/1/ Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu, tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu. Korek api di tangan, siap membakarnya menjadi abu masa...
Baca/1/ Juleha namanya, asli Betawi. Sejak remaja Yuli panggilannya – Dan ia suka. Di atas sajadah Masih juga tersedu si Yuli. Jam 3.00 dini hari Ia...
Baca/1/ Aku genggam tasbih itu Selalu. Basah kuyub tasbih itu Oleh air mataku Selalu. Tangan dan bibirku gemetar Menciuminya Selalu. Ampun ya Allah,...
Baca/1/ Sudah tiga kali Amir terbangun lepas tengah malam: Pukul 2.00 dini hari Diselimutinya istri Ia cium keningnya. Ia pun keluar kamar, Duduk di...
Baca/1/ Di nisan suaminya Ia taburkan melati dan kenanga Sambil melafalkan doa Perempuan itu Dewi namanya. Terbius rasa pedih Ia mohon ampun dengan suara...
Baca“Kita di Indonesia, tidak di Amerika. Di sini agama di atas segala Tak terkecuali cinta remaja.”
Baca—Sapardi Djoko Damono, Penyair
Ketika Denny JA mengirimkan sajak-sajaknya yang panjang, ada suatu hal yang menyebabkan saya tertarik untuk mengajukan masalah: apa gerangan...
Baca—Sutardji Calzoum Bachri, Penyair
Tentu saja puisi tidak hanya mengandung puitika. Ia juga bisa mengandung kisah, sikap, opini, argumentasi, esai. Sajak-sajak Rendra, TS eliot,...
Baca—Ignas Kleden, Kritikus Budaya
Licentia poetica dan ambivalensi puisi rupanya bisa menjadi fasilitas yang memungkinkan puisi dimasuki oleh berbagai pihak dengan membawa...
BacaDenny Januar Ali, atau nama populernya: Denny JA lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963; umur 49 tahun adalah intelektual enterpreneur atau enterpreneur intelektual. Ia banyak membuat...
Baca—Sutardji Calzoum Bachri, Penyair
Bagi saya, puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi, bisa memberikan kepintaran bagi...
Baca
Klik di sini untuk melihat Berita / Peristiwa
yang berkaitan dengan Puisi Esai Denny JA