menjadi teman diskusi soal karangan ini: Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Eriyanto, Fatin Hamama dan Mohamad Sobary. Lima rekan tersebut banyak ikut mempengaruhi ruh karangan. Ikut juga merumuskan nama untuk gaya penulisan tak biasa ini. Akhirnya saya pilih nama puisi esai, setelah mengalami perubahan berkali-kali dari opini liris, esai liris, puisi opini, dan puisi naratif.
Sapardi Djoko Damono selaku senior selalu membuka tangan untuk membantu di berbagai tahapan karangan ini. Kegairahannya memberi masukan menambah kegairahan saya sendiri untuk terus menyempurnakan karangan dari segi bentuk dan isi.
Terima kasih juga kepada kawan-kawan di Ciputat School. Ini komunitas tempat saya mematangkan konsep generik puisi esai. Terima kasih terutama kepada Ahmad Gaus AF. Sejak ide pertama, Gaus menjadi kawan diskusi dan membantu riset yang dibutuhkan. Gaus menjadi orang pertama yang secara intens terlibat penuh dalam proses karangan ini.
Juga terima kasih kepada anggota Ciputat School lain: Zuhairi Misrawi, Ihsan Ali Fauzi, Jonminofri Nazir, Novriantoni Kahar, Elza Peldi Taher, Anick HT, Neng Dara, Jojo Rahardjo, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Buddy Munawar Rachman, dan Djohan Effendi. Mereka ikut memberi warna puisi esai.
Terima kasih kepada kawan tempat saya bekerja di Lingkaran Survei Indonesia dan Dua Rajawali Perkasa. Mereka –Eriyanto (saya sebut lagi), Sunarto, Budi, Barkah, Sopa, Luki, Troi, Firman dan kawan lain– banyak memberi masukan yang ikut membentuk format, plot dan isi puisi esai. Pandangan Eriyanto banyak mempengaruhi penulisan ulang puisi esai ini di masa awalnya.
Terima kasih juga kepada kawan di dunia sastra ataupun intelektual. Nirwan Dewanto, Radhar Panca Dahana, Adhie M Massardi, Effendi Gazali, J. Kristiadi, Indra J. Piliang, Eep Saefullah Fatah, Yunarto Widjaya, Amir Husein Daulay, Rocky Gerung, Yudi Latif, Hamid Basyaib, Johan Silalahi, Hamid Dipopramono, AE Priyono, Ifdhal Kasim, Baron Basuning, Tohir Effendi dan kawan lain yang tak bisa disebut satu per satu. Pujian dan kritikan mereka sepedas apa pun menjadi bumbu yang ikut mempersedap puisi esai ini.
Akhirnya, terima kasih kepada istri tersayang Mulia Jayaputri dan dua ananda tercinta, Rafi Denny dan Ramy Denny. Dengan caranya sendiri, mereka memberi komentar, ikut memberi ruh dan membiarkan saya menyendiri dalam proses perenungan hingga kadang dini hari. Saya meminta istri tercinta mengetik di komputer kalimat terakhir karangan ini. Kepada tiga permata, Love of My Life, buku puisi esai dipersembahkan.
Setelah selesai menulis titik terakhir karangan ini, saya semakin nyaman. Format puisi esai memang lebih bisa mengekspresikan jenis karangan saya, yang ingin merangkum kebutuhan fiksi dan fakta. Saya tak tahu, apakah impresi pribadi ini bisa digeneralisasi. Yang saya tahu, hidup memang memerlukan fakta. Hidup juga memerlukan fiksi. Puisi esai menampung keduanya.
Jakarta, Maret 2012
- Terima kasih kepada Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Eriyanto, Fatin Hamama, Mohamad Sobary dan kawan-kawan di Ciputat School, yang sejak awal ikut mencari label paling mewakili untuk nama generik karangan ini.
- Bawarshi, Anis. “The Ecology of Genre.” Ecocomposition: Theoretical and Pedagogical Approaches. Eds. Christian R. Weisser and Sydney I. Dobrin. Albany: SUNY Press, 2001
- Kuhn, Thomas S. The Structure of Scientific Revolutions, 3rd Ed. Chicago and London: Univ. of Chicago Press, 1996


Semangat Om Denny JA, tetap membangun motivasi yang dimiliki anak-anak bangsa yang memerlukan pengetahuan banyak mengenai puisi esai tersebut…
menarik, dan penuh kontroversi, misteri cinta ATAS semua jawaban TUHAN.
@Readme_kiez
Terima kasih, Pak Denny. Puisi esai Anda sangat indah. Sebelumnya saya tidak terlalu suka puisi karena saya sulit memahami dan menurut saya, puisi itu berat. Puisi Bapak sangat menginspirasi dan sukses selalu Pak! Tuhan memberkati:)
Menyimak dan mengamini tentang hidup. Ya benar, hidup memang membutuhkan fakta dan fiksi, tentunya dengan asupan yang pas.
Salam
Luar biasa Pak Denny JA.
semoga puisi-puisi ini bisa membuka pikiran kita.
saya juga mengagumi karya andaa,
saya seorang pelajar di kaltim, dan saya pencinta sastra dan seni tapi yg saya perhatikan di indonesia khusunya para seniman kurang btu di hargai malah yg mendapatkan tempat istimewah adlh para atlet. S dangkan kmi yg pelakon seni kurang mendapat perhatian dari pemerintah, khusunya dalam masalah dana
trims admin, itu hanya komntar saya saja.
sama kayak siswa yang akan masuk sekolah baru, banyak sikap sana-sini yang perlu dibenah sebagai biang adaptasi. Hal yang baru tidak pernah salah, hanya butuh BENAH karna kebaruannya itu, pun yang baru selalu memikat. Terima kasih untuk inovasi puisi yang bapak lakukan. God bless you…
DEar Bung Denny JA , sugguh saya cermati karya anda , saya mengagumi, ini terobosan baru dan maju di dunia satra, anda juga melangkah dengan yakin dan berani. SElamat sukses karya besar anda akan di ikuti banyak manusia di Indonesia sebagai gudang seniman, juga akan disambut manusia sejagat. Tank you….banget Bung Denny JA.
Wah,,wah,,,puisi essay musti dipelajari. Saya setuju dengan essay yang puitis…sangat menarik^^
Karya yang unik dan menarik. Saya baru tahu ada karya seindah dan seunik itu ketika ditunjukkan seorang teman yang mengajak saya menggarap film indie atas karya tulis Denny JA.
Dan dalam film itu saya seipkan puisi saya tentang cinta beda agama.
“Setangkai Bunga Dan Tuhan Yang Membisu”
Dewi cinta terluka
Kedua sayapnya patah oleh tafsir agama
Ayat-Ayat suci mengunci jerit suara hati
Hingga setangkai bunga kering dan mati
Sepasang kekasih dengan Tuhan yang berbeda
Menjalin kasih dihempas badai prahara
Firman Tuhan menjelma ombak samudra
Bergolak menenggelamkan bahtera asmara
Tuhan membisu dengan mata terbuka
Melihat kaum hawa terikat patuh dan takut durhaka
Sambil menggumamkan doa-doa
Tuhan membisu dengan mata terbuka
Memperhatikan anak adam dipersimpangan jalan
Berlari…
Mendaki segala tanya ke belantara dan puncak hening
Hmm……
Ketika batu-batu itu tidak mencair
Kembalikan cinta kepada takdir
abdul R
Singkawang,28 Mei 2012
http://abdulrrr.blogspot.com/
http://www.youtube.com/watch?v=k6YrcyFPSdU
Comment: saya sngat senang dng puisi pk Dany yg pnuh inspiratif dn menyentuh situasi dn kondisi jman sekrang
bagus puisi esainya
Congratulation Pak Denny!
Puisi Esai .. Genre Baru sastra Indonesia
Di era reformasi ini membuat dunia sastra juga berevolusi ..
Rumitnya akar suatu permasalahan menyebabkan banyak faktor yang harus dirunut .. sehingga jika dahulu karya sastra : puisi hanya beberapa paragraf dalam satu halaman .. kini butuh Puisi Esai untuk menampung keseluruhan pesan .. selain agar tidak menjadi multitafsir juga agar penyampaian pesan diterima jelas dan tepat..
Puisi Esai .. Genre Baru sastra Indonesia
Mengingatkan kita bahwa sama seperti dahulu kandungan pesan dalam suatu puisi adalah hal-hal dan permasalahan yang kita temui sehari-hari seperti keindahan alam, kegiatan sehari-hari, karakter manusia dan sebagainya. Tetapi kini hal-hal dan permasalahan sehari-hari itu kian besar dan komplek.
Puisi Esai .. Genre Baru sastra Indonesia
Akan memperkaya khazanah sastra Indonesia ..
Sekali lagi selamat Pak !
jadi mau belajar bikin puisi esai juga…. Pak denny bersediakah menjadi guru saya? Hidup ciputat!!
Luar Biasa… Puisi-puisi Denny JA. sangat mengInspirasi.
Semoga sukses selalu atas karya-karya nya.
Apapun jenis dan genre puisinya,selama itu nyaman dibaca dan pas dihati.aku tetap suka..
)
Seperti puisi2 diatas,semuanya sungguh nyaman dan ngeJLEB banget dihati
Aku sukaaaaa..((y)ˆ⌣’)(y)
Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan, Ada kalah Perpisahan Itu Yang Membuat kita bahagia, Ada juga yang membuat kita sEdih.
Selama Rasa Itu Masih Ada,,BiarKan Rasa Itu Berkembang Oleh adanya Waktu Atau Pun Terkikis Oleh Ada nya Seseorang Yang membuat Hidup Kita Lebih Berwarna ..
Buat om Denny, Semoga Apa Yang diCeritakan Oleh Om Denny Di Web ini Menjadi Daya Tarik Oleh Pembaca-Pembaca Puisi Di Indonesia Maupun Di Luar Indonesia..
1 kesimpulan yang saya ambil dari Bacaan Saya di Tulisan Om Denny. yaitu : Kepribadian Kita Yang buat Hasil Karya Kita Tersebut di Sukai Oleh Pendengar Dan Pembaca
Bicara cinta yg tak pernah habisnya
Semoga cinta kepada illahi robbi dibawa sampai akhir hayat.
Fiksi dan FaktA jadi sebuah cerita sangat menarik utk dibaca
saya suka, awesome banget! teruslah berkarya pak denny
sukses selaluuu !
kemampuanya tidak di ragukan lagi pa denny memang putra terbaik banggsa
karyanya selaluu penomenal
Puisi esai menurut saya lebih mengungkapkan arti sebernarnya sedangkan 5 puisi contoh itu berupa fakta dan opini ! Tetapi saya lebih suka puisi esai karena melihat puisinya dengan pandangan yang berbeda yang cendrung ke fakta ! I like it !!!
Menurut saya puisinya bagus . tapi memeng benar anak remaja sekarang kalah dengan CINTA . disisi lain ada pihak keluarga , tapi disisi lain juga mereka punya HAK untuk menuruti emosi mereka . toh kalau mereka bersama ga ada yang bisa menentukan mereka masuk SURGA atau NERAKA kan ??
#hidup itu pilihan , dan semua orang BERHAK memilih jalannya masing-masing
“Waaa (╥﹏╥) sungguh menyentuh karyax…sy paling suka ttg hal2 diskriminasi..diskriminasilah yg membuat rata2 korbanx begitu populer,,baik itu ttg nabi isa atw yesus,lady gaga dan akhir2 ini yg populer adalah kaum sesama(lesbian dan gay)..seseorg yg tertekan mmg akhirx akan mjd pribai yg sgt kuat dan membuat org2 disekitarx terheran2 oleh wujud dr transformasi yg berhasil…luar biasa sy sgt suka karyax…:D congrat ya kakattt
pertama-tama mau kasih selamat dulu ah ,,, belum smpai 10 hari puisinya udah tembus 550 ribu hits… semoga om denny makin sehat walafiat dan bisa membuat karya-karya indah ,yg nantinya bisa di nikmati publik , congrats ya om ^^
Ini kali pertama saya baca tulisan Pak Denny…Setelah membaca karyanya, ada 3 hal mengenai Pak Denny dan tulisannya, yaitu progresif, inspiratif, dan inovatif..
Salut bua bapak, terus berkarya…
Perbdaan itu jelas nmpak adanya, ttapi dng perbdaan mebuat hidup mnjadi indah. asal jangan saling menghina, pasti kita rkun selmnya. salute buat pak Denny JA,,,dua jmpol buat bliau akn karya2nya…
bener-bener keren..
meskipun ini sebuah puisi, kata2 yang begitu lugas dan sangat sederhana sehingga mudah sekali untuk dipahami..
puisi yang berupa esai pun terbaca seperti novel yang terkemas dengan sajak sederhana..
baru kali ini saya membaca puisi yang sangat mudah dicerna meskipun menggunakan bahasa baku seperti itu…
gag bisa berkata-kata lagu selain mengucapankan “awesome and amazing”
tak henti-hentinya saya membaca puisi-puisi anda yang lain..
romi dan yuli dari cikeusik serta cinta terlarang batman dan robin jadi favorit saya..
salam pak denny
Salut tuk Pak Denny akan puisi-puisinya,membaca puisi esai ini sangat menyentuh hati dan isinya bermakna bagi semua.
Menurut saya puisi esay nya keren2 .. Masing-masing pnya nilai yang bisa d.jadikan pelajaran .. Kisahnya pun menarik menggambarkan berbagai realita n konflik yg terjadi ..
Acungin Jempol deh buat Puisi-puisi Denny JA. Puisinya keren-keren
semoga makin makin makin kreatif lagi. sukses terus ya buat lo !
padat dan kaya nilai didik..
itulah kesan pertama ketika membaca puisi yan berjudul Sapu Tangan Fang Yin. Genre baru yang memberikan informasi bersifat edukatif sangat diperlukan di masa sekarang ini.
Semoga generasi muda tidak enggan untuk berkarya. . .
Puisi Esai, tradisi baru di dunia seni/sastra Indonesia. Jka dibaca kita serasa ikut larut dalam cerita, seperti membaca Novel, Opini dsb. Lebih bagus lagi jika penulis dapat mewujudkan dalam sebuah film layar lebar. karena industri perfilman nasional sangat kering.
Saya kira saya tidak sendiri. Paling tidak, satu dari puisi Denny JA ini mewakilli apa yang saya rasakan dalam hidup saya. Fang Yin seperti teman wanita saya yang akhirnya tidak pernah mau kembali hidup di Indonesia, tetapi memilih Callifornia sebagai tanah untuk menyambung sisa hidupnya. Meski saat tragedi tahun 98 dulu, nasib teman saya ini tidak segetir Fang Yin, namun ia bisa merasakan trauma yang berkepanjangan. Bahkan traumanya itu ikut mencekik saya.
Mungkin bagi kebanyakan orang, tragedi Fang Yin dan tragedi Cikeusik harus mudah dilupakan. Seolah-olah itu jauh dan bukan bagian dari hidup kita. Seolah-olah, sebelum lahir kita sudah memilih untuk lahir menjadi bukan Fang Yin atau bukan menjadi Ahmadiyah, atau bukan menjadi homosex. Seolah-olah bukan Tuhan yg menciptakan mereka.
Lima puisi Denny JA ini bagi saya adalah satu format baru dari perjuangannya untuk ikut membangun peradaban manusia di Indonesia. Bahkan perjuangannya ini adalah perjuangan yang religius.
Semoga sukses selalu dengan terobosan2 di dunia sastra Indonesia. Maju terus dunia sastra Indonesia!
Bagus banget puisinya, terutama untuk masyarakat indonesia, terkadang dimana setiap terjadi sebuah perbedaan terjadi juga perpecahan/pertengkaran perdebatan yg sungguh sangat tidak masuk akal. Justru karna perbedaan itu kita menjadi semakin solid kuat bersatu. Terutama dlm soal perbedaan agama.
cool!
Mengagumkan….!
Sebuah terobosan yang mengagumkan bagi saya, karena selama belajar sastra saya sudah mencari model sastra yang seperti ini di Indo belum ku temukan… tapi karya ini akan menjadi inspirasi bagi penulis lain yang haus akan seni yang bermutu tinggi…
selamat pak Denny…
Membaca puisi esai ini rasanya seperti menceburkan tubuh yang kepanasan kedalam kolam. Kekuatannya ada pada kreativitas yang begitu hidup, kebaruan dan kecemerlangan ide dan praksis. Rasanya seperti mengalami mimpi indah lalu terbangun mendapati semua mimpi itu dalam kenyataan. Luar biasa menyenangkan. Mengusir keboyakan sosial dan penolakan terhadap zona nyaman individu yang keduanya terajut dalam ide dan karya ini: Puisi esai. Salam kreatif.